Namanya Tiffany. Setelah lebih dari satu dekade saling kenal, baru hari itu kami mengobrol panjang. Di mataku, Fanny adalah sosok elegan yang nyaris sempurna. Ia cantik, anggun, terdidik, dibesarkan di tengah keluarga pebisnis yang cukup berada, dan dipersiapkan masuk ke jalur itu juga.
Namun, saat ini Fanny sedang berdiri di titik transisi. Ia sedang belajar menjadi single mom of two boys, berupaya lebih jujur kepada dirinya sendiri, dan berkenalan kembali dengan apa yang sebetulnya ia inginkan. Segala hal yang selama ini ia jadikan ukuran seakan dibongkar dan harus dikalibrasi kembali. One step at a time adalah caranya bertahan di masa yang serba gamang.
Di zine-zine-an online edisi 215, Fanny akan berbagi cerita untuk kita semua. Pada kejujuran suaranya, sangat mungkin kamu menemukan dirimu sendiri.
Hai, Fan
Hai, De. Aku deg-degan, nih, aku nggak pernah diwawancara-wawancara gini.
Kenapa aku juga jadi deg-degan, ya? Wkwkwkwk.
Mungkin karena selama ini kita nggak pernah ngobrol kayak gini.
Iya, ya. Padahal kita kenal udah lumayan lama. Kamu sekarang sibuk ngapain aja, Fan?
Sekarang ngantor, bantuin Mami, tapi nggak full time, terus ngurusin anak-anak, dan on going proses nulis buku juga, sih.
Wiiih, buku apa, nih?
Buku memoar. Intinya, sih, tentang perjalanan transisi di dalam hidup aku. Aku, yang tadinya married, sekarang single. Perjalanan itu nggak mudah, tapi dari situ aku dapat banyak banget pelajaran. Kayaknya sayang, gitu, kalau pelajarannya berhenti di aku, jadi aku bukukan.
Kapan rencana terbitnya?
Rencananya bulan Mei.
Wah, pas bulan ulang tahun kamu, dong. Judulnya apa, Fan?
Sebetulnya baru akan rilis detailnya by April, bulan depan hihi.
Aaaah, ok. Apa yang awalnya bikin kamu ngemas pengalaman kamu dalam bentuk buku?
Agak impulsif sebetulnya. Aku sempet trip solo gitu kan ke Bali, sekitar 5 hari. Terus pas perjalanan pulang, nggak tahu kenapa, aku ngerasa kayaknya nulis buku lucu. Random thought aja. Sempat ada insecurity, masa nulis buku? Random banget. Mau nulis apa? Emang ada yang mau baca buku aku?
Kenapa kamu insecure?
Psikolog aku bilang, kayaknya inner critic aku lebih dominan daripada inner coach aku. Jadi inner voice aku itu kritik, De, soalnya aku dibesarkan dengan cara dikritik. Sebetulnya kalau ke anak-anak aku ngasih ruang untuk bereksperimen, gagal, salah, tapi ke diri sendiri aku nggak kayak gitu. Psikolog aku bilang, “cobalah dilatih supaya inner coach kamu lebih dominan daripada si inner critic-nya. Kalau kamu bisa melakukan ke anak-anak kamu, kamu sebetulnya bisa ngelakuin ke diri sendiri”.
Dan itu akhirnya kamu lakuin? Gimana prosesnya?
Respons pertamanya tetep kritik dulu, tapi aku terus aku mikir, ah nggak ada salahnya (nyoba nulis dan nerbitin buku). At least kan I’m finding and search apa yang works dan apa yang enggak untuk aku. Kalau ternyata gagal juga, it’s an answered too. Jadi ya udah, kalau ternyata nggak gimana-gimana, anggap aja ini eliminiasi. Jadi aku berusaha mencoba mengubah narasinya. Buku ini nggak harus laku atau jadi besar. Aku pengen berbagi aja lewat sini. Ternyata mengubah narasi-narasi itu membuat bebannya nggak terlalu berat, melangkah jadi lebih berani aja gitu.
