Mata


Seperti cinta, mata adalah topik yang terlalu sering dibahas. Tetapi – juga seperti cinta – apa yang dapat dilakukan mata menyusup di hampir segala aspek kehidupan kita. Ia melihat, memandang, mengerling, membelalak, mengerjap, terpejam, menonton, dan menangis. Ia dianggap sebagai jendela jiwa dan menjadi metafor yang representatif untuk banyak hal. Ia kecil namun kompleks, klise namun tak pernah betul-betul basi.

Pada edisi ini, www.salamatahari.com hadir dengan beberapa posting seputar mata. Ada mata rantai untuk bencana Garut, cerita di balik mata Rudi, sudut pandang medis dari calon dokter Nindya Lubis, mata bunglon sebagai metafor kehidupan pernikahan, serta ajakan untuk menonton konser “Destiny” 25 September 2016.

Adakalanya warna dan detail yang mampu dilihat mata telanjang tak berhasil ditangkap sempurna oleh kamera. Zine-zine-an online edisi ini pun seperti kamera. Ia terlalu terbatas untuk  mengantar segala cerita yang mampu dipersembahkan oleh mata.

Semoga setidaknya rangkaian posting ini memberimu pilihan sudut pandang

Salamatahari, semogaselaluhangat dan cerah,
Sundea




Mata Rantai untuk Garut

Mata biologis kita mungkin tak bisa melihat jauh sampai ke Sumedang-Garut. Tapi mata hati kita punya kapasitas untuk melihat sejauh-jauhnya.

Pada tanggal 20 September 2016 lalu, hujan deras yang tidak berhenti sejak pukul 18.00-00.00 mengakibatkan banjir dan longsor yang cukup serius di wilayah Sumedang-Garut. Berdasarkan informasi dari Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), longsor terjadi di tiga titik sepanjang jalur Cadas pangeran yaitu di Ciherang, Ciguling dan Singkup. Bencana ini memakan korba jiwa dan menimbun rumah-rumah.

Banjir setinggi 30, 50, 70, bahkan 160 cm menggenang di beberapa tempat. Kabar terakhir yang saya terima, bencana ini memakan lebih dari 20 orang korban jiwa. Korban yang masih bertahan -- terutama anak-anak -- sangat membutuhkan makanan dan pakaian. Kemarin (21/9) mereka dikabarkan terancam tidak makan siang.

Jika ada yang tergerak untuk membantu,  dapat menghubungi:

Romo Darwanto Pr (081220999699)    
Direktur Caritas Keuskupan Bandung Romo Wahyu Pr (082116008803)         
Pastor Paroki Garut

Sumbangan dalam bentuk uang dapat dikirimkan ke

BCA No. 7770954333 atas nama Caritas Bandung Keuskupan Bandung 
atau 
BCA 4460265555 atas nama PGAK Bunda Maria, Gereja Katolik Garut. 

Semoga mata rantai ini dapat saling menyambungkan kebaikan ...

Sumber penyaluran bantuan ini dapat dipercaya. 

gambar dipinjam dari sini



Nindya Lubis: “Mata Itu Mikroskopis dan Punya Sistemnya Sendiri”

Namanya Nindya Lubis. Puteri almarhum dokter mata dan pilot Norman Lubis ini tengah mengambil program spesialis mata. Di tengah segala kesibukan yang ketat mengikat, Nindya masih sempat menjawab pertanyaan-pertanyaan hore dari www.salamatahari.com.

Mengapa nona cantik ini mengambil program spesialis mata? Apa penemuan di bidang kedokteran mata yang paling menarik baginya?  Bagaimana seorang calon dokter menjelaskan istilah “mata adalah jendela hati” ?  Apa cerita Nindya mengenai almarhum papanya?

Semua jawabannya ada di wawancara berikut ini…

Rudi

Semacam Review "Ruang Sendiri" - Tulus



Namanya Rudi. Ia adalah lagu yang tidak pernah datang sendiri. Aransemen alias Aran menemaninya ke mana-mana. Hari itu, di pesta ulang tahun teman kami, seperti biasa Rudi datang bersama Aran.

Mereka adalah pasangan yang membuat iri siapa saja. Rudi tampan dan gentle sementara Aran manis dan ramah. Mereka selalu bergandengan tangan, duduk berdekat-dekatan, dan mudah disayangi karena tak pernah punya kesulitan untuk mingle dengan siapapun.

“Semua untuk Rudi,” ungkap Aran dengan suaranya yang lentur dan lincah seperti harmonika. “Panggung dipersembahkan untuk Sang Lagu. Aku hanya mengiringi dan membuatnya lebih catchy bagi siapapun,” tambah Aran sambil melirik Rudi.
Rudi tersenyum santun. Tapi tepat pada saat itu, saya melihat sesuatu yang ganjil di mata Rudi. Sorotnya tidak cemerlang, justru pasi dan keruh. Genggam tangan Aran seperti tali yang membuat Rudi tak dapat ke mana-mana. Ketika Aran menatap lurus penuh sayang kepada Rudi, Rudi seperti cermin yang memantulkan kelapangan semu.



“Mas Rudi, Mbak Aran, Kalian relationship goals banget, deh. Aku foto, ya, pose, dong,” tiba-tiba seorang gadis remaja berdiri di sebelah saya.
Rudi memeluk Aran rapat ke sisinya. Tetapi lagi-lagi saya menangkap pesan selintas di mata Rudi. Dekapan itu tidak hangat. Di mata Rudi, Aran hanya seperti sebatang pohon besar. Kokoh dan tak bisa ke mana-mana karena terikat akar. 



Mata Kermit Ikano

Bunglon ini pertama kali ke-gep ada di rumah IkanPaus dan Dea pada suatu siang, ketika dia lagi nangkring di kursi rotan kami. Waktu itu Ikan Paus dan Dea baru pulang bayar listrik. Pas kami buka pintu, si bunglon tampak kaget. Dia langsung lompat turun dari kursi rotan, mengendap-endap di lantai, terus ngibrit ke kebun. 



“Kenapa dia harus ngendap-endap dulu, nggak langsung lari aja?” tanya Dea ke Ikan Paus.
“Karena dia pikir dia nggak keliatan. Dia kira warna dia sama sama lantai kita,” saut Ikan Paus.
“Terus kenapa dia nggak nyamain warnanya sama lantai kita? Dia kan bunglon.”
“Perubahan warna bunglon sebenernya terbatas. Paling jauh dia cuma bisa berubah warna jadi abu-abu.”
“Oh, gitu ya, aku baru tau.”

Pengantar Menonton Takdir dari Victor Murdowo

foto: Christian Nathanael
Salah satu program yang diadakan Bandung Philharmonic Orchestra adalah Conducting Fellowship.  Dalam setahun, Bandung Philharmonic Orchestra melatih beberapa conductor muda berpotensi. Mereka diberi kesempatan belajar meng-conduct bagian-bagian lagu yang akan dibawakan dalam konser. Infromasi lengkap tentang program ini bisa dilihat di sini.

Victor Murdowo adalah satu di antara tiga conductor muda yang beruntung.Pria kelahiran 17 Juli 1983 ini adalah arranger, composer, pemain musik multi-instrumentalis, dan conductor di beberapa orkestra seperti GKI Kebon Jati dan PADU orkestra.

Berikut adalah obrolan singkat Bandung Philharmonic Orchestra dengan Victor.