Karam

Paper bags and angry voices
under a sky of dust
Another wave of tension
has more than filled me up*

Lebih dari empat juta penduduk Siria berlari dikejar teror. Kemanusiaan membaca ketakutan mereka. Maka, bersama-sama dunia mengulurkan tangan. Membuka pintu. Memberi mereka tempat untuk beristirahat dari dera tak berjeda.



Namun ternyata teror mengejar sampai ke manapun mereka berlari. Pada tanggal 13 November 2015, Paris digempur habis-habisan. Beratus-ratus orang meninggal dan luka-luka. Teror mengejar seperti hantu. Sejenak, panik membuat dunia wara-wiri. Pengungsi bingung harus lari ke mana lagi. Tapi ternyata berita, informasi, dan opini berlari lebih cepat lagi. Linimasa media sosial berganti-ganti nuansa dengan gegas. Kaget. Prihatin. Panik. Doa. Sinis. Protes. Kritik. Perdebatan tersulut di mana-mana. Namun kemerdekaan bertukar informasi juga membuat banyak hal jadi lebih cerlang terpahami. Solidaritas menguat dan masyarakat tak serampangan mengacung tuding. Meski tidak semua, saya percaya sebagian besar dari kita tahu siapa yang harus dilawan dan dengan siapa kita perlu saling bergandeng tangan.

I wanna run away, never say goodbye
I wanna know the truth
Instead of wondering why
I wanna know the answers, no more lies
I wanna shut the door
And open up my mind*

Teror bisa saja mengejar tanpa gentar. Tapi saya percaya, ia tak lebih kuat daripada seluruh dunia. Mungkin kita perlu berbalik arah dan balas mengejar teror sampai mereka amblas ditelan kekelamannya sendiri.


Ngomong-ngomong dalam bahasa Jawa, “ISIS” berarti “sejuk”. Sementara dalam bahasa Arab, “karam” berarti “kemurhan hati”.

Betapa perbedaan bahasa adalah sesuatu yang perlu kita pahami searif-arifnya …


Sundea
*dipinjam dari lirik lagu “Runaway” – Linkin Park

0 comments: