Minta Maaf Pada Diri Sendiri

Nuansa perayaan Idul Fitri mulai reda. Arus balik mengantar pemudik meninggalkan kampung halamannya, kembali kepada rutinitas yang memberi mereka hidup. Keluarga besar yang tadinya berkumpul rapat, kembali sepai seperti remah. Tiap individu kembali kepada dirinya masing-masing.


Setelah saling bertukar maaf dengan kerabat dan keluarga, kini saatnya kita meminta maaf pada diri kita sendiri. Adakah kegagalan-kegagalan yang masih membayangi? Kesalahan masa lalu yang membuat kita takut melangkah? Atau tindakan yang menimbulkan dampak sosial-psikologis terhadap diri kita sendiri?

Sadar ataupun tidak, kadang-kadang kita menghukum diri lebih keras daripada Tuhan yang maha pengampun. Kita berhenti pada penyesalan, namun lupa memaafkan.

Sesal adalah pintu menuju kesadaran,
tetapi maaf adalah gerbang menuju kebebasan.

Maka, semoga langkah kita cukup panjang dan hati kita cukup lapang …

Salamatahari, semogaselaluhangat dan cerah,
Sundea


Cerita Dinda Puspaningtyas. Ada Sepenggal “ASI” Pada “Kasih”

dindanuSebagai seorang ibu, apa yang kamu rasakan jika kamu tak bisa memberikan ASI eksklusif kepada buah hatimu? Bukan karena kamu tidak mau. Kamu tahu ASI adalah yang terbaik. Kamu pun sangat sangat ingin mengantar darah dagingmu bertumbuh dengan air susumu sendiri. Namun keadaan berkata lain. Sekeras apapun kamu berusaha, ASI-mu tak dapat tercurah sempurna. Padahal waktu terus bergerak, dan usia si kecil terus bertambah. 

Dinda Puspaningtyas adalah ibu muda yang pernah mengalami situasi itu. Ia sempat dirundung frustrasi dan rasa bersalah. Ada perasaan gagal sebagai ibu yang begitu menghantu. Danuja – putera semata wayangnya – menjadi gelisah dan kelaparan. Sementara itu Dinda terus berusaha memperbanyak produksi ASI-nya. 

Segalanya teratasi justru ketika Dinda berhenti memaksakan. Meminta maaf kepada diri sendiri. Menerima keadaan. Memberikan apa yang mungkin diberikan. Simak cerita Dinda. Mungkin ada di antara teman-teman yang lantas tercerahkan ;)

Habis Gemini, Terbitlah Chaos–Surat untuk Acha Salim


Sedikit pengantar dulu, ya ….

Beberapa waktu yang lalu, salah satu temen Dea dari penerbit Trans Media ngehubungin Dea. Dia nanya,
”Eh, lo suka zodiak kan? Ini ada penulis namanya Acha Salim, yang bikin buku tentang pengalaman kencannya sama cewek dari dua belas zodiak yang berbeda..."
”Wuih, dahsyat amat …”
“Lo mau baca yang Gemini nggak? Nanti komentar cocok apa enggaknya sama elu … hehe..."
“Boljug. Sini kirimin tulisannya …"

Lalu datanglah buku yang judulnya “Zodiac Date” itu.

Zodiac Date - Cover

Kalau menurut Dea, gaya PDKT Acha adalah cara Acha minta maaf pada dirinya sendiri pasca patah hati. Begini tulisnya,

Kejadian itu mengubah gaya pendekatan gue dari yang tadinya malu-malu stalking, sekarang gue mencoba untuk jadi lebih berani, straight to the point dan meyakinkan. Soalnya orang bilang, cewek suka cowok yang tegas.

Jadi, kayaknya artikel kesuratsuratan yang bakal Dea tulis ini cocok sama tema salamatahari edisi 167.


Waktu baca cerita dan pendapat Acha tentang cewek Gemini… … banyak benernya … tapi mungkin ada beberapa catetan penting yang kayaknya Acha perlu tau tentang The Geminis ;)

Jadi, seperti Kartini ke J.H Abendanon, ceritanya Dea nulis surat buat Bung Acha …

ACT6

Info(rgive)tainment






Adakalanya masyarakat yang terlihat buas dan pedas,
memaafkan kita lebih cepat daripada diri kita sendiri.

Selamat Idul Fitri

Mohon maaf lahir dan batin …

Sundea