Be a Clown, Roni Iyang, Be a Clown

“Be a clown, be a clown,
All the world loves a clown.
Act a fool, play the calf …”*

Pada suatu hari Minggu, ketika Java Jazz sedang berlangsung, panggung musik lain bergembira ria di Taman Buah Mekarsari. Sebuah band yang entah apa namanya mempersembahkan Situmorang, lagu Batak yang gegap gempita.


Hari itu, ketika orang-orang bergoyang di seputar panggung Java Jazz, seseorang dalam kostum sapi bergoyang-goyang di seputar panggung Taman Buah Mekarsari. Geriknya yang jenaka segera menarik perhatian anak-anak. Paket susu yang ia jajakan laris manis. Ia pun tak enggan meladeni anak-anak yang ingin berfoto, bersalaman, atau sekedar menyentuh perutnya yang gendut.


 


Saya lalu teringat pada stereotipe badut yang dinyanyikan di lagu-lagu balada dan diceritakan di buku-buku sastra. Selalu ada sosok penuh duka yang tenggelam dalam kostum raya itu. Sosok yang harus rela diolok-olok dan dipermainkan. Sosok yang menangis diam-diam di tempat sepi. Saya jadi ingin tahu. Siapa gerangan manusia di balik kostum sapi ini? Apa yang sebetulnya ia rasakan sehari-hari? Samakah dengan stereotipe badut yang saya ketahui? Ketika sapi ini beristirahat di boot susu, saya mengikutinya.



“Halo, Mas, namanya siapa?”
“Eh, saya Roni. Tapi Roninya udah ilang. Udah jadi Iyang.”
“Hah maksudnya?”
“Nama saya sebenernya Roni, tapi temen-temen manggilnya Iyang. Jadi nama saya sekarang tinggal Iyangnya.”
Saya tertawa kecil.


Teman-teman, ternyata Mas Iyang dan Si Sapi tak jauh berbeda. Sama-sama jenaka, sama-sama meladeni permintaan-permintaan tak penting dengan senang hati, dan sama-sama senang bermain.

“Jadi kenapa, Mas Iyang mau kerja jadi sapi di sini?”
“Seruuu … saya bisa main sama anak-anak. Kalau nggak jadi badut dulu, saya dibilangnya masa kecil kurang bahagia.”
“Hahahaha … seneng anak-anak ya, Mas?”
“Iya, apalagi yang gemuk.”
“Hah? Kenapa gitu yang gemuk?”
“…”
“Punya adik nggak, Mas?”
“Enggak, saya anak satu-satunya.”
“Oooo … terus pengen punya adik?”
Menggeleng
“Kenapa?”
“Karena ibu saya udah tua.”
Saya tergelak.

Mas Iyang berasal dari Kampung Rawa Ragas di Desa Bojong. “Saya di sini cuma Sabtu-Minggu. Seharinya-harinya tani di rumah. Sebelumnya malah pengangguran,” begitu ceritanya dengan nada yang tetap riang. Kendati hanya bekerja Sabtu dan Minggu, ia mengaku masih sering “bandel” dengan jam dinas. 






“Harusnya saya jadi badut dari jam 10 sampai jam 5. Tapi kadang saya jam 11 baru datang, kadang jam 3 udah pulang …”
“Widiiih … kenapa bandel, Mas?”
“Bayaran saya kan persenan, Mbak. Dari 100 persen, saya dapet 14 persen. Jadi kalau udah banyak (yang terbeli), ya saya pulang aja. Coba kalo diitungnya harian, pasti saya nggak bandel …”
Saya terkekeh.

Waktu istirahat Mas Iyang hampir selesai, maka saya minta izin untuk memotretnya.

“Ah, jangan, ah, malu …”
“Yah,nggak asik amat, masa nggak ada foto muka Masnya?”
“Maluuuuu,” dan pemuda itu membenamkan wajahnya di balik kepala Sang Sapi.

Setelah saya bujuk-bujuk, akhirnya dia mau juga difoto. Tetapi dalam pose seperti ini:


Selanjutnya, Si Sapi kembali menyongsong anak-anak. Kembali menari-nari meski band sudah turun dari panggung. Sisa dagangannya laris manis dan paket susu itu pasti akan habis sebelum jam lima sore. Saya tersenyum. Proses selalu berlari dengan panjang kakinya sendiri-sendiri, sampai ke garis finish dengan durasinya sendiri-sendiri. Sepertinya hari itu Mas Iyang akan pulang jam tiga sore lagi.

Stereotipe badut di lagu balada dan buku sastra terhapus oleh sosok sapi-sapian yang berjarak sekitar tiga meter dari hadapan saya. Anak-anak dapat merasakan apa yang bersembunyi di balik kostum, saya yakin karena itulah dagangan Mas Iyang selalu habis lebih cepat. Hari itu saya mendapati bahwa menjadi badut adalah pekerjaan yang sangat passionate.


“If, son, when you're grown up,
You want ev'rything nice,
I've got your future sewn up
If you take this advice:
Be a clown, be a clown …”*

Sundea

*diculik dari lirik Be a Clown, Judy Garland-Gene Kelly, sebuah lagu tentang badut yang bukan stereotipe ^_^

6 comments:

idean mengatakan...

saya pernah menjadi badut,mungkin rasanya kaya orang terkenal, disapa, dipeluk, diajak foto orang tak dikenal. tapi beban make kostum badut, mana panas dan berat, alhasil lebih bersyukur ga jadi badut walau ga jadi terkenal juga. hehe

Sundea mengatakan...

Berarti mungkin passion kamu bukan jadi badut, Idean ... hehehe ... kalo Mas Iyang, kayaknya jadi badut emang passionnya =D

rinupamungkas mengatakan...

salut deh sama yg muda mau jd badut, gimana ya rasanya pake ksotum setebel itu di dalem?salut deh

Salamataangin mengatakan...

Rasanya ... kayaknya panas. Terus Si Mas ini pernah nggelundung dan susah bangun, tapi dia seneng2 aja ... hehe ...

Kapan2, kita cobain, yuk, pake kostum badut ... =D

BeluBelloBelle mengatakan...

dari dulu sampe sekarang aih aih aih betapa susahnya ngejalanin profesi yang satu ini suka SALUT sama mereka.

Tetap aja gitu keluar CERIA nya.

Sundea mengatakan...

Mas Roni ini emang luar biasa, keceriaannya inside-out =)