Terima Kasih

 

Pada suatu hari aku hendak menyeberangi jalur ramai Setiabudi. Ketika tak ada kendaraan yang sudi berhenti, sebuah motor memperlambat lajunya dan memberi tanda kepada kendaraan-kendaraan di belakangnya. Ia meredakan deras lalu lintas agar aku punya kesempatan menyeberang. Aku tersenyum kepada sang pengendara motor sambil mengucapkan terima kasih sepenuh hati. Sang pengendara motor membalas dengan senyum dan anggukan yang membuatku merasa hangat.

 

Sambil berbelanja di supermarket, kepalaku memproses ramah yang ternyata tidak remeh itu. Kusadari, hal-hal semacam itu terjadi setiap hari. Kita menerima kasih setiap waktu dan mengungkapkannya. Biasanya ungkapan kita mendapat balasan “terima kasih kembali” atau “sama-sama” atau “dengan senang hati”. Jika sungguh-sungguh dimaknai, kata-kata itu lebih besar daripada sekadar tata krama.

 

Hari itu aku menyimak setiap kasih yang kuterima dan kuberikan. Aku menerima kasih dari pelayan toko, sesama pembeli, bahkan orang-orang yang kutemui di sepanjang perjalanan berangkat dan pulang berbelanja. Sebaliknya, tindakan-tindakan kecil yang kulakukan ternyata membuat orang menerima kasih. Kuinsafi, kita senantiasa dimudahkan dan memudahkan orang lain dalam keseharian kita yang sederhana.

 

Di edisi ini aku menghadirkan kasih-kasih yang diterima dan diberikan. Ada Ci Maria Sanny yang terharu karena muridnya berterima kasih setelah “disiksa”, ada kucing keliling yang berterima kasih dan berterima kasih kembali pada Pak Suyadi, serta ada foto-foto keseharian yang penuh rasa terima kasih tetapi tidak kuunggah di Instagram. Entah mengapa akhir-akhir ini berbagi cerita di sana terasa sedikit wagu untukku.  

 

Hari ini, berapa banyak kasih yang kita terima dan berikan?

Perhatikan, per-hati-kan.

 

Selamat Hari Keseimbangan

Salamatahari, semogaselaluhangat dan cerah,

Sundea


 

Komentar