Sesuatu di Kolam Tetangga

“Lihat, Bu, ada sesuatu yang berkilau-kilau di kolam sebelah. Mungkin kita punya tetangga baru!” seru Anak Beruang ketika sedang membantu Ibu Beruang menjemur seprai.
“Iya. Tapi jangan diganggu,” sahut Ibu Beruang sambil masih sibuk dengan seprai.
“Kita nggak akan mengganggu. Kita akan datang bawa madu, ya, Bu, ya, Bu …”
“Mereka belum tentu suka madu.”
“Ibu, aku mau main dulu.”
“Kok main? Menjemurnya kan belum selesai …”

Jadi Anak Beruang membantu Ibu Beruang menjemur sampai selesai. Sesudahnya, tanpa sepengetahuan Ibu Beruang, ia melompat-lompat menuju kolam sebelah. Semakin dekat Anak Beruang dengan kolam, semakin cerlang kilaunya. Anak Beruang mengendap dengan berdebar dan …

resized1




“Hai,” seekor ikan dengan sisik manik-manik menyembul dari kolam.
“Oh, hai!” Anak Beruang terkejut.
“Namaku Ikan Manikmanik. Kamu siapa?” sapa ikan itu.
“Aku Anak Beruang. Tetanggamu. Kamu baru pindah ke sini, ya?”
“Sebetulnya aku sudah lama tinggal di sini. Tapi dulu aku tidak berkilau. Dulu aku Ikan Leleh biasa.”
“Ikan leleh ?”
“Iya. Ikan air tawar yang berwarna sama seperti air. Ketika cuaca panas, aku akan meleleh seperti es batu. Makanya aku sering tidak terlihat.”
“Oh … aku baru tahu.”

Ikan Manikmanik cantik dan menyenangkan. Ia bersungut, tapi tak suka bersungut-sungut. Tubuhnya panjang dan lentur seperti penari. Ekornya seperti pita. Ia tinggal sendiri di dalam kolam hutan karena keluarganya tinggal di kota sebagai tukang pijat.

resized2

“Biasanya manusia mencelupkan kaki mereka ke air, kemudian keluargaku memijatnya. Nama usaha mereka ‘Pegel Leleh’. Lumayan diminati, sebab orang kota sering pegal-pegal,” cerita Ikan Manikmanik.
“Lalu kenapa kamu tidak menjadi tukang pijat juga?” tanya Anak Beruang.
Ikan Manikmanik tidak menjawab. Mendadak ia terlihat sedih.
“Kamu … tidak bisa memijat, ya?” tanya Anak Beruang hati-hati.
“Bukan itu. Daripada memijat, aku lebih tertarik pada kesenian. Aku suka mendengarkan suara daun yang jatuh, angin, dan burung-burung, lalu meresponnya dengan suara air. Aku juga lebih suka menari daripada memijat. Aku tidak peduli pada kaki-kaki, aku lebih peduli pada langkahnya,” papar Ikan Manikmanik.
“Lalu seluruh keluargamu meninggalkan kamu?”
“Iya.”
“Tenang saja, kamu tidak akan kesepian lagi. Mulai sekarang kan kamu bisa bermain dengan aku,” hibur Anak Beruang.
“Sebetulnya aku sudah tidak terlalu kesepian, kok. Beberapa minggu yang lalu seekor kodok datang ke sini, namanya Kodok Ketrampilan. Sebetulnya dialah tetangga barumu, bukan aku. Kadang-kadang dia pergi-pergi entah ke mana, kadang tinggal di dalam gubuk, tetapi kadang-kadang dia tinggal di kolam ini bersamaku,” ujar Ikan Manikmanik.

Anak Beruang baru memperhatikan bahwa rumput-rumput di sekitar kolam rapi teranyam. Gubuk di dekat kolam pun berhias manik-manik, bunga-bunga, dan cap-cap tangan. Ada taplak yang belum selesai dirajut, tergeletak di dekat gubuk. Rupanya saat itu Kodok Ketrampilan sedang pergi mencari serat untuk melanjutkan rajutannya.

“Kamu tahu? Sisik manik-manikku ini juga hasil kerajinan tangannya. Karena berlapis sisik inilah aku tak terlalu mudah meleleh,” kata Ikan Manikmanik.
Anak Beruang mengangguk-angguk .
“Tunggu saja. Sebentar lagi Kodok Ketrampilan datang, kok …”

Dan benar saja. Tak lama kemudian, ada yang terdengar melompat-lompat menuju kolam. Anak Beruang tak sabar ingin tahu seperti apa wujud Kodok Ketrampilan. Semakin dekat lompatan tersebut, semakin jelas suaranya. Anak Beruang menunggu dengan berdebar dan …

resized3

“Hai,” sapa seekor kodok yang pasti Kodok Ketrampilan.
“Oh, hai,” sahut Anak Beruang agak terkejut.
Kodok Ketrampilan ternyata terlihat seperti kodok biasa saja. Tubuhnya hijau, matanya besar, dan jari-jarinya panjang.
“Ini Anak Beruang, tetangga kita,” Ikan Manikmanik memperkenalkan.
Anak Beruang tersenyum menyapa.
“Bulu-bulumu bagus sekali. Boleh kuanyam dan kuhias?” tawar Kodok Ketrampilan tanpa basa-basi.
Senyum Anak Beruang melebar. Tanpa banyak berpikir, ia langsung mengangguk.

Siang itu Kodok Ketrampilan mendandani Anak Beruang. Ia menganyam bulu-bulu Anak Beruang, menghiasinya dengan bunga-bunga wangi dan manik-manik, serta melilitkan benang warna-warni di sana. Anak Beruang suka sekali. Tangan Kodok Ketrampilan seterampil namanya. Gerakannya pun penuh keyakinan.

“Ke mana keluargamu? Di kota juga?” tanya Anak Beruang pada Kodok Ketrampilan.
“Keluargaku tersebar di mana-mana. Profesi kodok lebih beragam daripada Ikan Leleh,” sahut Kodok Ketrampilan sambil memilin bulu Anak Beruang.
“Ada yang seperti kamu juga?” tanya Anak Beruang lagi.
“Mungkin ada. Mungkin juga tidak,” sahut Kodok Ketrampilan tak acuh.
“Kamu juga tidak peduli pada kaki-kaki dan lebih peduli pada langkah, ya?” tanya Anak Beruang lagi.
“Mungkin iya. Mungkin juga tidak,” sahut Kodok Ketrampilan lagi.
Anak Beruang melirik Ikan Manikmanik.
Ikan Manikmanik mengikik tertahan. 

Beberapa saat kemudian Anak Beruang selesai dihias. Saat bercermin di permukaan kolam, Anak Beruang berseru riang,
“Aku suka! Terima kasih, ya, Kodok Ketrampilan!”
Baru kali itu Anak Beruang melihat Kodok Ketrampilan tersenyum, “Sama-sama. Aku selalu senang jika bisa membuat makhluk lain senang dengan apa yang kubuat.”

Anak Beruang melompat-lompat pulang ke rumah. Ia tak sabar menunjukkan tampilan barunya pada Ibu Beruang. Siapa tahu Ibu Beruang akan minta dihias juga seperti dirinya.

Semakin dekat Anak Beruang dari rumah, semakin jelas terlihat Ibunya yang sedang mengangkat jemuran. Anak Beruang mulai berdebar dan …

resized4

“Anak Beruang! Ada apa dengan bulumu?!” Ibu Beruang terbelalak ketika melihat Anak Beruang muncul di hadapannya.
“Aku baru dihias Kodok Ketrampilan. Ibu mau juga?”
Ibu Beruang menggeleng cepat. Ia lalu menyerahkan seprai kepada Anak Beruang, “Bawa masuk seprai itu. Sesudah itu bulumu akan Ibu sisir kembali.”
“Tidak mau. Ini sudah bagus,” tolak Anak Beruang.
Ibu Beruang pura-pura tak mendengar.

Anak Beruang masuk membawa seprai sambil menyanyi-nyanyi. Jika Ibu ingin menyisirnya, ia tidak akan mau. Ia akan membiarkan hiasan-hiasan di bulunya gugur sendiri bersama bulunya yang bertumbuh sedikit-sedikit. Ia percaya seni segala sesuatu di dalam hutan ada pada pergantian yang perlahan. Daun tak bisa dipaksa menguning dalam seminggu. Bunga tak bisa dipaksa mekar dalam sehari. Jemuran Ibu Beruang juga butuh setengah hari untuk menjadi kering.

Anak Beruang menghirup bau hutan dan matahari yang melekat di atas seprainya. Ia merasa senang. Waktu selalu tahu bagaimana menyayangi seniman dan seprai Anak Beruang tahu bagaimana menjadi kanvas bagi sisi-sisi terhalus hutan.

… dan malam itu, sebagai anak dengan bulu paling cantik di dunia, Anak Beruang akan tidur di atas seluruh hutan.

Sundea

Artwork : Deugalih. Kalau selama ini kamu mengenal Galih sebagai sesuatu di bidang musik secara solo maupun bersama Deugalih and Folks-nya, ini adalah sisi lainnya.  Galih adalah seniman bohemian dengan rumah portable dalam artian yang sesungguh-sungguhnya.

4 comments:

galih su mengatakan...

Hahah, bodor ini :))

Tengkyu ngikut ngegambar ya, De

Sundea mengatakan...

Gue yg thank you digambarin, Gal =)

Aldriana A. Amir mengatakan...

hahaha.. kodok ketrampilan ini lucu bgt sih, sptnya dia ga tahan ya liat sesuatu buat dijadiin prakarya :))

Sundea mengatakan...

Namanya juga Kodok Ketrampilan ... *grin*

Thx for visiting, Dian =)