“Wooow, lapangkot!” seruku dalam hati ketika menaiki angkot Cicaheum-Ledeng yang akan kutumpangi. Meskipun cukup akrab dengan jurusan tersebut, belum pernah aku berjumpa dengan lapangkot. Lantai angkot tersebut dilapisi rumput-rumputan. Ia jadi tampak seperti lapangan hijau yang asri. Aku memotret sambil bermain-main dengan imajinasiku. Bagaimana kalau di sana tumbuh bunga-bunga? Apakah aku bisa bermain kambing-kambingan di lapangkot ini? Atau ini lapangan sepak bola?
Ketika penumpang di belakang bangku sopir beranjak turun, barulah aku beringsut mendekat kepada Pak Sopir.
“Pak, angkotnya lucu, deh, dilapisin rumput-rumputan gini. Kok bisa kepikiran ngehias begini, sih?” tanyaku tanpa basa-basi.
“Yah, biar nggak panas aja, jadi lebih sejuk.”
“Lho, ini bukan rumput betulan kan, Pak?”
“Ya bukan, tapi kalau nggak dikasih lapisan, siang-siang gini panasnya mantul.”
Selanjutnya Pak Sopir curhat sedikit tentang penumpang angkot yang semakin sedikit. Aku memilih mendengarkan karena jarak tempuhku tidak panjang. Di hari yang panas, melelahkan, dan sepi penumpang, mungkin ia butuh teman berbagi.
“Mau ke mana, Neng?” tanya Pak Sopir kemudian.
“Mau ke Ayam Geprek Pangeran, Pak,” sahutku.
“Simpang, ya? Berarti turun di Sumur Bandung.”
Di belokan Sumur Bandung, aku beranjak turun. Mungkin lain waktu aku akan berjumpa kembali dengan lapangkot dan punya kesempatan untuk menanyakan hal-hal yang masih ingin kutanyakan, mungkin juga tidak.
Hidup adalah tentang singgah dan beranjak. Kadang kita menanam cerita, kadang kita memetik makna.



Komentar