Kartu Ucapan untuk Nenek Beruang

Sebentar lagi Nenek Beruang berulang tahun. Rencananya Ayah Beruang, Ibu Beruang, dan Anak Beruang akan datang berkunjung. Ibu Beruang akan membawa kue apel-madu buatannya yang enak sekali. Ayah Beruang sudah membuat sebuah kursi goyang yang nyaman untuk Nenek Beruang. Tinggal Anak Beruang yang belum mempunyai hadiah.

“Aku bawa hadiah apa, ya, Bu?” tanya Anak Beruang pada Ibu Beruang yang sedang menjemur pakaian.
“Kedatanganmu saja pasti sudah membuat nenek senang. Kamu tidak perlu bawa hadiah apa-apa,” sahut Ibu Beruang.
“Tapi aku harus bawa hadiah juga, Bu,” kata Anak Beruang sungguh-sungguh.
“Kalau begitu bawa saja hadiah yang sederhana,” kata Ibu Beruang lagi. Ia yang sudah selesai menjemur membawa keranjangnya masuk ke dalam rumah.
“Misalnya apa?” Anak Beruang mengintili Ibu Beruang masuk.
“Misalnya … kamu bisa membuat kartu ucapan.”

Anak Beruang terdiam. Kartu ucapan adalah ide yang bagus. Tapi ia tidak bisa menulis dan membaca. Lalu bagaimana cara ia menuliskan ucapannya? Otak Anak Beruang yang kecil namun lincah seperti bola karet melompat-lompat mencari ide.


Seharusnya kamu bisa membuat kartu ucapan yang bagus sekali. Ulangtahun Nenek Beruang masih lima hari lagi, jadi kamu masih punya banyak waktu,” ujar Ibu Beruang sambil berjalan ke dapur untuk membuat makan siang.
“Masih lima hari lagi? Hmmm,” Anak Beruang mengintili Ibu Beruang ke dapur sambil mengusap-usap dagunya sendiri.
“Daripada terus-terusan mengintili Ibu, bagaimana kalau kamu mulai membuat kartu saja?” tanya Ibu Beruang yang mulai merasa risih.
Anak Beruang terdiam sejenak. Tapi wajahnya segera berubah riang, “Oke!”
Selanjutnya, Anak Beruang melompat-lompat mundur meninggalkan Ibu Beruang yang hanya bisa geleng-geleng kepala.

Sejak hari itu, setiap hari Anak Beruang selalu bangun pagi-pagi sekali. Ia bersenam di depan rumah, melenturkan tubuhnya, dan berlatih mencium lutut sesering mungkin. Perutnya yang gendut menjadi ganjalan. Tapi Ayah dan Ibu Beruang dapat melihat betapa Anak Beruang berusaha keras menyentuh ujung kakinya.

“Kamu kok senam-senam terus? Sudah membuat kartu?” tanya AyahBeruang pada suatu pagi.
“Aku sedang … huff …. hufff … membuat kartu, Ayah,” sahut Anak Beruang sambil mendorong-dorong tubuhnya sendiri.
“Membuat kartu? Kamu sedang senam begini, kok,” sahut Ayah Beruang sambil berjongkok di sebelah Anak Beruang.
“Iya. Bagaimana, sih, kamu? Ulangtahun Nenek Beruang tinggal dua hari lagi, lho,” tambah Ibu Beruang.
“Aku sedang membuat kartu!” Anak Beruang bertukas pasti.

Ayah dan Ibu Beruang saling berpandangan, namun akhirnya memutuskan untuk tidak berkomentar apa-apa lagi. Sudah terlalu sering mereka kurang memahami Anak Beruang. Tetapi sudah terlalu sering juga mereka belajar membiarkan anak mereka, tanpa harus sepenuhnya memahami. 

anak beruang 900px

Akhirnya hari ulangtahun Nenek Beruang tiba. Hari itu Anak Beruang tampak cantik sekali. Ia mengenakan bando dan ikat pinggang rangkaian bunga yang dibuatkan oleh tetangga mereka, Kodok Keterampilan

Karena rumah Nenek Beruang tidak terlalu jauh, mereka akan berjalan kaki saja. Ibu Beruang membawa kuenya yang sudah terbungkus rapi. Ayah Beruang membawa kursi goyang buatannya yang sudah dililiti pita. Sementara tangan Anak Beruang tampak kosong melompong.

“Kartumu sudah dibawa?” Ibu Beruang memastikan sebelum berangkat.
“Sudah,” sahut Anak Beruang.
“Mana?” tanya Ibu Beruang. Matanya sibuk mencari-cari.
“Ada, kooook,” sahut Anak Beruang lagi sambil tersenyum jahil.
“Kamu jangan berbuat yang aneh-aneh, ya, Nenek sudah tua,” Ibu Beruang yang mulai khawatir memperingatkan.
Anak Beruang menggeleng. Ia sengaja menggeleng kuat-kuat agar harum bunga-bunga di kepalanya menyebar ke mana-mana.

Setelah menempuh sekitar setengah jam perjalanan, Ayah Beruang, Ibu Beruang, dan Anak Beruang, tiba di rumah Nenek Beruang yang mungil dan bersih. Sebelum mereka sempat mengetuk pintu, Nenek Beruang sudah menyingkap tirai hijau salemnya.

“Ah, kalian datang,” sambut Nenek Beruang senang. Cepat-cepat ia membukakan pintu.
Begitu pintu dibuka, tanpa dikomando, Ayah Beruang, Ibu Beruang, dan Anak Beruang mengucapkan selamat ulangtahun dengan kompak. Bergantian mereka memeluk Nenek Beruang.
“Aku membuat kursi goyang untuk Ibu. Bisa ditaruh di dekat jendela,” kata Ayah Beruang.
Nenek Beruang mengusap kursi goyang yang dibawa Ayah Beruang dengan mata berbinar.
“Ini, Bu, aku membuat kue apel-madu untuk Ibu. Resepnya dari Ibu. Tapi mungkin tidak seenak buatan Ibu,” Ibu Beruang menyodorkan kue buatannya.
Nenek Beruang mengendus aroma kue dengan mata terpejam, “Ini pasti lebih enak. Percayalah.”

Ketika tiba giliran Anak Beruang memberi hadiah, Ayah dan Ibu Beruang menatap anak mereka ingin tahu. Kartu seperti apa yang akan diberikan Anak Beruang? Dan mengapa selama lima hari terakhir Anak Beruang jadi rajin sekali bersenam?

“Aku punya kartu ucapan buat Nenek Beruang,” ujar Anak Beruang.
“Oh ya? Mana?” tanya Nenek Beruang.
Anak Beruang lantas mencium lutut di teras rumah Nenek Beruang. Ayah dan Ibu Beruang saling berpandangan, masih tidak mengerti.
“Sini, Nek, sini, buka aku,” masih dalam posisi mencium lutut, Anak Beruang menyodorkan tangannya.
Nenek Beruang menghampiri Anak Beruang. Ia menggenggam tangan Anak Beruang, kemudian perlahan-lahan Anak Beruang mengangkat tubuhnya seperti lipatan kartu yang dibuka. Semakin lama semakin condong menuju telentang. Tangan Nenek Beruang mengikuti gerakan Anak Beruang.
Setelah telentang, Anak Beruang mengucapkan pesannya, “Selamat ulangtahun Nenek Beruang yang baik dan cantik. Semoga meskipun sudah tua nanti, aku tetap bisa secantik nenek, dan baik juga …” Ikat pinggang bunga-bunga berperan sebagai garis pembatas lipatan. Anak Beruang memang terlihat seperti kartu berbulu saat itu.
Nenek Beruang menggenggam tangan Anak Beruang erat-erat lalu mencium kepala cucunya itu. “Terima kasih, Anak Beruang, lucu sekali kartumu ini.”
“Aku harus membuat kartu dengan cara ini karena aku tidak bisa membaca dan menulis,” Anak Beruang berterus terang.
“Apapun alasannya tidak penting. Yang pasti kamu sudah membuat nenek senang,” kata Nenek Beruang sambil mengusap-usap kepala Anak Beruang. “Tepatnya, kalian semua sudah membuat aku senang,” tambah Nenek Beruang sambil menatap Ayah dan Ibu Beruang.
Ayah dan Ibu Beruang menanggapinya dengan senyuman.

Ketika Nenek Beruang sedang bercakap-cakap dengan Ibu dan Ayah Beruang, Anak Beruang menyadari suatu hal. Sesungguhnya, sepanjang waktu Nenek Beruang adalah kartu ucapan yang berjalan. Ia selalu penuh dengan kata-kata baik. Ia tak pernah lupa mengucapkan selamat dan terima kasih. Ia juga sangat sering mengucapkan kata-kata penghiburan dan kekuatan. Sesungguhnya, hadiah yang diberikan Anak Beruang untuk Nenek Beruang hari itu, adalah hadiah yang sudah diberikan Nenek Beruang kepada sekitarnya selama berpuluh tahun.

“Terima kasih karena sudah begini manis kepadaku,” ucap Nenek Beruang kepada Ayah dan Ibu Beruang. Anak Beruang mendengarnya.

Anak Beruang bangkit berdiri dan segera bergabung dengan Nenek Beruang, Ayah Beruang, dan Ibu Beruang.
“Kalau sudah besar, aku ingin menjadi kartu ucapan. Sampai tua, aku ingin terus menjadi kartu ucapan,” celetuk Anak Beruang.
“Artinya kamu harus lebih banyak lagi latihan senam, ya, hahaha,” Ayah Beruang menepuk perut Anak Beruang.
Anak Beruang tertawa sambil memegangi perutnya sendiri.

Semoga kisah ini dapat menjadi kartu ucapan yang membuatmu tersenyum hari ini. Dan semoga kamu pun dapat menjadi kartu ucapan yang membuat orang lain tersenyum hari ini.

Sundea

Artwork oleh Rizki Ramadhan alias Kiram. Kiram adalah Bapak rumah tangga gerakan Card to Post dan pemilik Taman Buku Ulat Kupu. Artwork ini bertajuk “kartu fos”. “F untuk Fertina,” ungkap Kiram. Kenapa? Karena artwork tersebut tersusun dari kartu-kartu yang diberikan Fertina, other half Kiram, yang kini sedang mengikuti program Au Pair di Jerman selama setahun. Romantis bingits, ya? Semoga LDR-an membuat hubungan mereka semakin kuat dan rajin bertukar kartu ucapan ^^

2 comments:

Wahid Sabillah mengatakan...

Akhirnya, ada cerita anak beruang lagi. Selamat ulang tahun Nenek Beruang, semoga panjang umur dan sehat selalu :)

Sundea mengatakan...

@Wahid Sabilah: Ada ucapan terima kasih dari Nenek Beruang. Dia seneng banget dikasih ucapan selamat ulangtaun sama kamu :)