Apa Judulnya?

Seorang anak perempuan kecil berkeliaran sendiri di semesta Anak Beruang.

“Itu siapa, ya…?” tanya Anak Beruang di dalam hati.
“Itu Tanya,” sahut angin yang dapat mendengar batin Anak Beruang.
“Tanya? Dia siapa? Dari mana? Kok bisa ada di sini?” lagi-lagi Anak Beruang bertanya
“Mei ini kamu akan mendapatkan jawabannya,” lagi-lagi angin menyahut sambil bertiup pergi entah ke mana seperti biasa.

Tiba-tiba anak perempuan itu melirik Anak Beruang. Keduanya lantas bertukar pandang penuh pertanyaan. Hanya pertanyaan, tanpa kecurigaan.

***

Di edisi 177 ini www.salamatahari.com berkolaborasi dengan Vianditya Dewanta. Kami masih bertanya-tanya kira-kira apa judul yang cocok untuk proyek ini. Tapi yang pasti kita akan menyusuri bulan Mei bersama Anak Beruang dan Tanya. Anak Beruang adalah kuncen kecil zine-zine-an online ini sementara Tanya adalah gadis mungil ciptaan Vian.

Selanjutnya akan ada apa lagi …?

Nanti kita lihat, ya …

Semoga kolaborasi ini akan membawa banyak keseruan dan inspirasi

Salamatahari, semogaselaluhangat dan cerah,
Sundea dan ViandityaDewanta




Edisi 2: Mencari Jawab

Setelah angin pergi, Anak Beruang dan Tanya berdiri berhadap-hadapan. Keduanya saling memindai. Anak Beruang besar dan berbulu, sementara Tanya mungil dan berkulit licin. Mata Anak Beruang besar dan lebar, sementara mata Tanya sipit dan kecil. Tapi mereka berdua mengenakan topi perahu kertas yang sama. Mungkin karena kepala mereka seperti lautan pikiran ajaib, perahu kertas itu seperti berlayar di sana.

“Sebelum kamu bertanya, aku beri tahu, ya. Namaku Tanya. Dan sebelum kamu bertanya lagi, nama depanku bukan Tanda. Aku sedang mencari Jawab,” cetus Tanya tiba-tiba.
“Jadi Tanda itu nama depan Jawab?” tanya Anak Beruang sambil menggaruk-garuk perutnya yang gendut.
Tanya mengerutkan kening, ia tidak tahu Anak Beruang bercanda atau serius.


Anak Beruang sering sekali bertanya tentang ini dan itu. Kadang tanya-tanya itu mengantarnya pada jawab, kadang juga tidak. Tapi Anak Beruang selalu senang bertanya, karena perjalanan mencari jawab selalu menarik untuk ditempuh. Maka tahu-tahu matanya bersinar cerlang.

“Eh, Tanya, kalau kita cari, apakah Jawabnya harus ketemu?” tanya Anak Beruang dengan suara riang.
“Ummmh …,” Tanya jadi bertanya-tanya sendiri. Apa, sih, sebetulnya maksud Anak Beruang ini?
“Nah. Kalau tidak harus, ayo kita cari!”


Selingan: Chitchatchitchat

Ini adalah obrolan Anak Beruang dan Tanya. Sekadar selingan di sela cerita bersambung mereka yang hadir setiap hari Kamis. Melalui zine-zine-an online ini, mungkin kamu sudah mengenal Anak Beruang. Tapi kamu pasti belum mengenal Tanya...
Ok. Tulisan yang dicetak tebal adalah kata-kata Anak Beruang. Sementara yang dicetak miring adalah kata-kata Tanya.


Tanya, aku boleh tanya-tanya tentang kamu nggak?
Sebenarnya aku lebih suka dianggap misterius, terdengar keren kan, tapi oke deh, aku akan coba menjawab.

Edisi 3: Retoris

Tanya sempat berpikir ia sudah menemukan Jawab. Tetapi karena Anak Beruang membawanya melesat cepat sekali, ia kehilangan jejak. Akhirnya Anak Beruang berhenti di dekat sebatang pohon jangkung, dekat aliran sungai. Ketika melihat kemilau cahaya matahari di permukaan sungai, Anak Beruang berlari-lari menyongsongnya. Ia lupa pada Tanya yang sedang digandengnya. Jadi ketika Anak Beruang melepaskan gandengannya, tak sengaja Tanya terlempar.



“HUH! Anak Beruang!” protes Tanya.
“Eh…aduh, maafkan aku, aku lupa,” merasa bersalah, buru-buru Anak Beruang menghampiri Tanya.
“Kamu itu bukannya mencari, tahu. Kamu cuma lari-lari. Kalau kamu lebih pelan-pelan, kita pasti sudah menemukan Jawab!”
“Iya, ya?”
Tanya bangkit berdiri. Ia membersihkan debu-debu yang melekat pada bajunya, kemudian memperbaiki topi kaptennya yang miring. Selanjutnya Tanya memperhatikan sekitar. Entah mencari Jawab atau sekadar ingin memperhatikan saja.

Ending-si 3: Akhir Dari Segalanya

Tanya dan Anak Beruang duduk di pinggir sungai yang mengalir. Tanya bersidekap menatap aliran sungai, sementara Anak Beruang mengais-ngais tanah dengan ranting. Keduanya punya pikiran yang sama. Ke mana lagi mereka harus mencari Jawab? Ini pertanyaan sungguhan. Bukan pertanyaan retoris.

Tiba-tiba Awan hitam menggulung cahaya matahari. Langit menjadi gelap. Angin mulai bertiup kencang dan pucuk-pucuk daun bergoyang-goyang gelisah. Petir bergemuruh. Anak Beruang mencolek Tanya dengan ranting yang sedang digenggamnya.

“Mau hujan,” kabar Anak Beruang.
“Lalu?” 



Dan hujan turun. Langsung deras. Anak Beruang kembali menarik tangan Tanya dan membawanya berlari mencari tempat berteduh. Akhirnya mereka menemukan sebatang pohon yang besar, rimbun, dan kokoh sekali.

“Huh! Hujan lagi! Kita belum meneukan Jawab! Menangkap jejaknya pun belum,” gerutu Tanya ketika mereka sudah duduk-duduk di bawa pohon.
“Kan kita tidak harus menemukannya. Yang penting kita mencari,” tanggap Anak Beruang.

Tanya lalu tengadah menatap pohon yang menaunginya. Keningnya berkerut sejenak. “Anak Beruang, pohon yang ini lebih tinggi, nggak dibanding pohon yang tadi?” Tanya kemudian bertanya.