Episode 1: Kikut dan Sebuah Janji

“Ini nggak sengaja apa gimana, Mas?”
“Memang udah instingnya.”
“Wah … mungkin mereka bisa denger nyanyian laut, ya …”



Lima taun yang lalu, Ikan Paus dan Dea berkesempatan ngeliat penyu di Sukamade, Banyuwangi. Kami langsung jatuh sayang sama para tukik alias anak penyu. Ukuran mereka keciiiil … banget, nggak sampai setelapak tangan. Gerakannya gemes-gemes imut. Hebatnya, sejak orok mereka udah tau di mana samudera. Mereka ngedayungin sirip mereka ke arah laut dengan pasti.   
 
Ngelepas tukik adalah pengalaman yang sentimentil. Begitu ngeliat laut, tukik-tukik itu langsung bergerak penuh semangat nyambut ombak. Dea sempet agak khawatir. Soalnya perbandingan ukuran laut dan tukik kan ekstrim banget.

Tapi Dea sadar kalau laut rumah mereka.  Tukik-tukik ini pulang.  Nggak ada kampung halaman yang terlalu luas.


Di kemudian hari, Dea baru sadar kalau kampung halaman penyu udah luar biasa tercemar. Sampah—terutama sampah plastik—ancaman besar buat mereka. Banyak tukik yang masuk ke cincin botol plastik, kemudian mati kejepit begitu tumbuh semakin besar. Banyak juga penyu dewasa mati karena makan plastik yang dikira ubur-ubur.

Ikan Paus dan Dea sempet liat tukik yang dijual di tukang ikan. Mereka dikemas di plastik-plastik kecil dan disebut kura-kura air tawar. Kami nyoba ngelaporin ini ke pihak berwajib dan temen-temen konservasi. Dari situlah kami tau kalau temen-temen konservasi udah lama bergerak nanganin ini.

Dea sempet cerita ke Nadine Chandrawinata. Nadine adalah  inisiator “Sea Soldier” yang punya perhatian khusus sama pelestarian laut. Dia ngebantu Dea nge-share isu itu di media sosial dan ngajak temen-temen aware



Dea nyoba bikin tulisan, tapi sampai bertaun-taun, cuma sepotong catetan pendek ini yang muncul di kepala Dea:

Berpuluh-puluh tukik merayap menyambut ombak.
Mereka yang maha kecil, menyongsong laut yang maha luas.
Untuk setiap tukik yang tergulung ombak, saya berdoa:
“Semesta, saya percaya engkau menjaga mereka dengan sistem keadilanmu sendiri …”

Udah.

Hati Dea nggak lepas dari penyu meskipun nggak tau lagi musti ngapain. Dea bukan orang yang pinter ngehimpun massa, bikin gerakan-gerakan, atau bisa ngerumusin solusi praktis. Selama ini yang selalu bisa Dea lakuin cuma ngebagi cerita.

Kata Mas Ranger di Sukamade, salah satu faktor yang bikin penyu terancam punah adalah pencurian telur. Banyak orang serakah yang ngambilin telur penyu sampai abis, bahkan tega ngebunuh induk penyu cuma untuk ngeraup telur di dalem perutnya.

Di Sukamade, selain ngelepas tukik, Ikan Paus dan Dea juga dapet kesempatan ngintip induk penyu bertelur. Induk penyu agak introvert. Jadi, selama dia bertelur, kami nontonnya musti tenang dan sembunyi-sembunyi.

Waktu ngeliat ekspresi induk penyu yang tawakal, Dea tersentuh. Diem-diem induk penyu seperti nitipin anak-anaknya ke siapapun yang punya kesadaran memelihara. Di situlah hati Dea berjanji. Kalau ada kesempatan, Dea akan ngelakuin sesuatu buat keluarga penyu.



Bertaun-taun kemudian, Bandung Philharmonic ngangkat tema “Under Our Sea” untuk Children Concert Series-nya. Dea, yang langganan nulis cerita untuk event ini, langsung keinget sama keluarga penyu.

Cerita “Under Our Sea” Dea tulis sepenuh hati, dengan cinta dan harapan yang paling murni. Tukik-tukik yang Dea lepas lima taun yang lalu, mungkin seumur sama anak-anak yang nanti bakal nonton konser. Seumur juga sama anak-anak induk penyu tawakal-introvert yang Dea liat di Sukamade.

Sekitar dua puluh taun mendatang, Kikut-Kikut di cerita ini akan kembali ke darat sebagai penyu hijau dewasa. Saat itu, dunia adalah suatu tempat dengan kesadaran yang berbeda. Penyu-penyu ini bisa bertelur tanpa takut, tinggal di tempat yang lebih baik, dan dipeluk oleh manusia-manusia yang penyayang.

Cinta yang kita tanam hari ini akan tumbuh sebagai kebaikan dari generasi berikutnya.

Dea percaya :)


 
Info lebih lengkap mengenai konser ini dapat dilihat di Bandung Philharmonic.






Komentar