Sub

Di luar segala sesuatu yang menjadi pusat, “sub” bertebaran menjalankan perannya. Mereka tak terjangkau sorot lampu, kerap luput terperhatikan, bahkan tak jarang dianggap kurang penting dan dilupakan. Padahal “sub” justru sering menentukan apa-apa saja yang bergerak di tengah-tengah lingkaran.

Beberapa minggu lalu, saya dan suami berkesempatan mengunjungi kakak kami di Melbourne. Di antara sekian cerita di sana, ada sub lokasi, tokoh, dan peristiwa yang justru saya anggap paling menarik untuk dicatat. Ada Noble Park, daerah sub urban yang unik seperti Afrika kecil. Ada Tante Kesenian di Flinder Street yang sejenak menyita perhatian saya. Ada Bella, sub anggota dalam keluarga, beruang kecil kesayangan Annika, keponakan saya. Dan sebagai penyalamatahari, hadir Dimas Ario yang juga sempat berkunjung ke Melbourne dan menyaksikan musik-musik non mainstream.

Pada hal-hal yang subtil saya sering menemukan ketulusan yang sahaja, esensi segala sesuatu, dan hal-hal yang perlu dicermati untuk menyadari apa-apa yang muncul di permukaan. Saya selalu menyimpan yang “sub” sebagai mutiara paling berharga dari setiap perjalanan.

Maka di edisi ini tidak ada posting mengenai tempat wisata dan foto-foto cantik
Saya tak ingin membagi “kerang”-nya.
Karena teman-teman sungguh berharga, saya ingin membagi “mutiara”-nya…

Salamatahari, semogaselaluhangat dan cerah,
Sundea


Agenda Wajib Baru Dimas Ario


foto: Muhammad Asranur.
Nama Dimas Ario tidak asing di kalangan pencinta musik indie. Selama lebih dari satu dekade, lelaki Virgo ini konsisten bergerak di dunia tersebut. Selain pernah menjadi personil band indiepop Ballads of the Cliché, Dimas juga terkenal dengan mixtape-mixtape-nya, pernah mengasuh program “Pop Circle” di Rase FM, dan aktif membuat ulasan-ulasan musik. Saat ini Dimas berprofesi sebagai kurator musik.  

Beberapa waktu yang lalu, Dimas dan istrinya, Nastasha Abigail, berlibur ke Australia dalam rangka menemani Oma mereka (87 tahun) yang baru ditinggal meninggal oleh Sang Opa Januari lalu. Di sela-sela itu, Dimas dan Abigail sempat mampir ke Melbourne untuk menyaksikan pertunjukan musik di sudut terpencil, Yarra.

Mengapa Dimas lebih menikmati pertunjukan musik yang ditontonnya di Melbourne ketimbang di Sydney? Berikut ceritanya…

Mulia

-Melbourne, 30 Maret 2017-

Noble Park

“Itu apa? Kok ada Afrika-afrika?” saya menempelkan wajah saya ke jendela kereta.
“Nanti abis dari Springvale kita balik lagi aja ke situ. Mau?” tanya suami saya.
“Mau.”

Di Melbourne yang multikultural, kita seakan bisa melintasi benua dalam beberapa menit saja. Setelah mampir di Springvale, sebuah Vietnam kecil, kami bergerak ke Noble Park. Noble Park bukan tempat yang terlalu populer. Dia bukan daerah wisata dan jauh dari keramaian. Tetapi di salah satu sisi jalannya yang mirip Afrika kecil, kami menemukan hal-hal yang unik dan otentik.

Cerita Ibu Beruang

Merpati Pos terbang menuju rumah Anak Beruang. Ia membawa selembar kartu di paruhnya. Anak Beruang menyambutnya dengan suka ria. Meski tak bisa membaca, Anak Beruang selalu senang mendapat surat dan kartu. Ia tahu selalu ada kabar atau pesan di sana. Biasanya penuh kejutan.  

“Terima kasih, Merpati,” kata Anak Beruang setelah kartu pos sampai di tangannya.
“Terima kasih kembali,” sahut Sang Merpati seraya menukik, terbang lagi untuk mengantar pesan-pesan selanjutnya.

Sepeninggal Merpati Pos, Anak Beruang membulak-balik kartu yang baru diterimanya. Ada foto beruang kecil berbulu pelangi di sana. Siapa dia? Buru-buru Anak Beruang berlari-lari mencari Ibu Beruang.



“Ibu, Ibu, ada kartu pos. Ini siapa? Apa tulisannya?” dengan tidak sabar Anak Beruang menyerahkan kartu itu kepada Ibu Beruang.
Ketika Ibu Beruang senyum-senyum membaca pesan yang tertulis, Anak Beruang yang sangat penasaran jadi gelisah seperti kebelet pipis.
“Siapa dia? Apa tulisannya?” Anak Beruang mengulang pertanyaannya.
“Ini Bella. Famili kamu yang tinggal jauuuuh…di Melbourne, Australia…”
“Astra …As …Astralia,” Anak Beruang mencoba mengulangi.
“Dia belum pernah datang ke sini, padahal orangtuanya kadang-kadang mampir,” kata Ibu.
“Memangnya aku punya paman dan bibi?”
“Ada. Tapi bukan beruang.”
“Ho?”

Tante Kesenian

Langkah saya tertahan. Tante Kesenian tiba-tiba bersinar-sinar di tengah hiruk pikuk Flinders Street. Ia duduk di pinggir jalan sambil menggambar motif-motif dengan kapur tulis. Saya ingin memberi sedekah, tapi ragu-ragu. Tante Kesenian tak terlihat seperti pengemis. Ia tidak berseru-seru minta uluran tangan, bahkan tidak menyediakan wadah receh.  Tante Kesenian tampak asyik sendiri seperti anak-anak dengan mainannya. 



“Oh, ini, ada di sebelah sini,” kata suami saya ketika melihat beberapa keping logam bertebaran di sekitar Tante Kesenian.
Saya lantas ikut meletakkan kepingan saya di situ.