Ok. Kalau denger kata “transisi”, apa yang ada di pikiran kamu?
Mmm, kalau dulu aku mikir transisi itu kayak getting bigger, stronger. Tapi perjalanan hidup aku sekarang ngajarin, transisi itu lebih ke dari yang tadinya nggak terlalu aware sama diri sendiri, jadi lebih aware; berusaha belajar hidup lebih selaras sama pelajaran yang didapat along the way, gitu.
Apa yang bikin kamu sampai di titik transisi ini?
Sebenernya karena kepentok, sih, ya, karena waktu itu aku udah menunjukkan gejala-gejala depresi. Segala cara udah dilakukan, tapi nggak works. Sampai di satu titik, ketika hampir depresi, aku ngerasa kayaknya aku nggak bisa terus-terusan kayak gitu. Ada sesuatu yang harus aku lakuin berbeda. Akhirnya waktu itu ke psikolog.
Apa yang kamu dapet dari pergi ke psikolog?
Aku menyadari, bahwa untuk banyak sekali waktu di dalam hidup aku, aku lebih sering ngedengerin orang lain. Opini orang lain duluan, pikiran orang lain duluan, mimpi orang lain duluan, dan aku jarang banget ngasih tempat buat suara aku sendiri. Salah satu hal yang bikin aku hampir depresi, karena aku sering dilihat aneh. Terlalu pemikir, terlalu perasa, unik cara pandangnya, nggak kayak kebanyakan orang. Jadi ketika ada suatu masalah, aku sering ngerasa kalau aku yang salah, aku yang aneh, aku yang cara pikirnya keliru.
Sebelum ke psikolog sebetulnya aku udah sering nulis. Aku punya banyak pertanyaan karena aku pemikir, jadi aku selalu ngerasa pengen nuangin apa yang ada di kepala aku supaya nggak terlalu bising. Waktu itu psikolog aku bilang, aku sebetulnya punya kemampuan kognitif yang baik. Tapi kayaknya judgement orang, conditioning yang ada selama ini, membuat aku kayak langit berkabut, harus di-clear up dengan cara mulai ngasih ruang untuk dengerin apa yang sebetulnya aku mau dan suka.
Pelan-pelan aku punya kekuatan untuk melangkah satu langkah lagi, satu langkah lagi, sambil connecting the dots. Nggak bisa langsung klik saat itu juga, tapi ya udah aja, dicoba lagi, dicoba lagi, sampai aku nemu jawaban yang aku butuh untuk meyakinkan diriku untuk bilang: ok, ini waktunya aku transisi, waktunya berani melakukan perubahan. Padahal dari dulu aku, tuh, ngerasa takut banget melakukan perubahan.
Apa yang ngebentuk kamu jadi orang yang takut melakukan perubahan?
Dari aku kecil, untuk amannya, Mami selalu ngerasa lebih baik dia yang milihin, jadi risikonya terukur. Mulai dari baju, bagusnya sekolah apa, sekolah di mana, bener-bener ditentuin. Dulu aku pengennya antara ke musik atau nggak psikologi, cuma memang nggak dikasih ruang karena itu bukan pilihan yang (dianggap) umum waktu dulu, jadi aku ambil ekonomi. Sebenernya aku ngerasa itu out of love juga, sih, karena yang mereka tahu, jalur yang aman adalah berbisnis kalau nggak yang lempeng-lempeng aja antara jadi dokter atau arsitek. Milih pacar juga aku hampir selalu berseberangan sama yang orangtua aku mau. Terus akunya jadi nggak terlatih mendengarkan suara aku sendiri. Apa yang kata Mami baik, ya baik aja buat aku.
Apa perubahan besar yang paling kerasa setelah kamu ngambil keputusan untuk ngambil langkah transisi?
