Postingan

Terima Kasih

  Pada suatu hari aku hendak menyeberangi jalur ramai Setiabudi. Ketika tak ada kendaraan yang sudi berhenti, sebuah motor memperlambat lajunya dan memberi tanda kepada kendaraan-kendaraan di belakangnya. Ia meredakan deras lalu lintas agar aku punya kesempatan menyeberang. Aku tersenyum kepada sang pengendara motor sambil mengucapkan terima kasih sepenuh hati. Sang pengendara motor membalas dengan senyum dan anggukan yang membuatku merasa hangat.   Sambil berbelanja di supermarket, kepalaku memproses ramah yang ternyata tidak remeh itu. Kusadari, hal-hal semacam itu terjadi setiap hari. Kita menerima kasih setiap waktu dan mengungkapkannya. Biasanya ungkapan kita mendapat balasan “terima kasih kembali” atau “sama-sama” atau “dengan senang hati”. Jika sungguh-sungguh dimaknai, kata-kata itu lebih besar daripada sekadar tata krama.   Hari itu aku menyimak setiap kasih yang kuterima dan kuberikan. Aku menerima kasih dari pelayan toko, sesama pembeli, bahkan orang-...