Namanya Sutrisna. Ia selalu yakin bahwa teman di mana-mana adalah kekayaannya. Ia gemar menjalin pertalian yang mengantarnya mengenal banyak hal, memahami perbedaan, pun membuka pintu rezeki dan kesempatan-kesempatan untuk berkembang. Saat ini Sutrisna—aku memanggilnya Kang Trisna—menjadi perpanjangan tangan program Tunas dari Bandung Philharmonic untuk membangun komunitas musik di Subang.
Tema “Pertalian” di Salamatahari edisi ini mengingatkanku pada Kang Trisna. Sebetulnya wawancara bisa saja dilakukan secara daring, tapi Kang Trisna memilih mampir ke rumahku dan mengobrol langsung. “Nggak ngerepotin Kang Trisna jadinya?” tanyaku. “Nggak apa-apa, nyantai, da,” sahutnya. Kebetulan dia pun ada jadwal mengajar di Bandung.
Siapa Kang Trisna, apa kisahnya, dan bagaimana ia menjalin pertalian? Simak obrolan seru dengannya.
Kang Trisna nama lengkapnya siapa?
Sutrisna, makanya Sutrisna Hungkul (“saja”, bahasa Sunda), sampai di Suzuki (pelatihan guru musik) yang Filipina, sertifikat saya Sutrisna Hungkul.
Hahaha. Disangka nama beneran, ya, Hungkulnya?
Untung diganti, ya, akhirnya. Tapi kalau lihat di Facebook, nama saya Asep Sutrisna. Sebetulnya nama saya waktu kecil, termasuk di rapor, Asep Sutrisna. Terus pas kelas 6, Asepnya hilang. Saya dipanggilnya Kang Trisna.
Tapi dari dulu berarti dipanggilnya memang “Trisna” bukan “Asep”?
Waktu kecil, sih, Asep, tapi terus SMP ke sini jadi Trisna. Ada juga yang panggil Tresna. Tapi ada temen saya yang deket banget bilangnya “Si Pejalan Malam”.
Wah, menarik. Kenapa si Pejalan Malam?
Saya sebetulnya nggak pernah tanya juga kenapa Pejalan Malam. Tapi jalan malam memang lebih enak, ya, lebih sejuk. Terus banyak hal menarik saat malam-malam. Saya suka ketemu orang-orang yang jarang kelihatan siang, orang-orang yang tidak umum yang munculnya malam. Kalau menurut Dea gimana?
Aku kan nggak pernah lihat Kang Trisna jalan malam-malam, soalnya aku pejalan siang hahaha. Tapi apa ini maksudnya metafora?
Metafora, iya.
Kalau metafora, mungkin karena orang-orang yang ketemu Kang Trisna itu entah mengapa sering yang hidupnya gelap dan butuh ditemenin.
Yang memang lebih cocok keluar malem, gitu, ya?
Mungkin juga. Kang Trisna ketemunya orang-orang yang keluar ketika yang lain udah istirahat. Tapi, Batman kan juga keluarnya malem-malem hehehe.
Mungkin memang metafor yang bisa ditafsirkan begitu, ya. Sampai terakhir ketemu, dia masih bilangnya “Trisna si Pejalan Malam”.
Nah. Kalau gitu kegiatan sehari-hari Kang Trisna, termasuk yang siang-siang, apa?
Saya nemenin anak-anak belajar gitar dan sedikit pianika. Di SD Panji, di SD Perumnas, di Program Tunas, privat ke rumah yang anak-anak bayarnya terserah. Anak-anak dari SD Panji juga akhirnya ke rumah karena sekolahnya deket rumah, soalnya alat-alatnya banyak, disimpan di sekolah takut rusak.
![]() |
| Suasana latihan gitar di rumah. Sumber: IG @sutrisnahungkul |
Lho, pelajaran sekolah bisa di rumah?
Masuknya ekskul, terus ini juga masuk program Tunas.
