Hari Buruk Seorang Anak Biasa

Judul Buku: Alexander and the Terrible, Horrible, No Good, Very Bad Day
Penulis: Judith Viorist
Ilustrasi: Ray Cruz
Penerbit: Scholastic Inc.





Pada suatu hari, di sela tumpukan buku anak yang berwarna-warni ceria, saya mendapati Alexander and the Terrible, Horrible, No Good, Very Bad Day (ATD). ATD tidak bercerita tentang anak-anak di daerah konflik. Ia juga tidak menjual korban kekerasan terhadap anak atau keluarga bermasalah. Alexander adalah anak laki-laki biasa, di tengah keluarga biasa, dengan kehidupan biasa, dan permasalahan anak-anak biasa. Lalu apa yang membuat ATD luar biasa?



“Hai,” sapa saya. ATD menjawab dengan nada gerutu, “Alexander and the terrible, horrible, no good, very bad day.” Suaranya nyaris tertelan di antara buku anak-anak lain yang riang bercerita dan bernyanyi-nyanyi. Wajah ATD ungu dengan gurat merah-kuning api, tidak cerah seperti buku anak-anak lain yang bederet di sepanjang rak. “Kamu kenapa?” sapa saya. “Kamu nggak akan mau tahu,” lagi-lagi ia menjawab dengan nada menggerundel. “Saya mau,” ujar saya seraya meraih ATD. Membulak-balik halamannya, lalu menekuni ceritanya.

Berkisahlah ATD mengenai hari buruk Alexander. Alexander bangun pagi dengan permen karet lengket-lengket di rambutnya. Ketika sarapan, kedua saudara Alexander menemukan hadiah dalam kotak sereal mereka, sementara Alexander tidak. Tiba-tiba Alexander berpikir agak absurt, “Saya rasa saya akan pindah ke Australia”.

Selanjutnya serangkaian kesialan lain terus menggerayangi Alexander. Mulai dari tempat duduk yang tak menyenangkan di dalam mobil, teman yang tahu-tahu menganggap Alexander bukan sahabat nomor satunya lagi, sampai kekacauan yang ia timbulkan di kantor sang ayah. Di rumah, air mandi Alexander terlalu panas. Saat makan malam ia terpaksa memakan makanan yang paling tak ia sukai: kacang lima. Televisi pun menayangkan adegan yang paling dibenci Alexander: ciuman. Kesialan terus mengganduli Alexander hingga waktu tidur menjelang, ketika kucing peliharaan mereka memilih tidur bersama kakak Alexander, bukan Alexander.

Kisah ini tidak lantas ditutup dengan keberuntungan yang muncul tiba-tiba setelah Alexander berbuat baik. Tidak juga dengan pesan moral panjang lebar dari seorang narator maha tahu. Alexander kemudian merenung sendiri di atas tempat tidurnya dan berdamai dengan kehidupan, “Ibu bilang kadang ada hari-hari yang seperti itu. Bahkan di Australia.” Ia lalu tidur. Nyenyak dan lelah.

Tak hanya dengan teks yang mengerti betul keseharian dan kemurungan anak, ATD menghadirkan ilustrasi dengan bahasa yang memahami teks. Gambar-gambar detail hitam-putih dengan arsir penuh membuat buku ini tampak sepi sekaligus meriah. Tidak tercantumnya nomor halaman seakan sengaja mengafirmasi pemikiran anak-anak yang melompat-lompat dan seringkali tak terikat struktur. Saya jatuh hati pada ATD. Ia luar biasa karena menyorot hal biasa yang sering terluput oleh spot light.

Dari antara warna-warni yang berlompatan dan buku anak yang bernyanyi-nyanyi riang, saya akhirnya memilih ATD.

“Alexander the Great” adalah cerita yang mudah kau temui di mana-mana. Tetapi “Alexander the Ordinary” mungkin satu di antara seribu.

Sundea


2 comments:

Galih Su mengatakan...

Mau baca!! :)

Sundea mengatakan...

Kapan ketemu? Tar gue pinjemin ... =D