Edisi 106 : 26 Januari 2012

Naga

Legenda mengenal hewan yang sering dikategorikan sebagai ular ini. Dalam berbagai budaya, ia hadir dengan berbagai karakter khas. Di Eropa, naga adalah hewan bersayap yang sering dikisahkan bertarung dengan pangeran di seputar kastil. Di kisah Mahabarata India, naga bersepupu dengan garuda. Sementara di Cina, naga adalah hewan dengan kekuatan magis dan sering diasosiasikan dengan kebijaksanaan.

Minggu ini, www.salamatahari.com berbagi cerita mengenai pameran “ar(t)ship” IVAA, hal tergaring yang pernah dialami Ibnu Nadzir, petualangan ajaib Darso dan Ali, dan tulisan kecil seputar prasangka yang mengantar Si Dea pada simpulan “tak ada judging yang tak retak”.

Mungkin kamu bertanya. Apa hubungan posting-posting tersebut dengan judul “Naga” yang dipilih untuk edisi ini? Jawabannya, “Naga” di edisi 106 adalah kependekan dari    NAAAA … GARING, BUKAN ?

Lalu untuk apa Salamatahari membuka paragraf inti matahari dengan kisah seputar naga yang seperti ular itu? Ya itu dia, Teman-teman.

NAAAA …. GARING,  BUKAN ?

Baiklah. Akhir kata, selamat memasuki tahun naga air dan menikmati persembahan zine-zine-an online minggu ini.

Salamatahari, semogaselaluhangat dan cerah,

Sundea

This Ship Is Called Ar(t)Ship

-Ruang Rupa, Minggu, 22 Januari 2012-

Copas- Pameran Arsip IVAA 


Teman-teman, anggap saja liburan panjang sudah tiba. Jadi, mari kita berlayar melintasi perjalanan seni visual dari masa ke masa. Indonesia Visual Art Archive (IVAA) membuatkan “ship”-nya. Dengan data-data yang terkumpul, mereka “merakit” serial katalog yang terbagi dalam empat kategori: Reka Alam, Rupa Tubuh, Kolektif Kreatif, dan Interkultur. Keempat seri katalog yang dilengkapi CD-ROM ini merupakan produk pengetahuan dari kerja dokumentasi IVAA untuk pengembangan wacana pengetahuan masyarakat kontemporer. “Katalog-katalog ini rencananya ditaruh di lembaga-lembaga pendidikan Seni Rupa,” ungkap Jessica, mahasiswa Sastra Perancis yang menjadi volunteer acara bertajuk COPAS (Copy Paste) tersebut.

COPAS adalah rangkaian acara “angkat sauh” dalam pesiar melayari perjalanan seni visual Indonesia. Termasuk di dalamnya pameran arsip IVAA yang berlangsung tanggal 20 Januari – 3 Februari 2012 di 

Darso dan Ali Mau ke Mana

Toweweweweng !

Tiba-tiba saja sepasang manusia kartun muncul di balik layar laptop saya. Mata mereka bulat besar. Bibir mereka manyun. Tubuh mereka kurus kering. Dengan semena-mena mereka mengetuk-ngetuk layar laptop saya.

“Permisi, permisi, apakah kami boleh numpang ngemsi?” tanya salah satu dari mereka.
“Hah? Ngemsi gimana? Nggak ada hajatan di sini,” sahut saya.
“Kalau begitu numpang cerita boleh, ya. Buka dong jendelanya …”
“Jendela apa? Ini layar laptop, Bro, bukan jendela,” sahut saya lagi.
“Tapi programnya kan Windows,” sahut mereka berdua barengan.
“Oh, iya, ya … hahahaha …”

Ibnu Nadzir, Seekor Kelinci yang Salah Duga

ibnuresized Namanya Ibnu Nadzir. Lahir di tahun 1988 membuatnya sempat merasa bernaung di bawah shio naga. Bertahun-tahun kemudian, barulah ia menyadari bahwa sesungguhnya ia masih lahir di bawah naungan shio kelinci. Ibnu yang lahir pada tanggal 8 Februari belum melewati pergantian tahun baru Cina.

WAKWAW







Prasangka

“Ih, sayang banget, ya, cewek begitu cantik mainnya sama oom-oom,”
“Siapa tau bapaknya.”
“Naif banget, sih, lo?”
Dea cuma nyengir. Males berdebat.


Dea inget bertaun-taun yang lalu ada temen Dea yang misuh-misuh karena dituduh main sama oom-oom. Ceritanya dia baru pulang fashion show. Karena acaranya malem, bapaknya ngejemput. Pulang dari sana mereka makan keluar.