Jadi Tunas itu sebetulnya apa, Kang?
Tunas atau Tunas Nada dan Simfoni itu program belajar musik gratis dari Bandung Philharmonic buat yang nggak mampu, saya megang yang di Subang.
Gimana ceritanya Kang Trisna bisa terhubung sama Bandung Philharmonic dan megang percabangan program Tunas di Subang?
Saya dekat sama Fauzie (ketua pertama program Tunas) karena sama-sama ngajar di Allegria. Sebelum ada program Tunas ini, saya sering ngomong, “Zie gimana, ya, pengen bikin ensambel gitar, kalau bisa mah di Subang”. Terus wacana itu hilang. Tahu-tahu suatu malam saya di-whatsapp sama Fauzie, ditanya mau nggak saya ngajar di Lembang. Saya mau banget, tapi nggak jadi malah. Akhirnya Bandung Philharmonic dan BeSharp kerja sama untuk Tunas. Saya jadi ikut training Suzuki gara-gara Tunas.
Awalnya, sih, saya nggak kira bakal bikin di Subang karena lebih banyak teman-teman dari Bandung atau Lembang (yang ikut training). Tahunya saya diminta bikin di Subang. Terus, karena saya dekat dengan teman-teman SD Panji, ya jadi di SD Panji. Awalnya gitarnya dibawa ke sekolah, tapi riskan, jadi anak-anak yang ke rumah saya. Sampai sekarang pas jam istirahat anak SD suka ke rumah saya, lumayan setengah jam belajar.
Wah, jam istirahat boleh keluar dari sekolah?
Bisa, kalau di daerah bebas, beda sama di kota-kota besar. Terus di tahun kedua anak-anak di sekitar rumah juga pengen belajar, jadi ya udah, mereka ikut juga.
Nah. Visi Kang Trisna untuk Tunas yang di Subang ini apa? Soalnya tiap cabang Tunas ini visinya beda-beda, bergantung kebutuhan yang belajar dan situasi di sana.
Sekarang, sih, pengennya jadi komunitas supaya semua bisa ikutan belajar musik.
Musik ini bisa jadi sesuatu yang membangun hal-hal di luar belajar musik itu sendiri, nggak, Kang?
Kelihatannya, sih, iya. Sekarang kan campur, dari berbagai latar ekonomi, agama, ada yang berkebutuhan khusus juga. Dulu kan yang belajar semua satu agama. Sekarang ada yang dari agama lain dan kalau latihan nggak saling ganggu jadwal ibadah masing-masing agama. Mereka juga jadi dekat banget satu sama lain, udah kayak kenal lama, sampai ada yang nangis karena seneng bisa ikut gabung. Waktu ada acara sama Joy Ensamble dari Singapur, anak-anak ke Bandung sama-sama terus main ke Braga, kan banyak yang belum pernah. Terus pernah sama-sama ikut kompetisi ke Yogyakarta. Walaupun nggak menang, ada pengalaman.
Oh, bagus, ya, kelompok inklusif karena main musik sama-sama. Kalau nggak lewat musik, mereka nggak akan ketemu, ya?
Iya, pada main sendiri-sendiri. Bahkan ada yang nggak pernah main sama siapa-siapa karena berkebutuhan khusus. Tapi dia itu bagus banget, lho, pertemuan pertama langsung bisa baca not balok sederhana dan dia main di gereja. Sekarang gabung sama anak-anak yang lain dan ternyata bisa, gitu. Bahkan anak-anak sekarang punya grup whataspp yang mereka aja, sayanya mah nggak ada hahaha.
Kang Trisna di sana ngajar sendirian?
Ada teman, Issa namanya, dari Bandung. Terus kemarin kan ada training untuk guru-guru baru dan sekarang ada guru angklung, udah jalan satu pertemuan.
Dulu kan Kang Trisna ngajar di rumah, sekarang kan pindah ke lokasi baru, tepatnya di areanya restoran pizza D’Rizz. Itu gimana ceritanya, Kang?