Aku, tuh, jadi berusaha hidup lebih jujur sama apa yang aku mau, apa yang valuable buat aku. Transisi aku sebenernya untuk jadi lebih jujur aja sama diri sendiri. Memang akhirnya nggak perfect, ya, tapi aku nemuin kepingan-kepingan yang bikin the whole picture of me jadi lebih komplit. Aku jadi lebih bisa menerima diri aku apa adanya. Bukan kayak pergi, but in a sense kayak coming home.
Coming home. Aku suka analoginya.
Setelah aku refleksi, aku merasa ada 4 sisi dari diri aku yang aku selalu tentang karena rasanya selalu salah di mata orang lain.
Pertama, sisi kreatif aku karena biasanya kan quite messy, ya, orang-orang yang kreatif. Part diri aku yang lebih seneng seni nggak dikasih ruang sama keluarga karena nggak dianggep sebagai sesuatu yang menghasilkan dan berprospek.
Kedua, sisi sensitifnya. Karena perasa, aku jadi lebih sering ngerasa dicap cengeng, lemah, jadi aku selalu ngersa harus kuat, harus keliatan begini, begitu, walupun di dalem kayaknya ancur.
Ketiga, sisi reflektif yang mana pemikir banget. Kalau ada sesuatu, aku bisa ngeliat, layer-nya banyak banget. Sementara buat orang lain, tuh, kenapa, sih, lu harus mikir serumit itu? Apa nggak bisa hidup biasa-biasa aja, simpel aja?
Terus yang terakhir adalah soal progresif bahwa aku tuh seneng banget bertumbuh. Dari dulu aku seneng belajar, seneng cari tahu hal baru, mempertanyakan hal-hal yang menurut aku nggak masuk akal, kritis, itu tuh part yang untuk banyak orang itu rasanya jadi kayak ancaman.
Hah? Ancaman gimana?
Ancaman untuk identitas mereka, untuk apa yang mereka yakini, apa lagi kalau udah berhubungan sama hal-hal yang sifatnya spiritual, jadi kayak ancaman untuk keyakinan mereka. Itu juga yang terjadi di relationship au kemarin. Akunya kepengen belajar dan mungkin pace aku juga cepat dan nimbulin gap yang bikin jadi grow apart. Nggak ada catching up yang sempat dilakukan untuk bisa kalibrasi terus. Jadi akhirnya ya udah grow apart aja.
Kalau keempat hal itu disatuin dan dijadiin tindakan nyata, apa yang mau kamu lakuin dengan bekal suara itu?
Yang pertama kemarin kepikir pengen berkarya aja, sih, kepengen ngehasilin sesuatu karena aku dari dulu nggak pernah dikasih ruang untuk nyoba ini-itu. Semua path udah ditentuin sama orangtua.
Di posisi kemarin, waktu pisah, aku ngerasa betul-betul kehilangan identitas dan nggak tahu mau ngapain. Akhirnya, ya udah, apa yang ada di depan aku coba. Aku nyoba nulis di Instagram dan ternyata aku suka berbagi dalam bentuk tulisan. Terus aku ketemu teman sharing. Ternyata mereka ngerasa ada something yang resonate sama mereka, relate, dan aku belajar sesuatu dari situ. Itu ok banget untuk aku rasanya.
Terus sekarang aku gerejanya pindah ke ICC, Cihampelas. Baru banget mereka ngegarap choir-nya dan minta aku jadi bagian dari tim yang ngurusin choir itu juga karena mereka nggak punya pengalaman dari sisi choir. Di momen aku nerima partitur kayak I’m in my element lagi aja, gitu, rasanya excited, seru.
Oh, iya. Kamu dulu memang aktif di choir, ya? Suami aku juga tahu kamu dari choir sebetulnya.
Iya. Memang dari TK aku ikut choir. Akhirnya si Papi menyadari kalau anaknya punya interest ke situ (koor). Makanya aku jadi diarahin untuk pelayanan di gereja. Aku join di St. Peters (nama koor Gereja Kathedral, Bandung-red) sejak SMP, anak bawanglah dulu, yang lain udah pada SMA, kuliah, aku SMP sendiri. Dari situ aku ketemu orang-orang lain lagi, ikutan choir independen, waktu itu sama Kak Didut (almarhum. Aktivis koor di Bandung-red) juga.
