Anakberuang menyipitkan matanya. Di antara berkas sinar matahari, ia melihat sesuatu terbang ke arahnya. Sebelum Anakberuang sempat menebak-nebak, benda itu sudah melesat dan mendarat di hadapan Anakberuang.
“Wooow! Kuda sembrani!” pekik Anakberuang takjub. Ia sering mendengar cerita tentang sembrani, tapi belum pernah melihatnya secara langsung. Kuda sembrani itu tak datang sendiri. Ia ditunggangi seekor monyet putih yang mungkin sebaya Anakberuang.
“Hai, di mana kami bisa mencari minum?” tanya Si Monyet Putih.
“Sini,” ajak Anakberuang. Ia berlari-lari kecil ke sungai diikuti kedua teman barunya.
Si Kuda Sembrani tampaknya lebih haus daripada Si Monyet. Ia minum banyak sekali. Monyet putih hanya mereguk beberapa raup air, setelah itu duduk di pinggir sungai sambil mengipasi diri dengan selendang kotak-kotaknya.
“Nama kamu siapa?” tanya Anakberuang.
“Namaku,” ia lantas bernyanyi seperti Bob Marley, “Hanoman No Cry, harus diucapkan dengan nyanyian seperti barusan. Kamu?” dia balik bertanya.
“Aku Anakberuang. Tidak usah dinyanyikan. Kalau dia, namanya siapa?” tanya Anakberuang sambil menunjuk kuda sembrani yang belum selesai-selesai minum. Sadar ditunjuk, Si Kuda berhenti sejenak dan menoleh kepada Anakberuang, “namaku Randatapak.”
“Aku belum pernah melihat kuda sembrani,” ungkap Anakberuang bersemangat.
“Sebetulnya aku bukan kuda sembrani, aku kuda sembrono,” sanggah Randatapak.
“Hah? Kuda sembrono?” Anakberuang mengerutkan kening.
Hanoman No Cry tertawa, kemudian berbisik pada Anakberuang, “Dia kuda sembrani, tapi tentang kuda sembrono, ada ceritanya.”
Lantas, mulailah Hanoman No Cry bercerita.
Hanoman No Cry dan Randatapak datang dari suatu negeri bernama Seriwedari. Mirip taman surga Sriweadari pewayangan, tetapi tidak sama persis. “Ini seri lain: Seri-wedari,” jelas Hanoman No Cry.
Di Seriweadari, tinggal makhluk-makhluk dongeng dan mitologi, di antaranya golongan kuda sembrani. Randatapak adalah keturunan Trembesi, kuda sembrani gagah tunggangan dewa Wish-new. Namun, sejak kecil ia tak pernah mau berperilaku seperti kuda sembrani lainnya.
“Aku bukan kuda sembrani, Ayah, aku kuda sembrono,” begitu kata Randatapak selalu.
“Kamu kuda sembrani. Orangtuamu kuda sembrani, mana bisa tiba-tiba kamu lahir sebagai kuda sembrono? Tolonglah,” Trembesi mulai kehilangan kesabaran. “Lihat kakakmu Si Pandanwangi. Usianya tak jauh dari kamu, tapi kemampuan terbangnya jauh sekali. Ia bisa melayang penuh gaya ke mana-mana. Sementara kamu?”
Randatapak meringkik jengkel. Ia tidak suka dibanding-bandingkan dengan Pandanwangi. Itu sebabnya ia selalu berusaha berbeda dengannya dalam segala hal.
“Dengar, ya, Randatapak, kita ditakdirkan menjadi kuda tunggang makhluk terpandang. Makhluk terpandang tak boleh bergerak di darat saja, ia harus bisa bergerak di angkasa juga.”
“Aku bukan kuda sembrani, aku kuda sembrono. Aku juga bisa jadi kuda tunggang, Ayah, tunggang langgang. Lariku cepat.”
Trembesi putus asa menghadapi Randatapak. Ia pikir memampangkan keberhasilan Pandanwangi akan membuat Randatapak terpacu. Ternyata tidak. Ia pikir semua kuda sembrani pasti brani sesuai namanya. Ternyata bungsunya tidak.