Dulu, selain di rumah saya, saya ngajar di rumah Kakak yang kosong. Kebetulan rumahnya di depan rumah saya. Di rumah saya sempit (karena anak-anaknya semakin banyak). Nah, tapi rumah Kakak mau dijual, jadi nggak bisa buat latihan. Kebetulan saya kenal sama Bu Yanti, yang punya D’Rizz. Ngobrol lah saya sama Bu Yanti, terus Bu Yanti bilang, “Sok aja, Pak, pakai (tempat di D’Rizz), nggak usah bayar”. Itu sekitar tahun 2022. Memang kendalanya anak-anak Tunas nggak semuanya mampu, nggak punya kendaraan untuk sampai ke D’Rizz. Meskipun biasanya yang punya motor ngajakin temannya ke sana, nggak selalu bisa. Akhirnya di D’Rizz cuma seminggu sekali. Sehari-hari tetap di rumah saya. Diusahakan memanfaatkan yang ada aja.
![]() |
| Konser kecil di D'Rizz. Foto IG @sutrisnahungkul |
![]() |
| Pelatihan pengajar di D'Rizz |
![]() |
| Michael Hall, solois viola "Star Wars" berbagi untuk anak-anak Tunas. Sumber: IG @sutrisnahungkul |
Kalau kenal sama Bu Yanti gimana, Kang?
Dulu Bu Yanti sempat belajar gitar sama saya, terus jadi teman. Beliau juga pernah ngajakin saya—jauh sebelum ada Tunas—untuk ngajar yang nggak berbayar. Kata Bu Yanti, “nggak ada di Subang yang mau kecuali Pak Trisna”. Mungkin dari sana saya jadi dekat sama Bu Yanti dan Bu Yanti juga suka berkegiatan sosial. Bu Yanti mau berbagi dan senang lihat anak-anak latihan. Kadang habis latihan anak-anak juga suka dikasih pizza, dikasih minum apa, gitu.
Bu Yanti sendiri pernah punya komentar tentang program ini, nggak? Kan lumayan, ya, udah 3 tahun di D’Rizz.
Harapan dia, sih, pengen lebih serius lagi, lebih banyak berbuat buat Subang, anak-anak senang belajar musik. Harapannya begitu aja, sih, nggak kepengen ada revolusi gitu atau apa.
Ahahaha, nggak revolusi juga, sih.
Hahaha, iya. Terus harapan dari Tunas sendiri mah, anak-anak yang belajar musik di Subang jadi anak baik, gitu. Nggak melakukan hal-hal yang negatif karena kesempatan untuk berbuat negatifnya juga nggak ada, habis buat latihan.
Kalau harapan Kang Trisna pribadi untuk anak-anak di Subang apa?
Kalau dari saya pribadi, kalau bisa, ya, anak-anak belajar apapun. Tunas kan untuk musik. Kalau saya bisa fotografi, mungkin bisa juga mengajar fotografi ke anak-anak. Atau mungkin nanti ada teman yang bisa ngajar bahasa asing. Pengennya anak-anak belajar banyak hal, semoga bisa jadi bekal buat mereka hidup. Kan saya juga nggak pernah kebayang bisa hidup dari ngajar musik.
Oh, iya. Kang Trisna sendiri kan punya pengalaman menarik, nih, tentang asal mula belajar gitar.
Jujur, awalnya saya belajar gitar buat terapi. Saya susah ngendaliin motorik, ngomong aja susah, perasaan nggak berguna banget, deh, hidup. Terus sempat baca bahwa katanya musik bisa buat terapi.
Kenapa pilih belajar gitar?
Karena yang ada di rumah cuma gitar. Kayaknya waktu itu di setiap rumah ada gitar.
Tahun berapa itu, Kang?