Begitu udah hamil dan punya anak jadi lebih sulit, soalnya ada ekspektasi tertentu dan kondisinya tidak memungkinkan untuk terus latihan. Waktu itu latihannya dua kali seminggu, jadi ya stop, bener-bener full time mom aja waktu itu.
Tapi kayaknya aku memang selalu rindu aja sama dunia musik. Waktu itu yang dilakukan cuma nyanyi sama anak-anak dan ngedengerin musik dari Youtube, konser, atau apa.
Artinya Papi sebetulnya kasih kamu ruang untuk berkesenian, ya?
Semakin ke sini aku sadar memang itu (darah seni-red) turunnya dari sisi keluarga Papi. Jadi Engkong itu dulu saksofon player. Terus si Papi di rumah punya kayak gendang dan memang suka main. Terus dari dulu, yang selalu melekat di aku, kalau dianter-jemput sekolah sama Papi naik mobil, pasti ada lagu. Papi juga pasti ngebahas lagunya. Nyeninya memang dari keluarga Papi, kalau dari keluarga Mami nggak ada yang gitu, cuma memang dinamika orangtua aku, Mami yang lebih dominan.
Setelah kamu pisah, ada bedanya nggak parenting ke anak sama dulu?
Kalau ngeliat perbandingan interaksi aku pas masih berdua sama sekarang, aku ngerasa aku calmer dan lebih grounded dalam nanganin anak-anak. Dulu kayak banyak banget emotion dan luka lama yang keluar. Sekarang aku ngerasa lebih bisa… apa, ya? Manage emotions, expectation ke anak-anak, jadi nggak ngebawa trigger yang aku bawa dari luar ke mereka, gitu.
Which is good, ya. Ini bagian dari clear up juga. Ok. Harapan setelah melewati masa transisi ini apa, Fan?
Kayaknya aku masih lebih pengen kenal dari aku. Masih banyak layers yang belum aku kenali. Terus, secara hidup aku pengen lebih intentional aja, sih, De. Aku sekarang ada di mindset nggak mau ngelakuin sesuatu asal-asalan atau nggak ada meaning. It’s ok kalau cuma kecil juga, cuma aku tau kalau I put meaning di situ, nggak kepingin cuma asal lewat.
Terakhir. Pesan untuk pembaca Salamatahari yang mungkin juga ada di titik transisi?
Mungkin aku nge-reflect dari apa yang waktu itu aku rasain juga, ya.
Masa transisi atau di tengah-tengah masa transisi, tuh, rasanya paling gelap karena seperti nggak ada ujungnya. Kayak, ini beneran bakal nyampe, nggak, sih? Kalau punya masalah, ini bakal ada jalan keluarnya nggak, sih? Yang menyelamatkan aku waktu itu adalah fokus sama one step at a time. Pokoknya beresin hari ini aja dulu.
Aku juga jadi punya pandangan yang berbeda soal keberhasilan. Kalau dulu, aku ngerasa “berhasil” artinya ngedapetin apa yang kita mau. Setelah ngelaluin struggle yang banyak, harus ada hasil yang wah gong banget, gitu. Tapi setelah ngelaluin yang kemarin, aku ngerasa yang udah dilewatin nggak akan sia-sia. Pasti akan ada makna yang akhirnya bikin apa yang udah kita laluin worthed.
Aku menyambut gembira langkah baru Fanny. Ia merasa lebih ajeg, meskipun menurutnya pertumbuhannya adalah a never ending journey yang kini akan dia tapaki sejujur mungkin.
Kita tunggu kelahiran bukunya dua bulan lagi, ya, Teman-teman, sementara ini, sapa Fanny di akun instagramnya @fanytif. Mungkin kamu ingin menyimak potongan kisahnya dan membagi kisah-kisahmu juga.


Komentar