[REVIEW] Salad Ali dan Ratu-ratu Queens

 

“Nih,” Ratu, temanku, menyodorkan makanan favoritnya di Pizza Hugs. Di hadapan kami terhidang semangkuk salad yang cukup menjulang. Sepertinya semua anggota salad bar terwakilkan di situ. Sayur, buah, telur, kentang, jagung, makaroni, sampai potongan roti kering semua ada. Lelehan dressing-nya pun tak sampai tumpah. Aku menatapnya dengan kagum. Tak hanya penuh, salad di hadapanku pun tampak gemas berwarna-warni.


Ratu sangat istimewa dalam melimpit salad. Ia menamai racikannya saladAli and Ratu-ratu Queens. “Rahasianya, Cyin, tentu salada. Itu yang harus jadi dasar segala-galanya,” ungkap Ratu.

 

Salada dipasang sebagai ekstensi mangkuk. Seperti pagar, salada menjaga semua yang tertumpuk agar tetap terbangun seimbang. Ia ibarat sebuah premis yang baik. Jika saladAli dan Ratu-ratu Queens adalah film cerita, premisnya tentu sederhana tetapi segar.

 

“Jadi menurut kamu apa premisnya?” tanyaku pada Ratu.

“Mungkin…” Ratu mengerling sambil berpikir, “kisah remaja lugu yang nekad mencari ibunya ke New York City. Seru nggak?” tanya Ratu dengan mata berbinar sebelum mulai menciduk salad.

Aku mengangguk-angguk, “Seru.”

“Banyak kan yang bisa masuk ke premis itu,” lanjut Ratu sambil menyendok kacang merah yang ditempatkannya di puncak menara saladAli dan Ratu-ratu Queens.

“Kalau begitu klimaks ceritanya kacang aja,” tatapanku tak lepas dari kacang yang disuap Ratu ke mulutnya.

“Kacang?” tanya Ratu sambil mengunyah.

“Jadi ceritanya, setelah jauh-jauh pergi ke New York, Ali dikacangin sama ibunya.

“Aduh kasihan…”

“Tapi jangan sedih. Klimaks itu bukan segala-galanya. Masih ada banyak rasa lain, nih, di sini,” ujarku sambil menunjuk kentang, jagung, bit, dan gelang-gelang bawang bombay dengan garpuku.

Ratu tertawa sambil mengacungkan jempol tanda setuju.

 

sumber gambar: IG @alidanratuqueens


“Ali dan Ratu-ratu Queens” adalah drama komedi yang disutradarai Lucky Kuswandi. Film yang rilis sebagai film asli Netflix ini berdurasi 100 menit. Meskipun tidak panjang, banyak sekali yang ingin diceritakan di sana. Mulai dari konflik batin seorang remaja, keluarga religius dan dinamikanya, isu perempuan dan pencapaian, pembahasan tentang ibu dari segala aspek, kota New York yang tak hanya hadir sebagai dekorasi, kehidupan imigran, sampai empat “ratu-ratu Queens” dengan perjuangannya masing-masing.

 

Tersebutlah Ali (Iqbaal Ramadhan) yang sejak kecil ditinggal ibunya mengadu nasib ke negeri Paman Sam. Sang ibu (Marissa Anita), Mia, berjanji membawa Ali serta jika sampai sukses di sana. Namun, Mia tak pernah pulang.

 

Setelah Ali beranjak remaja, sang ayah (Ibnu Jamil) meninggal. Sejak itulah terungkap rahasia-rahasia yang mendorong Ali nekad pergi ke New York.

 

Ternyata, perjumpaan Ali dengan sang ibu tak sesuai harapan. Keadaan sudah berubah. Mia membawa “bagasi” yang membuatnya tak mungkin menerima Ali seutuhnya. Beruntung Ali ditampung oleh tante-tante Indonesia—ratu-ratu dari area Queens—yang baik hati. Ada Tante Party (Nirina Zubir) yang bijaksana dan pernah seatap dengan Mia, ada Tante Biyah (Asri Welas) pekerja serabutan yang easy going tingkat pegat, ada Tante Chinta (Happy Salma) yang selalu dramatis dan bersandar pada hal-hal klenik, serta ada Tante Ance (Tika Panggabean), ibu tunggal yang menjaga mati-matian anak semata wayangnya, Eva (Aurora Ribero).

 

Saya tidak tahu bagaimana cara mengulas seluruh film ini dengan lengkap tetapi sangkil. Ada banyak sekali aspek yang seharusnya bisa ditelusuri secara mendalam, namun harus berbagi tempat di “mangkuk” durasi. Kendati begitu, Gina S Noer, penulis naskah favorit saya, sanggup menyusun semua bahan hingga dapat berdiri stabil, nyaman dinikmati, dan tetap tergarap teliti.

 

Misalnya, walaupun topik yang dibicarakan sangat khas, Gina tidak terjebak klise ketika menulis percakapan di tengah kumpul keluarga. Cermat, ia pun menuliskan bagaimana tiap anggota saling merespons atau melontarkan celetukan.

 

Dengan mulus, Gina juga memindahkan dialog Mia ke bahasa Inggris begitu emosi Mia memuncak. Ini sangat masuk akal. Setelah bertahun-tahun tinggal di New York dan menikah dengan lelaki Amerika Serikat, bahasa Inggris tentu menjadi bahasa yang lebih nyaman ia gunakan untuk menunjukkan ekspresi. Marissa Anita pun bermain dengan sempurna untuk peran ini. Saya rasa, akting dan karakter yang dibawa Marissa Anita perlu dibahas di satu tulisan lain.

 

Saya tidak akan menceritakan bagaimana kisah “Ali dan Ratu-ratu Queens” berakhir. Mungkin ada yang belum menonton. Jadi saya putuskan untuk tidak terlalu hambur menabur beberan.

 

sumber gambar: klinik-buah.blogspot.com


Semangkuk SaladAli dan Ratu-ratu Queens lebih dari cukup untuk membuat Ratu dan aku kenyang. Semua yang tercecap hadir mandiri tapi tak canggung berbagi tempat. Ada segar tomat yang berpadu dengan roti kering, bawang bombay yang menemani gurih telur, jagung pipil yang menyusup bersama apa saja, dan balutan dressing gurih creamy yang menambah cita rasa.

 

“Jadi gimana after taste-nya?” tanya Ratu yang tampak penasaran dengan penilaianku.

“Hmmm. Ringan, tapi kenyang.”

“Apa rasa yang paling berkesan?” tanya Ratu lagi.

 

Aku mencoba mengindera. Bau bawang cukup kuat meninggalkan jejak. Masih ada sisa kulit buah yang menempel di sela gigi. Bunyi krekes apel pun seakan masih terdengar di telinga. Sari timun yang tawar beraroma tipis-tipis seperti infused water yang membasuh. Aku juga suka tekstur makaroni berselimut dressing. Aku suka rasa roti kering yang sepertinya dipanggang dengan mentega. Tapi apa yang paling berkesan?

 

“Ratu, aku bukan reviewer makanan yang bagus. Aku cuma bisa bilang: enak. Ringan tapi kenyang.”

Reccomended nggak salad Pizza Hugs ini?” tanya Ratu lagi.

“Iya dong. Tapi harus kamu yang susun biar jadi saladAli dan Ratu-ratu Queens..”

Ratu tertawa.

 

Dengan perut penuh kami meninggalkan Pizza Hugs. Berjalan di bawah cerah matahari, memperhatikan orang-orang tertawa lepas, sekadar tersenyum sumringah, atau berbicara dengan wajah berdekatan. Aku mengamati penumpang kendaraan umum yang duduk berdempetan, restoran-restoran ramai, dan tante-tante yang saling mencium pipi saat bertemu atau berpisah.  Di antara sekian banyak kendaraan, aku tak mendapati ambulans yang meraung-raungkan sirene.

 

Tiba-tiba aku tersadar. Saati ini, di ruang waktu yang mana sebetulnya aku sedang berada?

 

Bandung, 15 Juli 2021

Catatan:

Mengacu pada Ali yang menjadi pusat cerita, salad juga terkait dengan pengertian "salad days".


Komentar