Nyalain TV apa, ya? batinku pada suatu hari di tahun 2019.
Bukan karena butuh hiburan, tapi karena perlu menjemur pakaian dalam. Pekan itu suamiku dan aku menginap di Karawaci untuk suatu pelatihan musik. Pakaian yang kami bawa terbatas sehingga kami harus mencuci agar tetap punya pakaian dalam bersih. Berhubung tak ada tempat menjemur yang memadai, televisi yang agak hangat jika dinyalakan dapat kujadikan tumpuan harapan. Namun, tayangan yang menyambut membuatku tercengang.
SUPERMARKET GIANT TUTUP.
Sambil membiarkan pakaian dalam tetap terjemur di depan televisi, aku nelangsa. Giant adalah supermarket yang paling berkesan untuk aku dan Ikanpaus, suamiku. Bukan karena fasilitasnya, bukan juga karena kami punya cerita romantis di sana. Tidak ada semua itu. Giant istimewa karena dialah supermarket paling anti mainstream yang pernah kami tahu
Pernahkah kamu pergi ke supermarket dengan playlist lagu-lagu metal? Melihat kerupuk yang di-display berantakan di sekitar sepeda ontel seperti karya seni instalasi? Mendapati angka 6800 yang dicoret dan diganti dengan 6900? Menemukan ikan teri dengan label “Norwegian Salmon”? Memandangi stiker “Jangan Diminium” di atas ember kran air di WC? Atau menyaksikan pegawai supermarket menyusun barang dagangan dengan kereta belanja yang dibalik?
Giant adalah supermarket paling tragedi-komedi yang pernah kukenal seumur hidup. Dulu sekali, salah satu cabangnya berada persis di depan rumah kami. Namun, tak lama setelah kami menikah, Giant Setiabudi tahu-tahu tutup dan diganti dengan restoran cepat saji. Kami sedih sekali. Bukan hanya karena kehilangan supermarket terdekat, tetapi karena kehilangan tempat yang tak pernah gagal menjadi sumber hiburan.
Kendati demikian, di kala itu masih ada Giant Pasteur dan Setrasari yang tak jauh-jauh amat dari rumah kamj. Jika sedang penat, kami mampir ke Giant untuk menertawakan apa saja yang ada di sana. Giant selalu punya gebrakan. Mulai dari sayur layu berhadiah piring, sampai pegawai yang jawaban-jawabannya senantiasa out of the box. Misalnya begini:
"Pak, apa bedanya daging yang ini sama yang itu?" tanyaku sambil menunjuk dua jenis daging.
"Sama aja."
"Terus kenapa yang itu lebih murah?"
"Supaya keliatannya lain-lain aja"
TAK JEDES.
Ketika gerai Giant di Bandung tutup satu persatu, kami mencoba menularkan kecintaan kami pada Giant agar supermarket tersebut bertahan. Sayangnya, upaya kami tak menular kepada siapapun. Teman kami bahkan berkomentar, “Pantes aja tutup kalau supermarketnya begitu, kalian doang yang seneng."
Kembali ke tahun 2019.
Tutupnya Giant di seluruh Indonesia menjadi berita duka yang membuatku cukup sendu. Sambil menatap pakaian dalam yang masih tergantung di depan televisi, kembali aku membatin, bahkan berita duka pun Giant sampaikan secara komedi begini.
Ada yang bilang, tragedi dan komedi berangkat dari materi yang sama, yang membedakan hanya sudut pandangnya. Aku sepakat. Bagi sebagian orang, supermarket Giant dan semua yang ditawarkannya adalah tragedi. Namun, bagi Ikanpaus dan aku, supermarket ini adalah komedi. Selain itu, tidak semua produknya buruk. Ikan di almarhum Giant Pasteur yang bisa digoreng di tempat sangat garing dan lezat. Di kasir Giant Setrasari yang juga sudah almarhum, kami sering dicegat oleh pegawai yang menjual jus lima ribuan.
“Ini full buah, lho,” kata Ikanpaus ketika kami mencoba jus tersebut dulu sekali.
“Kayaknya ini dibikin dari buah-buah yang hampir gudbai. Tapi ya udahlah, nggak apa-apa, enak, hihihi.”
Sejak saat itu, kami menjadi pelanggan tetap jus lima ribuan Giant yang hadir di hari-hari random.
Menurut berita resmi, supermarket Giant ditutup karena PT Hero Supermarket Tbk yang menaunginya ingin berkonsentrasi pada merk lain. Giant resmi ditutup pada bulan Juli 2021, dua tahun setelah rencana penutupannya diumumkan dan dibereskan pelan-pelan.
Malam itu di tahun 2019, tepat setelah mendapat kabar seluruh gerai Giant akan ditutup, Ikanpaus dan aku memutuskan untuk berziarah.
Kami mencari supermarket Giant yang masih ada di area Karawaci, berkunjung ke sana, lantas menyesap sisa ria jenaka yang tak pernah gagal dilakonkannya.
Komentar