Kisah Peri

 

Pernahkah kamu mendengar cerita peri?

Mungkin pernah, tapi pasti bukan peri yang ini. 

 

gambar: AI

 

Namanya Peri Kemanusiaan dan Peri Keadilan. Mereka tak terkurung dalam negeri dongeng yang aman, tetapi terus mengudara bersama angin peradaban.

 

Beberapa hari yang lalu, Peri Kemanusiaan melakukan pendaratan darurat.

 

“Tunggu sebentar, Peri Keadilan, aku takut tidak bisa percaya lagi pada sayapku.”
“Sayapmu kenapa?” tanya Peri Keadilan.
“Ia tidak bisa lagi kukendalikan dengan empati. Sejak beberapa waktu yang lalu, ia bergerak semaunya dan mulai terasa membahayakan,” keluh Peri Kemanusiaan. 


 

Sebetulnya Peri Keadilan pun mulai ragu dengan sayapnya sendiri. Belakangan, hanya sebelah sayapnya yang berfungsi. Ia khawatir lama-lama ia lupa cara menimbang.

 

“Di sekitar sini ada Dewa Perwakilan Reparasi. Ke sana, yuk,” ajak Peri Keadilan.
“Apakah kamu percaya mereka?” tanya Peri Kemanusiaan.
“Memangnya kita punya pilihan lain selain percaya?” Peri Keadilan balik bertanya.


 

Banyak orang dewasa yang tak lagi percaya adanya peri, termasuk Peri Kemanusiaan dan Peri Keadilan. Namun, apakah hidup jika kita tak lagi percaya pada mereka?

 

Semoga percaya membuahkan niscaya.

 

Bandung, 7 September 2025

 

 Konteks politiknya bisa dibaca di sini

 

Komentar