Day #1: Theoresia Rumthe

fototheo Theoresia Rumthe atau yang mereka kenal sebagai perempuansore :
“penyiar bukan penyair. saya bermain. saya tidur. saya bercinta. saya bernafas. saya bersenang-senang. saya menikah: dengan kata.”

Pengecualian ini akan saya berikan kepada Theoresia Rumthe, sang penggagas awal. Walaupun misinya hanya berhasil hingga hari ke-26, tapi misi ini tidak akan ada tanpa ide isengnya yang tiba-tiba menyebar seperti virus.

Dia memang berkata bahwa dia bukan penyair, tapi setiap orang yang membacanya pasti setuju bahwa tulisan-tulisannya puitis, penuh simbolisme, walaupun simbolisme yang ditawarkannya berasal dari hal-hal kecil, detail, dan sering terlupakan oleh kita dalam kehidupan sehari-hari. Coba saja memintanya untuk menulis satu posting (cangkir, atauh bahkan upil misalnya), mungkin dia bisa menjabarkannya dengan mulus, dan kemungkinannya terbesarnya, menjadi indah. Ciri khas penulisannya, menurut saya pribadi memang seringkali terkesan memanusiakan mereka-mereka yang bukanlah manusia.



Dimulai dari Day#1: “Cinta Itu Air mata”, hingga posting-posting selanjutnya, kadang-kadang kata-katanya membuat saya berkesimpulan, wanita yang satu ini senang mendefinisikan sesuatu hal, dari yang nyata wujudnya hingga sesuatu yang hanya bisa kita rasakan. Definisi “Cinta”, definisi “Tanda” (day#2), “Endapan”, “Debu”, pemaknaan “Setia” yang sedikit tidak lazim, atau bahkan “Kue Mochi” (Day#14)! simak tuturannya:

….menyicip kekenyalan kue moci, yang berasa lembut di lidah, seakan-akan pertanda bahwa sekeras apapun cinta hadir, ia selalu punya sisi kenyal. yang membuatmu kepingin menggigit lagi dan lagi. membuat mulutmu tidak berhenti mengunyah. 

Kehadiran dalam keterkejutan, seharusnya membuat siapapun itu lebih terbuka untuk memeluk. menyediakan halaman luas di dalam hatinya, untuk ia hadir. singgah sebentar maupun bermalam lama. keterkejutan memiliki esensinya sendiri, tinggal bagaimana meresponinya. muka merah. deg-degan. geli perut. tidak bisa tidur lagi, sehingga ada kantung di bawah mata….

Theoresia Rumthe memanglah Theoresia Rumthe. Bukan penyair, dia bilang. Tapi saat tenggelam dalam tulisannya, seakan kita merasakan, bahwa Theo yang sedang menulis, pasti adalah keadaan Theo yang sedang asyik-asyiknya bermain emosi dengan dirinya sendiri. 

catatan: Theo mengakhiri misi pertamanya dengan postingan “Merantau”, dan ia sekarang sedang promo bukunya yang berjudul “Rona Kata”. Saat ini ia sedang memulai lagi misi #30harimenulis, dalam rangka hadiah ulang tahunnya di bulan november. Untuknya, dan untuk pecinta kata-katanya.
                   visit: http://perempuansore.blogspot.com

======================
Rubrik ini merupakan kelanjutan dari program 30 hari menulis. Maradilla menyambung program ini dengan komitmen “30 hari menulis review”.

Apakah 30 hari menulis ? Apa pula 30 hari menulis review? Siapa yang terlibat dan sudah di-review Maradilla?

4 comments:

perempuansore mengatakan...

Thanks De, itu baju gw di foto sama dengan latarnya :D

Sundea mengatakan...

Sama-sama, The ...

hahaha ... iya, ya, baru meratiin ...

Rie mengatakan...

Gw juga suka tulisan2 Theo.

U'r Miracle mengatakan...

Gue juga jadi nulis terus.

#30hari menulis serial cinta

lama dan butuh kesungguhan untuk melakukannya.

aku suka semangatnya