Dear Tokoh Cerita

Dea dan tokoh cerita Dea duduk bersisian.

"Maafin aku," kata Dea ke si tokoh cerita.

"Kenapa?" tanya tokoh cerita Dea.
 
"Kita ibarat abis nempuh perjalanan panjang ke negeri jauh, gembira karena sampai ke tujuan, tapi tau-tau kayak dijambret di bandara. Sekarang kita kayak udah nggak punya uang, nggak punya kartu identitas, dan nggak punya alat komunikasi untuk ngehubungin siapa-siapa. Kita terlunta-lunta. Nggak tau juga harus ke mana abis ini. Ada banyak rencana yang jadi tertunda, bahkan nggak tau bakal terwujud apa enggak. Maafin aku karena ngebawa kamu jauh-jauh ke sini."

Tokoh cerita Dea senyum. Dia natap Dea dengan mata cokelatnya.

"Janji kamu kan memang nganter aku sampai ke sini, Dea. Sesudah kita sampai, kenapa kamu malah minta maaf?" tanyanya.

Kami natap jalan yang nggak tau di mana ujungnya. Entah apa yang dipikirin tokoh cerita Dea, tapi Dea sendiri melanting ingatan akan persahabatan kami yang terbangun bertaun-taun.

Dia sosok yang nggak gampang percaya sama orang lain, termasuk Dea yang janji untuk nulis tentang dia se-gentle mungkin. Dea inget gimana berbatunya jalan yang kami tempuh. Gimana Dea yang biasanya napasnya pendek berusaha keras bernapas panjang supaya nggak ngekhianatin kepercayaan dia.
 
Pelan-pelan dia ngebiarin Dea ngebantu dia memenuhi "needs"-nya dan bertumbuh. Dia sendiri ngebantu Dea paham banyak hal yang tadinya Dea nggak ngerti. Perjalanan menuju "tamat" makan waktu bertaun-taun. Tapi ternyata, sesudah sampai di titik itu, Dea sadar "tamat" bukan akhir yang mutlak. Banyak sekuel di luar teks yang masih menyusul. Selain itu, sebagai penulis dan tokoh ceritanya, di luar dugaan persahabatan kami  ternyata jauh melampaui "tamat" di akhir halaman.

Lewat perjalanan kami, beberapa taun ini Dea belajar banyak tentang manusia. Dea belajar nentuin siapa yang layak dapet hormat Dea dan siapa yang enggak. Namun, seperti hitam, putih, dan abu-abu, semuanya punya kontribusi kepada hari ini.

Dea noleh ke tokoh cerita Dea yang nggak lagi harus bersembunyi. Dia udah berhasil meretas semua yang harus dia retas. Dea seneng karena bisa nemenin dia ke keputusan-keputusan besar yang harus dia ambil supaya bertransformasi.

Mungkin, seperti prinsip mandala pasir, ada kalanya nulis adalah perjalanan spiritual untuk membangun dan melepaskan. Mungkin pada akhirnya apa yang kelak bakal Dea bagi justru jejak-jejak perjalanan panjang ini; peristiwa-peristiwa yang nggak bisa dikemas dalam rencana-rencana; hal-hal yang  lebur sama apa yang Dea lakuin sehari-hari; bagian dari cara berpikir, cara memandang, dan kedewasaan Dea. Nggak cuma tokoh cerita Dea yang bertumbuh. Dea juga. 
 
Sebetulnya nggak ada yang tokoh cerita Dea dan Dea tunda-tunda lagi. 
 
Tapi, kalau hidup yang memilih untuk menunda, satu-satunya cara untuk berdamai adalah menunggu dan menerima.



 

Komentar