Tukang Post Pasti Selamat

Aku berdiri di pangkal jembatan yang seharusnya kuseberangi. Tak ada penerangan di sepanjang jembatan itu, kecuali bulan di langit ungu tua. Sambil melamun, aku mencoba menerka-nerka panjang jembatan tersebut. Kira-kira apa saja yang mungkin kutemui di sana dan sanggupkah aku menyeberanginya?

                                                                                                                                 

Ketika aku tengah berdiri ragu-ragu, sebuah siluet bergerak mendekat. Sesosok manusia menuntun sepeda onthel dengan sepasang tas obrok di sisi kanan-kirinya. Bunyi bel sepedanya unik: tring trung trung, tring trung trung.

 


“Mau ke seberang juga?” tanya sosok pendorong sepeda yang kemudian berhenti persis di sebelahku.

“Iya,” sahutku.

“Kok belum jalan?” tanyanya.

“Yah, belum aja,” sahutku sambil menatap keentahan yang gelap di seberang jembatan.

“Panggil aku Selamat, nama lengkapku Sesuai Alamat, aku tukang post.” sosok itu mengulurkan tangan.

“Tukang pos maksudnya?” aku memastikan.

“Bukan, tukang post. Post, sesudah. Aku mau mengantar itu semua,” kata Selamat sambil menunjuk tas obroknya.

“Apa itu?” tanyaku.

“Segala sesuatu yang akan dibutuhkan post masa ini.”

 

Selamat menyandarkan sepedanya di pangkal jembatan. Ia dan aku sama-sama memandang kegelapan di depan. Tiba-tiba ia menarik napas dalam. Embusannya seperti simbal dram yang halus tetapi terdengar jelas di tengah kesunyian.

 

Ada keraguan, masa depan yang samar di kepala, senandung Selamat.

 

Aku menoleh cepat dan merasa ditemani. Ternyata tukang post ini sedang ragu juga, sama seperti aku, pantas saja ia menyandarkan sepedanya dan tak langsung menyeberang.

 

Katakan jika malam bisa bicara, mungkin ia bilang “sabar sebentar”

Kamu, masih menghitung mimpi, kamu masih menumbuhkan arti.

 

Selamat sosok yang selow. Tuturannnya tenang dan tak terburu-buru. Iramanya stabil seperti kebiasaan panjang yang sudah menjadi bagian diri kita. Selamat mengucap “ragu”, tetapi aku tak menemukan keraguan pada nada bicaranya. Walaupun santai seperti pendinginan senam aerobik, ia tidak pernah kehilangan arah apa lagi sampai menggantung gamang.

 

Kawan-kawanku sibuk mengejar kota lain.

 

Oh, itu masalahnya, batinku sambil melirik sepeda retronya yang digantungi sepasang tas besar. “Mat, mana bisa mengejar kota lain pakai itu? Sekarang tukang pos—yah meskipun kamu tukang post, ya—seenggaknya naik motor. Kamu nggak mau coba pakai kendaraan lain yang lebih cepat?” tanyaku.   

 

Aku pun sibuk kenali pikiranku lagi.

 

Selamat tidak menggubrisku, jadi aku tidak mendesakkan saranku. Kubiarkan Selamat curhat lebih banyak agar aku juga lebih paham jalan pikirannya. Kudengarkan ia bercerita tentang perjuangannya, patah hatinya, sampai senyum palsunya yang menyakiti diri sendiri. Setelah cukup berkeluh kesah, tiba-tiba ucapannya melambat. Aku pikir dia lelah. Ternyata ia melanjutkan dengan irama yang lebih bersemangat. 

 

Coba dengarkan sejelasnya

Sejelas-jelasnya

Jelas aku yang tahu arahnya.

 

Betul, kan, dia tidak ragu. Sebetulnya Selamat tahu harus ke mana dan mau apa. Dia hanya butuh diyakinkan. Oleh dirinya sendiri pula. Dia percaya pada sepeda onthelnya. Pada isi tas obroknya yang aku tak tahu apa. Pada masa depan samar yang sebetulnya akan ia jelang dengan langkah pelan-pelan. Aku tersenyum.

 

Duduk manis dan tunggu saja, sesuai alamat.

 

“Sebetulnya kamu mau kirim barang untuk siapa, sih, Mat?” tanyaku.

“Untuk aku, dong. Kita semua tukang post untuk diri kita sendiri,” sahut Selamat.

“Jadi aku tukang post juga?” tanyaku tak menyangka.

“Ya iya. Kamu pikir kenapa kamu ada di sini dan harus menyeberang?”

 

Sesaat kemudian, Selamat naik ke sadel dan menyalakan lampu sepedanya. Baru kusadari, sepeda itu berlampu! Mataku menyala sama terang dan tertariknya dengan lampu sepeda yang klasik seperti senter hansip. Selamat menangkap kekagetan di wajahku.  

 

“Kamu juga punya lampu meskipun kamu nggak punya sepeda,” Selamat meyakinkan.

“Mana?” tanyaku.

Hias dengan doa, supaya indah jalannya, dendang Selamat.

 

Sepeda Selamat meninggalkan pangkal jembatan. Cahaya lampunya menatap masa depan samar di depannya dengan yakin.  Nyanyian Selamat tetap tinggal di kepalaku, bahkan setelah aku tak lagi dapat mendengarnya. Aku yakin Selamat sang tukang post akan tiba dengan selamat; sesuai alamat.

 

Pangkal jembatan kembali hening. Aku melempar pandanganku sejauh-jauhnya pada kegelapan di ujung jembatan. Jika aku memang tukang post, apakah aman jika aku mencoba berjalan saja diterangi doa?

 


 

Dhira, thanks for the song. I really need this today. 

 Sundea 

 

 

Komentar