Jomlo dan Negara. Adakah Pertaliannya?

-TB.Pelagia, Sabtu 08 November 2025

 

Peluncuran Zine Jomlo Menggugat

 

“Kalian adalah Lois Lane tanpa (harus ada) Superman, Mary Jane tanpa Spiderman, Selina Kyle tanpa Batman! Kalian menghadirkan cerita yang tidak begitu-begitu saja,” –Tri Joko Her Riadi, pemred Bandung Bergerak.

 


 

 

Jomlo Menggugat. Demikianlah judul zine yang ditulis oleh empat jomlo kritis kota kembang: Tofan Aditya, Yogi Esa Sukma Nugraha, Laila Nursaliha, dan Nida Nurhamidah. Zine ini diterbitkan oleh Kolektif Kecil yang terafiliasi dengan situs Bandung Bergerak.

 

Aku hadir di peluncurannya karena topik yang ditawarkan lumayan menggelitik, sebelum membaca zine-nya. Ketika melihat poster daringnya di akun Instagram Toko Buku Pelagia, aku jadi bertanya-tanya, mau bahas apa, sih, sebetulnya anak-anak ini?

 

Diskusi menghadirkan dua di antara penulisnya, Tofan dan Laila, serta kawan mereka yang bernama Aldo. Sepertinya semua esei di zine Jomlo Menggugat ditulis untuk merespons catata Tofan, tetapi dalam peluncurannya Tofan sendiri justru memilih menjadi moderator yang mengantarkan Laila dan Aldo membagi kisah kejomloan mereka.

 

ki-ka: Taufan, Aldo, Laila

 

 

Laila adalah guru TK yang sudah mencapai usia kepala tiga. Meskipun ia pribadi merasa baik-baik saja dengan kesendiriannya, dunia yang tak ramah pada jomlo kadang membuatnya sedikit terusik. “Kalau di atas 25 (belum menikah) udah dianggap gimana, gitu,” cerita Laila. Paska berpulangnya Ibunda, sang ayah bahkan sempat mengingatkan Laila untuk segera menikah agar tak menjadi penghalang untuk orang lain yang akan menikah. Akhirnya, justru ayah Lailah yang lebih dulu menemukan jodoh dibandingkan Laila sendiri. 

 

Padahal Laila merasa kejomloannya malah membuatnya punya lebih banyak waktu untuk membantu orang lain, mengenali diri, meluangkan waktu untuk bertukar pikiran dengan orangtua murid, dan menikmati ilmu. Bukan berarti ia tak mencoba mencari pasangan, hanya saja Laila belum bertemu yang tepat. Ia pun tak merasa terlalu cocok dengan sistem aplikasi kencan kekinian yang mempunyai aturan mainnya sendiri, maka ia tak memaksakan diri mengikuti tren tersebut. 

 

Lain lagi dengan Aldo yang mengaku jomlo akibat belum selesai dengan masa lalunya. “Sedikit trauma karena tiba-tiba ditinggalin,” ungkapnya. Baginya perkara jomlo dan berpasangan lumayan dilematis. Di satu sisi ada keinginan didukung pasangan, tetapi di sisi lain pasangan kadang justru membatasi kebebasannya. Ketika akan berdemo, misalnya, sang pacar mendesaknya memilih antara pacar dan negara. 

 

Bicara soal negara, di dalam zine, Tofan menyampaikan bahwa kejomloannya adalah kesalahan negara.  Tofan mengupas permasalahan ekonomi yang tentunya berdampak pada keberanian seseorang membangun hubungan asmara. Program untuk jomlo pun sekadar gimik, misalnya Taman Jomblo (dengan "b") yang tak terawat, padahal katanya dibuat agar jomlo Bandung menjadi jomlo yang paling bahagia di Indonesia. Tulisan Tofan ini dilunakkan oleh Yogi yang justru mengajak kaum jomlo melepaskan belenggu kejomloan dengan terlibat dalam persoalan-persoalan aktual. 

 

Setelah Laila dan Aldo bercerita, penonton diberi kesempatan bertanya atau ikut berbagi cerita. Ternyata urusan menjomlo ini dapat menjadi bahan pembahasan yang menarik, jenaka, tapi ada juga filosofisnya.  Hadirin berbagi pandangan-pandangan yang tak kalah serunya. Mulai dari maraknya angka perceraian serta perceraian selebritis yang menghebohkan, sampai aplikasi kencan yang dianggap menyederhanakan manusia dalam mode swipe kiri – swipe kanan. Di dalam pidato kebuayaannya, Tenk berseru, “Menjadi jomlo adalah bentuk pembangkangan yang paling halus. Jomlo adalah pernyataan ‘aku cukup dengan diriku’.” Ada pula Adriana yang tercerahkan justru dalam pengalamannya menjomlo, “tujuan hidup itu bukan mencari cinta, tapi menjadi cinta.”

 

Sebagian dari pemerisa  

 
Tenk dalam pidato kebuayaannya

Kuperhatikan, menjomlo justru memberi teman-teman kesempatan menjalin pertalian dengan lebih banyak hal. Dengan diri mereka sendiri dan segala kompleksitasnya, dengan negara yang mungkin butuh banyak diurus dengan kritis, dengan perkembangan zaman yang perlu juga dialankan dengan penuh kesadaran, serta dengan orang-orang lain di sekitarnya tanpa harus menjalin relasi romantis. Zine Jomlo Menggugat  berbicara lebih banyak daripada masalah kesendirian pribadi. Ia lahir sebagai rangkaian sudut pandang menarik tentang hidup dan kelindan yang bergerak di sekitarnya. Jika penasaran, zine ini dapat dibeli dengan harga Rp 35.000,00 di Toko Buku Pelagia.

 

Jika artikel ini adalah temali, aku tak ingin membuat simpul. Aku hanya akan memberimu senyum simpul yang tak perlu dimaknai apa-apa. 

 


 

 

Komentar