Sekitar tahun 1999-2000, saya lulus kuliah. Waktu itu saya mikirnya mau ngapain, gitu? Ngomong susah, kerja juga rasanya susah, jadi saya belajar gitar walaupun nggak bisa-bisa aja saat itu, sampai guru gitar saya sempat bilang, “Trisna, kamu berhenti aja, buang-buang waktu, buang-buang uang”. Pernah juga saya baru beberapa menit les disuruh pulang, padahal itu saya jauh dari Subang. Soalnya saya nggak bisa ngikutin ketukan, kalau main suaranya nggak kedengeran, jadi guru saya putus asa. Tapi yang pertama kali nyuruh saya ngajar gitar ya guru saya itu.
Oh, jadi meskipun disuruh berhenti les, Kang Trisna tetap les?
Tetap les. Akhirnya malah saya jadi dekat banget sama guru saya. Sampai kalau habis les saya kan pulang ke Subang naik elf dari Ledeng. Dia nganterin saya sampai yang terdekat ke Ledeng.
Wah, kok, malah jadi akrab?
Dia akhirnya minta maaf. Dia bilang “Kenapa saya ngomong seperti itu, karena Trisna nggak bilang kalau Trisna ada masalah. Misalkan Trisna dari awal bilang mah, mungkin saya nggak akan ngomong seperti itu.” Tapi beliau sangat pengaruh untuk saya, dengan bertahan nemenin saya belajar juga sudah berarti sekali. Setelah sekitar 5 tahun belajar gitar, baru saya mulai ngajar.
Nah, berhubung salamatahari edisi ini temanya “Pertalian”, apa yang ada di bayangan Kang Trisna kalau dengar kata “pertalian”?
Silaturahmi. Saya, tuh, kalau punya uang dan hidup saya lebih lama, pengen nyempetin keliling dan ketemu temen-temen yang lama nggak ketemu, yang beda kota, sekalian main. Walaupun zaman sekarang bisa lewat media sosial, kalau ketemu langsung tetap rasanya beda. Kalau kata orang bijak silaturahmi itu memperpanjang umur, memperpanjang rezeki. Rezeki saya juga datang dari orang-orang di sekitar saya. Pertama kali ngajar di tempat-tempat les juga ngegantiin temen. Dia nggak bisa, saya gantiin, terus saya jadi ngajar juga. Saya juga sadar, saya masih bisa bertahan sampai seperti sekarang karena banyak ketemu orang baik yang bantu saya.
Mungkin dari kecil saya memang seneng main ke rumah orang, lihat keluarganya yang cara mendidiknya beda, cara pandangnya berbeda, dan tiap rumah ada aturan-aturannya. Beruntung banget bisa masuk ke sana dan setiap kesempatan itu kekayaan buat saya. Saya juga jadi belajar menyeseuaikan dan itu berguna banget buat di tempat kerja. Jadi lebih fleksibel karena setiap anak kan juga beda-beda.
Punya pesan apa buat pembaca salamatahari?
Karena baca tuh belajar, ya, teruslah membaca yang ada di sekitar kita. Membaca kan biasanya teks, ini yang bukan teks. Orang yang membaca juga nggak pernah puas. Semakin membaca, semakin pengen tahu lebih. Jadi, teruslah membaca.
Tidak terasa, waktu mengajar sudah dekat. Kang Trisna harus bersiap-siap berangkat ke tempat mengajarnya, apa lagi hujan semakin deras. Obrolan seru membuatku lupa bals mengambil foto Kang Trisna.
“Kang Trisna, aku tadi lupa motret Kang Trisna. Bolehkah minta selfie aja dari Kang Trisna? Hehe. Nuhuuun, ” tulisku dalam pesan Whatsapp. “Ini aja, ya,” dengan segera Kang Trisna mengirimkan foto selfie yang terpampang di awal artikel ini. Jadi, itulah Kang Trisna si Pejalan Malam, teman-teman. Adakah yang ingin menjalin silaturahmi dengannya? Silakan cari sang Sutrisna Hungkul.






Komentar