"Kalau nanti ada kesusahan di pernikahan kalian gimana?" tanya Pastor Yulius di pemberkatan pernikahan kami. Spontan kami ngejawab, "Kami nggak mau mikir yang susah-susah, Pastor."
Taun lalu, catatan ulang taun pernikahan kami juga Dea mulai dengan peristiwa ini. Dea sadar jawaban kami pasti kedengeran naif banget. Tapi ternyata, jawaban yang kedengaran asal-asalan itu seperti doa yang dikabulin.
Dalam 12 taun ini, we've been through a lot. Kami tukeran perspektif, bernegosiasi, dan bertumbuh secara organik. Idup nggak selamanya mulus, tapi ketika nyoba nginget-nginget, memori Dea nggak nyimpen susah-susah dalam prosesnya. Dea justru lebih banyak nginget mudah-mudah yang kami jalani setelahnya.
Beberapa waktu yang lalu Ikanpaus dan Dea ngobrol soal pernikahan kami 12 taun ini. Ada poin kunci yang kebahas dan baru kami sadarin di taun ke-12 ini:
Menerima.
Sejak ngambil keputusan untuk nikah, kami siap untuk saling menerima. Terima, bahkan sebelum betul-betul ngerti, karena ternyata penerimaan inilah yang bikin semua proses lebih effortless dan organik.
Dua belas adalah angka istimewa yang sering jadi pengukur satu putaran waktu. Dua belas bulan dalam setaun, dua belas angka yang ada di jam, dua belas zodiak.
Dua belas tahun ini kami diberkati dalam segala bentuk, termasuk dengan kehadiran semua yang ada di episode-episode perjalanan kami.
Terima kasih sepenuh hati.
![]() |
| Kue bikinan mama mertua |
Oh, iya, di hari ulang taun pernikahan kami, Dea memasuki buku harian ke-159.
Selamat Hari Keseimbangan
Salamatahari, semogaselaluhangat dan cerah.



.jpeg)
Komentar