Afirmasi

Kalau ditanya apa sebetulnya mimpi Dea, Dea selalu bingung. Ada kalanya Dea ngerasa ada yang salah sama diri Dea karena nggak punya mimpi. Tapi, setiap nelusurin diri sejauh-jauhnya, Dea selalu sampai ke simpulan, emang nggak ada yang betul-betul Dea pengen di idup ini.

 

Buat Dea idup adalah bergerak dari momen ke momen, menikmati apapun yang ada di hadapan, nyimak sepenuhnya ketika temen cerita, ngerayain pengalaman indera, ketawa waktu ada yang lucu, nangis waktu sedih atau terharu, dan takjub sama kejutan sekecil apapun yang hadir di momen-momen itu.

Di idup ini nggak ada yang selamanya. Itu sebabnya, apapun yang lagi ada Dea terima aja sepenuhnya. Dea jarang bikin target jauh dan rasanya nggak punya visi besar apa-apa untuk masa depan. Dea cuma belajar kalau kesedihan, kemarahan, dan kekecewaan bukan perasaan yang selamanya. Emosi ternyata selalu dateng dan pergi, tapi penilaian dan pembelajarannya seringkali tinggal tetap. Mereka jadi bekal ngelangkah lebih jauh ke depan atau justru netapin batas-batas.

Kalau ditanya apa mimpi Dea sebagai penulis, Dea selalu bingung. Buat Dea nulis adalah kegiatan hari lepas hari yang biasa aja. Nggak ada yang sophisticated. Adakalanya Dea ngerasa ada yang salah sama diri Dea karena nggak punya cita-cita.

Tapi Dea berenti ngerasa ada yang salah sama diri Dea waktu milih nyari tau di mana seharusnya Dea berdiri dan memberi. Bahwa kata-kata baik dan kesediaan ngedenger adalah dharma Dea untuk idup dan manusia lain. Ada orang-orang yang dipercaya ngebawa visi-misi besar dan dengan rendah hati Dea akuin mungkin Dea bukan salah satunya. Seorang Dea cuma perlu inget naro rasa hormat ke setiap orang apa adanya tanpa agenda. Jangan berenti ngelakuin apa yang Dea rasa baik meskipun nggak tau apa prospeknya. Jalanin setiap project dengan sungguh-sungguh, tanggung jawab, dan sepenuh hati sampai selesai. Semua yang Dea lakuin adalah momen.

Nggak semua orang harus jadi besar.
Buat Dea, paham dan nerima itu melegakan dan membebaskan.




Komentar