Posting Curhat Tentang Pasar Seni

-Ganesha 10, 10 Oktober 2010-

Pasar Seni ITB 2010

Seorang anak perempuan melompat-lompat girang memasuki gerbang ITB, “Ma, ma ini teh kita ke Kebun Binatang kan, ya? Ke Kebun Binatang kan?” Ketika saya menoleh, dengan sigap kerumunan menelan Si Anak dan mamanya. Jawaban si mama pun lumat dikunyah berbagai suara yang simpang siur di Pasar Seni ITB.




Sejak masih janin, Pasar Seni ITB tahun ini dipelihara dengan telaten. Publikasi hadir intens di berbagai sosial media, majalah, koran, poster, radio, bahkan televisi nasional. Konsep Pasar Seni ke-10 yang digelar pada 10-10-2010 selama 10 jam di Ganesha 10 unik dan menjual. Sponsor yang terlibat pun menyediakan fasilitas yang tidak main-main, ambil contoh perusahaan travel Day Trans yang sampai khusus menyediakan rute Jakarta-Pasar Seni ITB-Jakarta.

Curahan asupan membuat Pasar Seni ITB 2010 tumbuh menjadi anak yang rupawan sekaligus besar dan kuat. Ia yang lahir dengan lapar, menelan apa saja. Mulai dari lalu lintas Bandung, musim hujan berkepanjangan, sampai stand-stand-nya sendiri. Jejalan manusia yang berduyun-duyun membuat stand sulit diakrabi. Belum lagi jamming jaringan-jaringan selular yang gosipnya ditelan oleh jaringan selular sponsor. Saya yang seharian berkeliling Pasar Seni ITB untuk membagikan CD zine-zine-an offline Salamatahari secara random nyaris pingsan. Pesona dan kelaparan Pasar Seni adalah sebuah kombinasi yang memabukkan adanya. 

Senja turun, menelan matahari yang seharian mencrang belentrang. Pasar Seni ITB mulai kenyang. Kerumunan merenggang. Stand-stand berkemas bersiap pulang. Saya digiring teman ke Wahana Neraka, tempat Sarasvati dan Frau sempat berpentas dan sukses terlewatkan oleh saya…

“Galih udah pulang abis Sarasvati. Tadi dia nyari-nyariin elu nggak ketemu,” kata Ricky, teman saya itu.
“Gua juga nyari-nyariin dia nggak ketemu. Hari ini susah banget ngehubungin orang …”
“Tadi Wawbaw buka stand bareng Provoke.”
“Huuuhuuu … gua mabok keliling-keliling . Giliran nemu, udah tinggal rangka-rangka gitu …”

Pasar Seni ITB tahun ini mengangkat tema “Sesuatu yang Terlupakan”. Hari itu saya merasa diingatkan: makanan enak butuh kemampuan bernafsu makan, kasur empuk butuh kemampuan tidur nyenyak, keindahan butuh jarak agar dapat diindahkan. 

Tiba-tiba saya teringat pada gadis kecil yang melompat-lompat girang memasuki gerbang ITB. Sebelum menelannya, sempatkah kerumunan mengecap ekspektasinya ?

Sundea

7 comments:

Nia Janiar mengatakan...

Dua paragraf terakhir edan banget. Hehe.

Btw, pantes gue teh enggak bisa banget sms-an dan teteleponan. Ternyata sinyalnya ditelan toh. Huhu.

Gue pun mengalami kesulitan dalam bertemu. Akhirnya gue dan teman-teman gue mengagungkan konsep serendipity.

Pasar Seni kemarin besar, akbar, namun ... rumit.

Sundea mengatakan...

Eta pisan, Ni ...

Aki mengatakan...

saya bingung karena merasa kehilangan teman, tapi menemukan cinta disamping saya mbak. ironis ga mbak???

Sundea mengatakan...

Ketemu lagi sama Atiek CB, ya, Ki? Kan Ironisianturi ...

*jadul album minggu mode on

alavya-shofa mengatakan...

waaaahhh, Pasar Seni ITB emang hebat, heee, banyak blog yang "meliputnya". salam kenal sundea

Galih Su mengatakan...

Gue agak meyakini gitu panitia Pasar Seni ITB pake jasa Pawang Ujan-nya pun sebanyak manusia yang berjubel di Pasar Seni ITB. Cuman ujan 2 menit, sisanya kemarau mentok ampe acaranya abis.

Terus, temen gue yang lagi bagi-bagiin zine gitu, ilang deh, bersamaan lenyapnya berbagai macam sinyal telepon selular. Haha

Sundea mengatakan...

@alavya : Salam kenal =D

@Galih: Yang ilang gua ato temen-temen gua? Ato arah yang ilang ? Hehehe ....