Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan “hirup” secara sederhana: mengisap dan meminum. Sementara dalam bahasa Sunda, hirup mengandung muatan yang lebih besar: hidup. Keduanya tertaut erat karena apa yang kita isaplah yang menjaga hidup kita.

 

Bahasa Sunda memiliki kata lain yang senantiasa mendampingi hirup: hurip. Hurip mengacu kepada nilai-nilai filosofis yang mengisi hidup itu sendiri. Ia mewakili kondisi batin, alasan hidup, dan makna yang kita temukan di antara udara yang kita isap. Hirup kudu hurip menggambarkan hidup yang lively; utuh beserta maknanya. Sementara hirup teu hurip menggambarkan hidup yang hampa dan dijalani tanpa gairah.

 

Berbagai peristiwa akhir-akhir ini—terutama kebakaran hutan lahan atau karhutla—mengingatkanku pada kata “hirup”. Menghirup udara adalah bare minimum untuk tetap hidup. Tanpa itu, apa mungkin makhluk hidup sampai pada hurip?

 

Sebagai warga negara, pemerintah dan kebijakannya adalah udara yang kita isap dengan percaya—seharusnya. Namun, apa yang harus kita lakukan jika saat ini kita tidak lagi bisa percaya pada udara yang kita isap? Apakah hirup dan apakah hurip?

 

Tidak ada artikel apa-apa selain inti matahari di zine-zine-an online edisi 218. Jika ada pun, mungkin menyusul pekan depan.

 

Selamat Hari Sumpah Pemuda, semoga ada waktunya kita tak lagi harus mengucapkan sumpah serapah

 

Selamat Hari Keseimbangan

Salamatahari, semogaselaluhangat dan cerah,

Sundea

 


 

Komentar