“Rain tidak akan reda. Dia akan terbang!”

Kalimat yang menjadi judul artikel ini, dicetuskan secara optimis oleh sutradara film Rocket Rain, Anggun Priambodo. Lalu seperti apa kisah filmnya?

Rocket-Rain-Poster-Film

Tersebutlah Culapo, seorang seniman video. Ia dikunjungi oleh teman lamanya yang lama tak berkabar, Jansen. Pernikahan Jansen berada di ambang perceraian. Karena tahu Culapo pernah mengalami masalah serupa, Jansen memutuskan menemui Culapo untuk bertukar pikiran.

Karena sedang sibuk menyelesaikan proyek terbarunya, Culapo menyarankan Jansen untuk tinggal bersamanya dan mengobrol di waktu senggang. Ternyata mereka lantas menemukan banyak hal yang tak pernah mereka sadari sebelumnya. Kerinduan akan keluarga ternyata bertabrakan dengan kebingungan menghadapi nilai-nilai dalam keluarga tersebut. Pertanyaan akan konsep modernitas dalam keluarga hadir, terutama saat tradisi dipercaya sebagai sesuatu yang sakral.

IMG_9256



Setelah banyak menyutradarai video art dan video musik, Rocket Rain adalah film panjang pertama Anggun Priambodo. Proses penulisan film sampai shooting, berlangsung selama 8 bulan. Produksinya sendiri hanya memakan waktu 9 hari. Satu hari green screen di Jakarta, kemudian ke Bali Selatan, Timur, Tenggara, Tengah, dan bermuara di Barat. “Shooting harus benar-benar efektif karena lokasi jauh. Harus bersiasat juga dengan cara kerja yang kecil jumlah krunya. Saat itu kita memang terbuka untuk berbagai kemungkinan yang ada, sangat cair dan ada ruang yang besar untuk bereksperimen dan berimprovisasi,” cerita Anggun.

Film yang memenangkan Geber Award di Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) ini pun dilengkapi oleh soundtrack seru. Judul albumnya panjang sekali: “Z-W-O-Y-J-D-S-H-T-F” yang merupakan inisial dari nama setiap musisi pengisi, antara lain Zeke Khaseli dan White Shoes and The Couples Company.

coversontrek

Rocket Rain terasa sangat personal. Orang-orang yang mengenal Anggun Priambodo mungkin merasa tidak asing dengan sosok Culapo yang menjadi pemeran utama dalam cerita ini. Dalam salah satu wawancara, Rain Chudori yang turut berperan dalam Rocket Rain pun merasa menjadi diri sendiri aja ketika bermain dalam film yang diproduksi oleh Babibuta Film ini.

“Saya suka performance art, saya suka alam terbuka, saya suka flora dan fauna, saya suka membuat puding pepaya, saya suka mengobrol malam-malam, saya suka mengamati jagung, saya suka menonton dan mengamati gerakan senam, saya suka membicarakan kehidupan perkawinan dan berbagi dengan seseorang yang sedang mengalami goncangan kehidupan itu … semua ada di film ini,” ungkap Anggun.

Rocket Rain – hujan yang tak akan reda ini – tidak didistribusikan melalui bioskop komersial. Ia akan berkeliling dari kota ke kota. Pada tanggal 1-2 Maret 2014 mendatang, film ini akan diputar di Goethe Institute Jakarta, sekaligus untuk meramaikan bulan film nasional:

fmm_100x70cm_

Tanggal 7 Maret pun akan diadakan pameran seni rupa tentang Rocket Rain di DGallery Jakarta. Tunggu info selanjutnya. Kunjungi http://www.rocketrainmovie.com/ dan page facebook-nya https://www.facebook.com/rocketrain.

Lalu kenapa film ini berjudul Rocket Rain …? Apakah karena “Yang, hujan turun lagi, di bawah payung hitam kau berlindung,” seperti lantun Ratih Purwasih dalam sebuah lagu lawas “Antara Benci dan Rindu”?
Tontonlah, dan temukan sendiri jawabannya …

Sundea

Komentar