Maha Vihara, Cerita Pak Ketut Sumana

 paketutduaDi Jalan Gunung Soputan Denpasar, Bali, berdiri sebuah wihara istimewa: Maha Vihara. Selain karena kemegahan dan kelapangannya, wihara yang dikelola oleh Yayasan Buddha Maitreya ini terbuka untuk agama apa saja. Siapapun boleh berdoa di sana. “Ini rumah kalian juga,” kata pengurus wihara itu kepada Mbak Nanette yang memeluk agama Hindu dan Dea yang nasrani.

Teman-teman, berikut ini adalah obrolan Dea dengan Pak Ketut Sumana, pengurus Maha Vihara …




Halo Pak Ketut Sumana, udah lama ngurus Maha Vihara?
Pembangunan wihara ini kan 5 tahun. Ini baru diresmikan tanggal sembilan bulan sembilan tahun 2012. Dulu saya kerja di sini, tapi di bagian logistik. Tiga tahun, kerja saya sudah selesai. Tapi karena tidak ada orang, saya disuruh bantu-bantu, bersih-bersih, melayani tamu, terutama kalau ada yang berbahasa Inggris. Saya disediakan kamar juga di sini. Jadi saya kerja di sini sampai saat ini. 

mahaviharamalem

Aslinya Bapak tinggalnya di mana?
Di Tabanan.

Ooo … bulak-balik ya, Pak, setiap hari?
Iya. Pagi-pagi saya sudah datang ke sini. Naik-turun wihara ini, melayani tamu, menjelaskan tentang wihara ini, terus kadang-kadang juga suka ada yang bawa buah-buahan untuk persembahan. Saya stand by di sini …

Bapak berencana terus kerja di sini, nggak?
Oh tidak. Tapi selama saya masih diperlukan di sini, saya masih tetap di sini. Sebab kalau dari segi … kita kan namanya manusia, butuh biaya hidup. Dari segi uang sakunya sih tidak besar, tapi kan ini namanya memberi kebajikan, amal, jadi kita dapat lakukan. Kalau istilahnya Bali beriatnya.

Beriatnya. Okeh. Bapak pribadi punya pengalaman spiritual selama di sini?
Ooo banyak. Saya kebanyakan merasa bisa sehat, biasanya sakit-sakitan. Sebab saya merasakan ada getaran. Dulu saya juga sudah diramalkan akan meninggal. Nyatanya sampai sekarang masih hidup. Keluarga saya juga suka ke sini. Mereka merasa ada power, jadi mereka tambah semangat setelah pulang dari tempat ini. Saya dulu meditasinya ke gunung-gunung. Jadi saya tahu di sini ada auranya. Kalau orang bisa bangun sesuatu anginnya banyak, masuk ke dalam, artinya rejekinya masuk ke dalam. Bagus.

Pak Ketut tau nggak gimana awalnya tempat ini dibangun?
Ada orang datang dari Taiwan. Dia merasakan ada getaran di tempat ini. Membangun tempat suci itu tidak gampang, karena harus ada keyakinan untuk beriatnya. Orang Taiwan itu ingin membikin tempat suci, bukan untuk perorangan tapi untuk umum. Jadilah seperti ini. Di atas ada patung Buddha yang mukanya selalu ceria. Selalu senyum. Senyum itu maknanya untuk menampung segala yang baik dan buruk. 

happybudha

Iya, aku percaya juga itu, Pak. Bapak punya pesen, nggak, buat orang yang nanti baca cerita tentang Maha Vihara ini?
Ya kalau bisa datang ke sini dan bisa bantu-bantu tempat ini biar bisa lebih maju. Dan bisa lebih dimekarkan ke depan …

Hehehe … dimekarkan. Bunga, kali, Pak. Eh, iya, ini agak nggak nyambung. Bapak bintangnya apa?
Saya shio kuda. Kalau bintangnya … yang lambangnya timbangan itu Libra ya?

Iya. Bapak Libra?
Sebetulnya saya kurang tahu, jadi saya bikin-bikin saja. Rasanya Libra sebab saya harus seimbang antara duniawi dan spiritual.

*terjengkang*

“Di Bali orang lebih tahu tanggal lahir dalam itungan weton, De, makanya kadang mereka nggak tahu zodiaknya apa,” jelas Mbak Nanette. Dea mengangguk-angguk sambil tersenyum.

Sore itu, Dea berlutut dan berdoa di dalam Maha Vihara. Dea duduk menghadap patung Dewi Kwan Im, namun tak ada yang berubah dengan iman dan kepercayaan Dea. Hati yang seluas langit dan samudera tahu menemukan esensi Tuhan yang hadir di mana saja …

Angin keluar dan masuk Maha Vihara membawa aroma dupa. Angin keluar dan masuk Maha Vihara menyaput duka.

mahaviharadupa

Padamlah yang terbakar, tercabutlah yang mengakar …

Sundea

0 comments: