Ibu Dedeh: Boomer yang Berlari Secepat Zaman

Apa ini? TK? Sanggar? Batinku saat melewati bangunan di bilangan Cijengkol, Lembang. Dindingnya hijau cerah, kontras dengan rumah-rumah lain di sekitarnya. Aneka benda DIY yang menghias pekarangannya mencuri perhatianku. Penasaran, Ikanpaus dan aku memutuskan untuk mampir.

 

“Ini mah rumah tinggal,” kata penghuninya, Ibu Dedeh Warsitoh, yang tengah menjaga warungnya sendiri.

“Oh, ya? Lucuuu. Siapa yang hias-hias, Bu?” tanyaku.

“Ya saya,” sahut Ibu Dedeh sumringah.

“Apa yang bikin Ibu kepikir hias-hias tembok kayak begini?”

“Tembok kan kosong. Daripada kosong, kita buat hiasan aja supaya pantas.”

 

“Pantas” adalah pilihan kata yang menarik, selaras dengan caranya memilih busana. Siang itu ia mengenakan gamis pink-putih yang dipadukan dengan kerudung berwarna senada.

 


Ibu Dedeh berusia 62 tahun. Pengalaman hidupnya bervariasi dan penuh warna seperti pekarangannya. Ia pernah berdagang kerupuk buatan sendiri, tetapi berhenti akibat kebakaran. Ia juga pernah tinggal di Jakarta dan bekerja di salon. “Salon Queen, di Jatinegara,” ia menginformasikan.

 

Ibu Dedeh pun pernah membuat bakmi warna-warni dengan pewarna alami yaitu caisim dan wortel. Inovasi dengan aci pun tak hanya menghasilkan kerupuk. “Nggak pada tahu cigong sama cingek, kan?” tanya Ibu Dedeh jenaka. Ternyata cigong adalah aci jagong (aci jagung) sementara cingek adalah aci cengek (aci cabai rawit). Ibu Dedeh memang kreatif. Setiap masa transisi dalam hidup diisinya dengan inovasi baru. Ia sama sekali tak pernah berhenti.


 

“Ibu dari kecil suka bikin-bikin, ya, Bu?”tanyaku.

“Ah, waktu kecil mah bikin-bikin dari tanah. Kalau dulu mah belum ada kegiatan kayak gini,” kata Ibu Dedeh.

“Kegiatan apa, Bu?” tanyaku.

“Kan dulu mah belum ada Tiktok.”

 

Di usianya yang sudah kepala 6, Ibu Dedeh beradaptasi, bahkan merasa sangat dibantu oleh kemajuan teknologi. “Sekarang saya lagi senang anggrek,” ceritanya, “dari dulu teh cita-cita pengin tanam anggrek, tapi belum tahu caranya, kan belum ada Tiktok. Sekarang ada Tiktok.”

 

Ibu Dedeh meyakinkan, isi Tiktok bukan cuma joget-joget. Ada tausiah, tutorial membuat apa saja, dan informasi-informasi yang menurutnya bagus-bagus. Algoritma bahkan memudahkannya menemukan apa yang dicari. “Dulu waktu saya suka bikin aci, keluar aciii semua. Sekarang anggreeek, semua”.

 

Ternyata hiasan di pekarangan rumahnya belum selesai. Bu Dedeh masih butuh dana untuk membeli cat. Namun, ia tidak berhenti bergerak. Sambil menunggu datangnya rezeki, ia asyik memelihara anggrek. Tiktok pulalah yang memberi Ibu Dedeh informasi tentang anggrek liar yang tumbuh di kayu-kayu.


Akhir-akhir ini, aku sering mendengar istilah “standar Tiktok” untuk hal-hal yang dianggap banal. Namun, setelah mengobrol dengan Ibu Dedeh, aku jadi mempertanyakan kembali. Apa betul semua yang banal adalah “standar Tiktok”? Bukankah kita sendiri yang meniupkan napas pada algoritma media sosial kita termasuk Tiktok?

 



Sundea

Psst. Kunjungi Bu Dedeh di warungnya di sini. Menjelang Lebaran, katanya ia membuka pesanan kue bapel. 


 

Komentar