Transisi

 

Hai, aku kembali.

 

Akhir-akhir ini aku merasa keyakinan diriku dirampok. “Basi” menjadi kata yang seakan menghakimi langkahku. Meskipun tak berhenti menulis, ada keseganan mengunggah tulisan di media sosial, termasuk zine-zine-an online ini.

 

Akhir-akhir ini aku merasa dihantui oleh tuntutan menjadi mutakhir. Berbagi cerita, yang biasanya membuatku merasa penuh, ditahan oleh macam-macam keraguan. Aku merasa terdampar di titik yang gamang. Titik transisi.

 

Transisi adalah masa yang personal dan sunyi. Ia merupakan jembatan temaram yang perlu kita seberangi dengan irama kita sendiri. Sebagian orang menyiasati gamang dengan one step at a time, ada yang berjalan pelan-pelan tetapi penuh keyakinan, ada juga yang memilih terus bergerak seperti roda sepeda.

 

Di edisi ini, aku mengantar cerita tiga perempuan tentang masa transisinya. All females pannel untuk merayakan Hari Perempuan International yang baru lewat beberapa hari lalu. Ada Tiffany yang sedang belajar menjalani hidup sebagai single mom dan berkenalan dengan diri sendiri, ada Selamat si Sesuai Alamat karya musisi muda Dhira Bongs, dan ada Ibu Dedeh Warsitoh yang terus bergerak menyesuaikan diri dengan zaman.

 

Aku sendiri akhirnya memutuskan berjalan kembali.

Berjalan saja.

Mungkin dengan begitu transisi dapat tertempuh secara alami seperti pergantian musim.    

 

Kamu sendiri apa kabar? Bagaimana dengan tahapmu hari ini? Adakah di antara kisah-kisah ini yang beririsan dengan hidupmu?

 

Selamat Hari Keseimbangan

Salamatahari, semogaselaluhangat dan cerah,

Sundea

 


 

Komentar