Esa

Meski Kamus Besar Bahasa Indonesia menerjemahkan “esa” sebagai “tunggal” atau “satu”, Bahasa Sanskrit yang menjadi akarnya menjelaskan “esa” sebagai “act of seeking”, “search”, atau “wish”. Bukan tanpa alasan jika saya menyimpulkan bahwa “esa” pada sila pertama Pancasila memiliki makna yang lebih cair dan kontempelatif daripada sekadar “Tuhan yang maha satu-satunya”. Tuhan Maha Esa. Bukan Maha Eka. 

Karena Tuhan itu esa, ia hadir dalam pencarian dan harap. Dan karena ia bukan eka, keberadaannya tidak terbilang. Tuhan hadir dalam bentuk yang sangat personal untuk setiap kita yang mencari. Itu sebabnya, kita tak pantas menghakimi. Tak sebaiknya pula memagari Tuhan sebatas hukum dan kitab.

Di www.salamatahari.com edisi 168, ada obrolan seputar “tunggal” dan “esa” bersama Rukmunal Hakim. Keesaan Tuhan pun hadir dalam rubrik #kresekadalahtuhan dan lamaran pekerjaan yang dijajar sebagai karya.

Karena Tuhanitu esa, …

Isilah sendiri titik-titik itu dengan apa yang kau yakini ^^

Salamatahari, semogaselaluhangat dan cerah,
Sundea 


Rukmunal Hakim Berpameran Tunggal, Bukan Berpameran Esa


hakim lagi gambarSepenggal obrolan pada suatu siang, membuat Dea secara impulsif terdorong untuk menanggap Rukmunal Hakim sebagai penyalamatahari di edisi 168. “Tapi terbitnya besok pisan, nih,” kata Dea. Untungnya Hakim tidak keberatan. Di sela rutinitas keseharian masing-masing, Hakim dan Dea mengobrol via whats app. 

Kebingungan. Yang tunggal. Yang esa. Rutinitas. Sampai pertanyaan yang merangkum hidup. Dan pada akhirnya, obrolan ini pulalah yang meyakinkan Dea untuk jangan sampai absen menerbitkan zine-zine-an online ini secara disiplin, dan mempersembahkan rangkaian posting hari ini.



Hela


-Angkot Cicaheum Ledeng, Sabtu 22 Agustus 2015-

Tuhan yang esa duduk di kursi artis. Angin menyedotnya keluar angkot, namun selalu meniupnya masuk kembali. Ketika perutnya mengembung dan mengempis, saya tahu ia sedang bersenandung lirih. Telinga saya masih dapat mendengarnya. Meski dengan mengepung serapat-rapatnya, kebisingan jalan raya berusaha menelan suaranya.

Hukum Mencari dan Menemukan


-Galeri Nasional, Rabu, 19 Agustus 2015-

Pameran Seni Rupa Langkah Kepalang Dekolonisasi
“Negosiasi dan Agresi” adalah tema kecil di tengah pameran seni rupa yang lebih besar, “Langkah Kepalang Dekolonisasi”. Perhelatan ini digelar di Galeri Nasional pada tanggal 19 sampai 30 Agustus 2015, dalam rangka ulang tahun ke-70 Republik Indonesia.

Pada sebidang dinding putih dan keesaannya, takdir mungkin memilih sendiri apa yang ingin dipaparkannya pada dunia. Dinding itu sempat polos melompong karena tak ada karya yang dapat ditempel di sana. Hingga pada waktu yang sudah sangat mendesak, kelompok seniman dari Serikat Geriliya Nusantara menemukan sebundel lamaran pencari kerja dan neon yang terbuang di tumpukan sampah. Mereka lantas merespon benda temuan itu menjadi karya yang sangat berbicara:
 

Pameran Gagasan Getok Tular


Getok Tular artinya sesuatu yang disampaikan dari mulut ke telinga - mulut ke telinga. Semoga lewat penggetoktularan ini, gagasan-gagasan baiknya bisa terus tersampai dan berkembang.

Ke sini yuk ^^

Salamatahari ikutan bagi-bagi cerita seputar gagasan