Renjana

Kamus Besar Bahasa Indonesia menjelaskan “renjana” sebagai rasa hati yang kuat (rindu, cinta, berahi, dan lain sebagainya). Tetapi belakangan, “renjana” juga digunakan sebagai padanan kata passion. Di dalam blognya, Paramitha Mohamad menjelaskan mengapa “renjana” dipilih untuk menerjemahkan kata passion, dan saya sepakat dengan pilihan itu.

Renjana adalah chip kecil yang terselip di sela-sela kekompleksan kita. Ia tak selamanya hadir dalam definisi yang terpetakan, namun disadari maupun tidak, sesungguhnya setiap kita mengenali tuntunannya. Renjana adalah hal paling tulus yang kita lakukan terus menerus, karena kebahagiaan kita ketika melakukannya priceless adanya.

Ketakutan pada realitas seringkali memaksa kita mematisurikan renjana. Tetapi renjana tidak pernah mati. Ia tak banyak menuntut jika kita abai padanya, dan terlalu santun untuk menyelak jika tak diberi kesempatan untuk membahagiakan kita. Kepercayaan kita padanyalah yang membuat renjana leluasa bertumbuh, menemukan bentuk, kemudian menjadi sesuatu yang menjaga hidup kita tanpa kekang.

Jika bermusik dan mencatat kisah memberimu kebahagiaan tak terperi,
itulah renjanamu.

Jika kasihmu pada seseorang tidak dapat dibatasi oleh apapun,
dialah renjanamu.

Jika peristiwa-peristiwa terkecil yang dilakukan kucing-kucingmu senantiasa menjadi kebahagiaan terbesarmu,
merekalah renjanamu.

Dan jika sejak muda hingga usia senja tanganmu selalu ingin bergerak terampil menghasilkan sesuatu,
itulah renjana yang setia tumbuh bersamamu.

Kamu tahu apa hal yang paling kau cintai.
Jangan ingkari.
Pelihara renjanamu, dan tumbuhlah bahagia bersamanya ^^

Salamatahari, semogaselaluhangat dan cerah,
Sundea

coveresized aplot

Panta Rei

semacam review album Anak Sungai Deuagalih and Folks

cover anak sungaiAnak Sungai mengalir. Kendati tidak tergesa, ia tidak pula tertahan. Permukaannya jauh dari jernih, bahkan cenderung keruh. Tetapi gemericiknya yang alami, lunak memanggil saya. Saya mendekati Anak Sungai seperti ngengat mendekat pada cahaya.

Ternyata Anak Sungai membawa banyak sekali cerita. Ia yang sepertinya sudah menempuh perjalanan sangat jauh, tak mengingkari kisah apapun yang ingin ikut mengalir bersamanya. Di sana saya menemukan persahabatan Galih dan Yadi yang terhanyut dalam lagu “Anak Sungai”, percik kelincahan anak-anak yang bermain dalam “Bunga Lumpur”, “Minggu Pagi”, dan “Ilalang”, cipratan yang membuat basah kuyub dalam “Heyya Kid”, muskalisasi puisi “Buat Gadis Rasid”-nya Chairil Anwar yang membenamkan kita, lalu kita menyembul kembali dalam kesadaran bersama “When No One Sings This Song”, dan belajar mengapung bersama “Earth”.

Terakhir, ketika mencelupkan kaki saya ke air Anak Sungai yang dingin, sekumpul endapan berenang menggulung kaki saya. Ada lumpur yang datang bersama air pembasuhnya. Saya merasakan sensasinya. Yang mengotori dan yang membersihkan menciptakan ketaksaan di kulit saya. “Becoming White” lalu mengejankan kisahnya dalam suasana yang muram,

Renjananjar Anastasia – Yang Sejati Tersimpan di Dalam Rasa

mbak anjar nulisNamanya Anjar Anastasia, seorang penulis dengan energi besar. Sudah lebih dari dua dekade ia konsisten berkarya dengan tulisan-tulisannya. Mulai dari cerpen yang kerap dimuat di berbagai majalah, skenario film pendek, puisi-puisi, sampai novel. Ia pun sering membagi ilmu menulisnya di mana-mana. “Karena motto saya, menulis adalah berbagi hidup,” ungkap Mbak Anjar. 

Dari antara sekian karyanya, terselip sejilid novel bertajuk Renjana. Kendati begitu, ia tak berani berkomentar banyak mengenai kata “renjana” yang kini disepadankan dengan passion. Mengapa?

Yuk mengobrol dengan Mbak Anjar …

Sekadar Basa-basi

bobo1

Zzzzz ... puuuurrrr

nongol

“Hei, hei bangun, beri salam yang sopan pada Anak Beruang …”

Kisah di Bawah Bendera*

Angin membawa kelirisan yang tak pernah basi. Ia meniup kincir yang berjajar empat di depan sebuah rumah sederhana di bilangan jalan Gempol, Bandung. Keempat kincir itu berputar. Tidak serentak, namun mencipta harmoni.

Di sisi mereka, seorang bapak tengah asyik membuat kincir serupa. Jemarinya tak menjadi tremor dimakan kesenjaan usianya. Konsentrasinya pun tercurah penuh saat menekuni kerajinan tangan tersebut. 


Quarter Life Crisis

artikel ini di-repost dari tulisan Dea sendiri di sini.
 
Sekitar seminggu yang lalu, salah satu temen Dea yang kerja di Jakarta pulang ke Bandung. Kami ketemuan sambil ngobrol-ngobrol. Seperti biasa – mungkin karena dia Aquarius =p – obrolan kami berkembang ke mana-mana, tapi seru dan nggak abis-abis. 

Di salah satu episode obrolan kami hari itu, temen Dea ngebahas tentang quarter life crisis. Dia ngerasa sedang ada di masa itu dan tampak lumayan galau. Dia mulai mempertanyakan tepat atau enggaknya pilihan dia, gelisah sama achievement, dan banyak dinilai sekaligus dituntut sama orang-orang di sekitar. Dea ngedengerin ceritanya dan – jarang banget nih – ngerasa udah agak lebih dewasa. Bukan apa-apa. Ngedenger cerita dia bikin Dea ngerasa mundur beberapa taun. Been there.  

Nggak sampe seminggu kemudian, tanpa ada pemicu apa-apa, Dea tiba-tiba mimpiin temen Dea yang lain. Karena mimpinya agak sedih, Dea nge-whats app dia sekadar untuk nanya dia baik-baik aja apa enggak. Ternyata apa yang Dea mimpiin kurang lebih sama seperti situasi si temen Dea saat itu (ngeri nggak, sih?). Isunya lagi-lagi quarter life crisis. Meskipun bukan dia yang secara langsung ngalamin, imbasnya cukup besar buat dia.

kamu