Menelan-Ditelan

“Telan” selalu melibatkan dua pelaku: subyek dan obyek. Ada kecenderungan superior-inferior di antara keduanya. Namun di sisi lain, ada yang menjadi lebih besar ketika dilumatkan dan berterima dengan proses, dan ada yang menjadi lebih utuh ketika menerima sesuatu menjadi bagian dirinya. 

Minggu ini www.salamatahari.com menghadirkan posting mengenai menelan dan ditelan. Ada Pasar Seni ITB yang menelan lalu lintas Bandung, sinyal, dan masyarakat. Ada bayi yang menelan crackers dalam band Baby Eats Crackers. Dan ada kisah kecil mengenai “swallow”. Teman-teman, mulai edisi ini pun Salamatahari menghadirkan posting seputar program “30 hari menulis”. Semoga semakin banyak yang menelan program ini dan memeliharanya dalam proses yang konsisten.

Minggu ini, di zine-zine-an online kita, “menelan-ditelan” dicerna melalui berbagai rupa.

Semoga hangatnya berputar-putar memijat perutmu …

Selamat menelan dan ditelan cerita-cerita.
Salamatahari, semogaselaluhangat dan cerah,
Sundea


2 comments:

perempuansore mengatakan...

menelan juga menghangati. menelan balsem misalnya :D hei matahari, selamat hari Kamis!

Sundea mengatakan...

Hahaha ... percaya, nggak, gua memang suka minum minyak kapak kalo masuk angin ...=D