-Wangirupa Studio, 10 Mei 2025-
Konser Kuartet Gesek Papatong Pamatang
Empat ekor capung sawah bertolak dari pohon akasia. Mereka menenteng alat musik gesek mereka, mencari petualangan baru. Arya, Rema, Luthfan, dan Theo—demikian nama capung-capung ini—bukan sembarang capung. Mereka adalah musisi dengan pengalaman yang tidak kaleng-kaleng. Arya adalah komposer dan pemain biola yang lulus dari Royal College of Music. Rema adalah pemain biola yang malang melintang di mana-mana dan pernah bermain untuk orkestra Bandung Philharmonic. Luthfan adalah pemain viola yang pernah mengiringi musisi-musisi besar, antara lain Nadin Amizah. Sementara Theo adalah pemain selo yang lolos seleksi Gita Bahana Nusantara.
Takdir mempertemukan keempat capung ini dengan Studio Wangirupa. Setahuku, sudah lama Kang Dikdik dan Teh Karangwangi—tuan rumah Wangirupa—mendambakan konser orkestra di ruang seninya. Maka, konser Papatong Pamatang menjadi yang perdana untuk kedua belah pihak. Persiapan dilakukan. Keempat capung sawah alias papatong pamatang boleh berlatih di Wangirupa, sementara Wangirupa belajar memahami kebutuhan kelompok ini.
Selama ini, sudah banyak kegiatan seni yang diadakan di Wangirupa. Mulai dari pameran seni rupa sampai intimate concert. Namun, orkestra kamar ternyata mempunyai kebutuhan yang berbeda. Keempat alat musik gesek ini tak ingin memakai sound system, mereka butuh ruang dengan akustik memadai. Singkat cerita, disulaplah ruang tengah Wangirupa menjadi ruang konser. Semua pintu ditutup agar suara tidak bocor. Area personal keluarga Wangirupa dijadikan backstage untuk pemain. Sementara penonton dikondisikan untuk duduk santai di karpet dengan bantal-bantal sofa. Kami langsung memilih posisi ini:
Ternyata ruang tengah studio Wangirupa sempurna untuk konser musik kamar. Ukuran ruang yang tak terlalu besar membuat suara instrumen tetap lantang tanpa reverb berlebihan. Namun, ruang ini pun cukup lega dan nyaman untuk menampung pemain dan penonton.
Konser yang dibagi menjadi dua sesi berjalan lancar. Meskipun karya-karya yang dibawakan terbilang cukup serius, penonton menikmati dan tidak bosan. “Strings quartet yang mainnya serius kan jarang, apa lagi di Bandung. Tapi pembawaannya santai, presentasinya lucu-lucu, namanya aneh, booklet-nya juga absurd,” kata Fauzie Wiriadisastra.
Sebelum dimainkan, setiap karya memang dijelaskan dulu oleh anggota Papatong Pamatang. Misalnya “Jeruji”, komposisi Arya Pugala Kitti yang terinspirasi dari hal-hal yang berkaitan dengan pemenjaraan. “Tapi aku tidak ingin mendikte apa yang pendengar rasakan,” kata Arya tanpa menjelaskan lebih detail. Bagiku pribadi, “Jeruji” terdengar seperti upaya menggergaji teralis. Komposisi tersebut ditutup dengan bunyi “blutuk” senar yang entah apa maksudnya. Apakah upaya menggergaji teralis berhasil? Atau penggergaji akhirnya justru menyerah? Atau bukan dua-duanya? Aku bahkan enggan mendikte diriku sendiri dengan sebuah simpulan.
Konser diakhiri dengan set lengkap “Strings Quartet no.1” karya Beethoven. Meskipun rangkaian tersebut cukup panjang, keterampilan, intonasi, dan kekayaan dinamika yang disuguhkan keempat capung ini mengikat penonton seperti film laga yang seru. Lagu Sumatera Utara “Anju Ahu” menjadi penutup manis untuk penampilan hari itu. Berhubung dalam bahasa Batak anju ahu artinya “hibur aku”, kami meluluskan permintaan para capung dengan bertepuk tangan meriah. Setelah dihibur dengan keindahan musik mereka, saatnya kami menghibur mereka dengan apresiasi terbaik yang dapat kami berikan.
“Konsernya menarik karena konser di rumah yang berubah menjadi semi artspace hehe,” komentar Teh Karangwangi yang mengelola studio Wangirupa bersama suami dan kedua anaknya. Ia berharap ada lebih banyak showcase musik, khususnya klasik, di Bandung agar kita dapat mendengar lebih banyak musik seperti itu. Meskipun beberapa karya terdengar asing di telinganya, ia tetap dapat menikmati. “Malah ada musik karya Arya yang serasa kenal dan bikin saya nangis, ingat zaman kecil dulu, padahal saya lupa judulnya apa,” lanjut Teh Karangwangi. Di dalam hati aku membatin, betapa luas kemungkinan interpretasi untuk suatu komposisi musik. Arya betul. Sebaiknya pendengar tidak didikte agar dapat menemukan caranya sendiri untuk mengakrabi musik.
Ke mana keempat capung ini terbang setelah konser perdananya? Akankah mereka kembali ke pohon akasia alias Accacia Youth Strings Orchestra-nya? Atau mereka akan berubah menjadi makhluk lain?
Di habitatnya, capung sawah berfungsi menyeimbangkan ekosistem. Mereka adalah predator hama yang membuat padi dapat tumbuh tanpa terganggu, menghidupkan petani, dan memenuhi kebutuhan pangan kita semua.
foto: Ilhami Sadikin
Tapi ini bukan tentang capung, hama, dan sawah.
Komentar