-Hotel Butik Sawunggaling, 21 Agustus 2026-
Pembukaan Pameran Museum Mini Suyadi
Pada pembukaan Museum Mini Suyadi, seekor kucing berlenggak-lenggok penuh percaya diri. Ia berkeliling di area Ourchetype, menghampiri hadirin dan panitia, bahkan melompat ke mana saja seakan semua tempat adalah singasananya. Si kucing bereksplorasi tanpa terpengaruh hiruk-pikuk di sekitarnya. Mungkin ia pun tak peduli aku diam-diam mengamati gerak-geriknya.
Kucing adalah ikon penting yang mewarnai rangkaian acara Museum Mini Suyadi di Hotel Butik Sawunggaling, 21-30 Agustus 2026 silam. Pak Suyadi, seniman serba bisa yang lebih kita kenal sebagai Pak Raden dari film boneka Si Unyil, adalah pencinta kucing sejati. Semasa hidupnya pintu rumah beliau terbuka lebar untuk menampung kucing dari mana saja. Tema kucing pun sering hadir dalam karyanya antara lain dalam buku Seribu Kucing untuk Kakek dan lagu jenaka Pus Sakit yang pernah dibawakan dalam salah satu episode Si Unyil.
Museum Mini Suyadi diselenggarakan oleh Yayasan Cerita Anak (Tacita) dan Kelompok Keahlian Ilustrasi Buku Anak ITB (KIBA). Menghadirkan arsip, karya, dan segala bentuk warisan budaya Pak Suyadi. Pemilihan Hotel Butik Sawunggaling sebagai lokasi bukannya tanpa alasan. Konon dulu Hotel Butik Sawunggaling adalah asrama mahasiswa tempat Pak Suyadi tinggal selama menempuh pendidikan di ITB. Menurut kesaksian salah satu rekannya semasa kuliah, Pak Suyadi sering berdiri di balkon sambil mendongeng atau mendalang dengan lantang. Orang-orang lewatlah yang menjadi penontonnya. Seseru itu Pak Suyadi, ya?
Drs. Suyadi lahir di Jember pada 28 November 1932. Kecintaannya pada dunia seni sudah terlihat sejak ia masih kanak-kanak. Ia suka menggambar, mendongeng, menari, dan akhirnya kuliah di Seni Rupa ITB pada 1952. Beliau lantas belajar animasi di Perancis, jauh sebelum dunia animasi sepopuler saat ini.
Di awal tahun 1980an Pak Suyadi diminta membuat film animasi anak-anak oleh TVRI dan PFFN. Sayangnya, di masa itu membuat serial animasi tak sesederhana sekarang sehingga Pak Suyadi tak mungkin mewujudkannya. Untungnya Pak Suyadi yang kreatif punya ide lain. Beliau membuat film boneka Si Unyil yang segera menjadi acara kesayangan anak Indonesia. Karya itu pulalah yang hingga kini begitu lekat dengan Pak Suyadi karena beliau berperan sebagai Pak Raden, salah satu tokoh ikonik di serial itu.
Di Museum Mini Suyadi, karya-karya Pak Suyadi diperkenalkan secara unik dengan permainan Ourchetype. Selain berkenalan dengan karya-karya Pak Suyadi, Ourchetype juga mengajak kita berkenalan dengan diri sendiri. Melalui kucing-kucing yang kita pilih di sepanjang labirin Ourchetype, kita dituntun menemukan sifat Pak Suyadi yang paling dekat dengan diri kita. Ada 4 kategori: Penghibur, pencerita, penjaga, dan seniman. Kira-kira kamu termasuk yang mana?
Pak Suyadi meninggalkan warisan budaya yang begitu beragam. Mulai dari buku anak, ilustrasi, film animasi, boneka, sampai lagu. Ia adalah pencerita yang tangkas dan kreatif. Misha, seniman yang didaulat “menjadi Pak Raden” di pembukaan Museum Mini Suyadi, mengaku tak sanggup mengikuti gaya mendongeng sambil menggambar yang menjadi ciri khas Pak Suyadi. “Nggak kekejar,” kata Misha. Kendati begitu, Misha menginterpretasikan Pak Suyadi dengan gayanya sendiri. Ia bercerita dengan cara dan konteks yang dikenalnya, menggunakan boneka buatannya yang tak sama dengan boneka-boneka Si Unyil, serta membagikan sekelompok kucing bertongkat yang berbeda dengan kucing Pak Suyadi. Aku membaca pertunjukan ini sebagai cara karya-karya Pak Suyadi melanjutkan napasnya kepada generasi selanjutnya.
Baiklah. Mari kita kembali kepada si kucing. Ketika bangku hadirin sedang kosong, ia melompat ke sana dan tidur dengan santainya. Sepertinya ia lelah menjadi peninjau yang menyusuri seluruh lokasi acara. Diam-diam aku berterima kasih kepada para kucing—termasuk si kucing peninjau—yang telah menjadi inspirasi karya-karya asyik Pak Suyadi. Aku rasa kehadiran si kucing adalah salah satu bentuk “sama-sama” dan “terima kasih” yang hadir bulak-balik antara seniman, inspirasi, karya, dan kebaikan-kebaikan yang dihasilkannya.
Aku mengamati si kucing dan menyadari panji Ourchetype yang melatarinya. “Lah, kucingnya sama,” cetusku sambil cepat-cepat mengangkat kamera.
Ia adalah kucing liar, seliar ide-ide Pak Suyadi yang bahkan tak bisa dibatasi napasnya sendiri.






Komentar