Menjabarkan Kartu Petir

-Sabtu, 13 September 2014-

Beraksi, Mabim Sastra Indonesia 2014

beraksi
Beberapa minggu yang lalu, Dea diajak mampir membagi pengalaman menulis kepada adik-adik satu almamater Dea di Sastra Indonesia Jatinangor. “Temanya menulis cerpen. Yang mau dibahas kira-kira cara menulis cerpen untuk pemula, menghadapi kesulitan di tengah jalan, dan cara mencari tema yang unik,” pesan Sarah, panitia yang bertugas menghubungi Dea.

Berhubung kurang paham power point, Dea membuat semacam flash card-flash card-an. Nah. Apa yang saya bagi di Jatinangor dengan flash card-flash card-an Dea, akan Dea bagi juga kepada teman-teman melalui artikel ini.

 

Ide

Ide ada di mana saja. Ia bisa datang dari pengalaman kita, pengalaman orang-orang lain, apa yang kita lihat, apa yang kita cium, apa yang kita dengar, lagu-lagu … percayalah bahwa hidup kita adalah sumber ide yang tidak ada habisnya.

Selain itu, banyak-banyak membaca juga penting. Bacaan itu luas, lho. Selain buku dan majalah, kamu juga bisa membaca artikel-artikel di internet, brosur, tulisan teman-teman, daaaan lain sebagainya.

Sedikit tips untuk melatih kepekaan kita menemukan si ide: bawa catatan kecil ke manapun kita pergi, dan jangan segan mencatat apapun yang menarik perhatian kita.

Lalu bagaimana menemukan ide yang unik?
Ada beberapa tips yang bisa Dea berikan:

  • Membebaskan diri untuk bermain seperti anak-anak dan banyak mengobrol dengan anak-anak. Percayalah cara berpikir mereka yang tidak terduga dapat menular
  • Think out of the box. Setelah membaca buku atau menonton film (terutama yang endingnya mudah ditebak), berlatihlah membuat ending alternatif. Ini akan melatih cara berpikirmu.
  • Belajar menulis tanpa kerangka. Mungkin idemu akan terbang liar ke mana-mana dan ceritamu tidak selesai-selesai. Tapi … namanya juga latihan memancing ide ya nggak? Hehehe
Terakhir, sesuatu yang justru paaaaling penting: banyak latihan.

Apa yang harus dilakukan jika mengalami Writer’s Block?

Melakukan Writer’s belok! Hehehe ….


Kebuntuan tidak selalu harus diselesaikan pada saat itu, kok. Tulisan itu seperti makanan yang bisa disimpan di freezer; tidak pernah terlalu beku untuk diteruskan kembali suatu saat nanti. Jangan ragu-ragu untuk membuat tulisan lain, jalan-jalan sejenak, atau mengobrol banyak-banyak. Segala kegiatan itu bisa membantu kamu mengatasi kebuntuan.

Oh, iya. Kadang-kadang beberapa cerpen tak selesai yang kamu “simpan di kulkas” bisa saling dikombinasikan, lho ;)

***

Jadi begitulah. Siapa tahu berguna hehe …

Btw, teman-teman baru dan panitia Sastra Indonesia angkatan ini adalah favorit Dea. Suasana mabim terasa sehat dan menyenangkan. Keakraban terjalin apa adanya. Mahasiswa baru pun dipersiapkan untuk tumbuh mencintai Sastra Indonesia, bukan tunduk ketakutan menghadapi otoritas ;)

Dengar-dengar banyak di antara mereka yang memilih masuk jurusan Sastra Indonesia dengan kesadaran dan memang sudah berniat menjadi penulis. Hari itu, beberapa teman membacakan tulisannya, dan Dea terkesan. Sejak awal sekali, mereka sudah tau cara menyusun cerita, bahasa, dan meletupkan ide-ide yang tidak terduga.

Tim mabim Sastra Indonesia angkatan 2014, terima kasih karena sudah mengundang Dea berkunjung hari itu, ya. Dea yakin, beberapa tahun ke depan kalian semua akan menjadi penulis yang jauuuuuuhhhh … lebih baik daripada Dea.

Ini bukan kalimat basa-basiSmile
kelasmabim
Sundea 

foto pertama dan terakhir dirampok dari panitia mabim

1 comments:

Yuni Ayu Amida mengatakan...

Kapan-kapan berkunjung lagi ya kak :)
Cerita-cerita lagi hehe