Padahal terlalu banyak dibandingkan justru tidak membuat Randatapak terpacu. Ia malah semakin enggan menjadi sembrani. Bagaimana jika ia tak bisa terbang seindah Pandanwangi? Bagaimana jika ia tak bisa berperilaku anggun seperti sembrani lainnya? Bukankah itu yang diharapkan ayahnya? Randatapak tak tahu bagaimana cara bicara dengan ayahnya, maka ia memilih menjadi kuda sembrono saja. Sebagai kuda sembrono, ia dapat melakukan apa saja secara sembrono.
Pada suatu hari, ketika sedang berjalan-jalan di hutan Seriwedari, Randatapak berjumpa dengan monyet putih yang ceria. Si Monyet melompat begitu saja dari pohon ke punggung Randatapak.
“Sembrani, bawa aku terbang,” perintah monyet itu.
“Maaf, Nyet, kamu salah. Aku kuda sembrono, bukan kuda sembrani. Namaku Randatapak.”
“Masa? Tapi kamu persis kuda sembrani. Oh, ya, namaku Hanoman No Cry, harus dinyanyikan dengan gaya Bob Marley, ya,” monyet putih itu memperkenalkan diri.
Randatapak dan Hanoman No Cry cepat menjadi akrab. Meskipun Randatapak bukan sembrani, Hanoman No Cry tetap sering menungganginya. Ia senang dibawa berlari tunggang langgang oleh Randatapak. Ia juga senang mengajak Randatapak bermain apa saja karena Randatapak adalah kuda sembrono yang mau mencoba hal-hal aneh.
Pada suatu hari, hutan Seriwedari terbakar. Apinya merambat cepat sekali sampai ke seluruh negeri. Kebakaran besar tersebut menjemput banyak korban, menimbulkan kerusakan di mana-mana, dan membubungkan asap yang menyesakkan dada.
Pemerintah Seriwedari mencoba menurunkan tim pemadam kebakaran, tetapi keliru. Mereka malah menurunkan pemadam keakraban yang menyiramkan isu, kecurigaan, dan kebencian yang menambah kekacauan. Rakyat Seriwedari saling menyalahkan, saling menyerang, sampai lupa apa yang seharusnya dipadamkan.
Trah Sembrani pun terimbas. Trembesi yang gagah terpisah dari dewa Wish-new-nya. Pandanwangi tak dapat terbang indah karena asap membutakan pandangannya. Sebagai kuda sembrono, Randatapak diam saja karena tak tahu harus berbuat apa.
Di tengah segala hiruk-pikuk, tampak api merayap melalap pohon tinggi dengan gragas. Ketika Randatapak tengadah, tampak sosok yang ia kenal memeluk ranting dengan panik. Hanoman No Cry terjebak di sana. Ia tak bisa turun karena api memanjat batang dengan ganas. Ia juga tak bisa berpindah ke mana-mana karena pohon lain di sekitarnya sama membaranya.
Jantung Randatapak berdebar kencang. Kali itu, kemampuan berlari tunggang langgangnya tak akan bisa menyelamatkan Hanoman No Cry. Untuk pertama kalinya Randatapak merasa harus menjadi sembrani dengan sembrono. Meskipun belum pernah mencoba terbang sama sekali, kali itu Randatapak harus nekad melakukannya. Hanya itu satu-satunya cara untuk menyelamatkan Hanoman No Cry.
“Tunggu aku, Hanoman No Cry!” seru Randatapak. Sebelum Hanoman No Cry menjawab apapun, Randatapak bertolak dan mengepakkan sayapnya. Terbangnya sempoyongan, jauh dari anggun, tetapi kali itu ia tahu mengapa ia harus mampu bergerak di angkasa. Kemampuan tunggang langgang di darat membantunya tunggang langgang di angkasa. Randatapak dapat melesat lebih cepat daripada api dan menyambar Hanoman No Cry. Hanoman No Cry selamat. Ia memeluk leher Randatapak erat-erat. Randatapak merasakan sesak yang membebani pada napas Hanoman No Cry.
“Keluargaku habis terbakar. Rumahku juga,” kata Hanoman No Cry. Ketika ia memeluk Randatapak lebih erat, terdengar isaknya yang tertahan.
“Kalau kamu mau menangis, menangis saja supaya lega,” saran Randatapak.
“No Cry. Hanoman No Cry,” kata Hanoman No Cry dengan suara bergetar.
“Itu cuma nama. Memangnya kebakaran ini tidak membuat kamu sedih?” tanya Randatapak.
Pertahanan Hanoman No Cry rontok. Ia tak sanggup lagi menahan air mata. Hanoman No Cry menangis tersedu-sedu. Air matanya menyembur ke mana-mana seperti sistem hidran paling alami. Tak disangka, tangis Hanoman No Cry memadamkan api.
“Terus menangis, Hanoman No Cry,” suruh Randatapak sambil membawa Hanoman No Cry berkeliling ke tempat-tempat paling berkobar. Hanoman No Cry tak langsung menyadari keberkahan yang dibawa oleh tangisnya, ia hanya menangis sejadi-jadinya agar sesak di dadanya lepas.
Kecuali Randatapak, tak ada rakyat yang betul-betul menyadari bagaimana api di Seriwedari padam. Mereka pikir hujan deras turun menyelamatkan mereka. Randatapak pun malas memberi tahu seluruh rakyat yang sedang bersukaria. Baginya, keselamatan Hanoman No Cry sudah cukup. Randatapak ingin merayakannya dengan tenang.
“Air matamu memadamkan kebakaran di Seriwedari,” kata Randatapak setelah tangis Hanoman No Cry reda.
“Masa?” tanya Hanoman No Cry tak percaya. Ia menggosok-gosok matanya dan tertegun melihat Seriwedari yang tak lagi membara. Asap masih menyisa tipis-tipis, segala yang hangus terlihat jelas, tetapi tak lagi berbahaya.
“Ayo kita rayakan semua yang baik hari ini,” kata Randatapak.
“Dengan apa?” tanya Hanoman No Cry.
“Terbang sembrono ke mana pun sayapku membawa,” Randatapak melesat asal-asalan. Hanoman No Cry, yang masih mencoba mencerna semuanya, berpegangan sekuat mungkin agar jangan sampai jatuh terlempar.
***
“Begitu ceritanya, Anakberuang. Sembrani yang sembrono itu membawaku sampai ke sini,” cerita Hanoman No Cry.
“Pantas dia haus sekali, ya,” gumam Anakberuang sambil mengamati Randatapak yang masih belum juga berhenti minum.
Kisah yang dibawa Hanoman No Cry mengingatkan Anakberuang pada kisah lain yang menghampirinya beberapa hari sebelumnya. Serupa tapi tak sama. Seekor burung rangkong yang lelah datang dengan air mata berderai. Ia bercerita tentang hutannya yang habis terbakar, makhluk-makhluk yang berjuang melawan sesak, jingga api yang membakar langit, kematian, keserakahan. Rakyat di seluruh negeri berusaha mengulurkan tangan mereka, tetapi kekuasaan mematahkannya seperti mematahkan ranting kering.
Setelah mendengar cerita Hanoman No Cry, Anakberuang membatin.
Jika saja api di hutan burung rangkong dapat dipadamkan dengan air mata.
Markus Benyamin Diredja (ilustrasi) dan Mohammad Alfath (arransemen musik) merupakan dua kolaborator untuk Anakberuang edisi ini. Markus adalah ilustrator asal Bandung yang berpengalaman dengan klien dalam dan luar negeri, sementara Mohammad Alfath adalah komposer unik asal Jambi dengan pengalaman belajar yang kaya. Profil, pandangan, dan keseharian mereka yang menarik akan aku unggah dalam artikel penyalamatahari Kamis, 12 November 2026. Silakan intip profil mereka di Instagram @markusbenyamin dan @woalfath
.jpeg)
Komentar