Surat Ijen Mengemudi

-Ijen, 30 Desember 2013-
Begitu memasuki area kaki Gunung Ijen, Banyuwangi, Jawa Timur, saya dan teman-teman disambut oleh poster kampanye Pilkada. Nama yang terpampang di poster tersebut membuat saya senang:
indahrealita

“Kalau gue orang sini, pasti gue milih dia. Namanya optimis banget,” komentar saya.


Ijen adalah gunung penghasil belerang yang menjulang di perbatasan Bondowoso – Banyuwangi, Jawa Timur. Sebagian besar penduduknya bekerja sebagai penambang belerang. Setiap hari mereka turun sejauh 2 KM ke dasar gunung Ijen untuk mengangkut 50 – 120 kg belerang sekali jalan. Harga belerang tersebut sekitar tujuh ratus rupiah per kg, dan dalam sehari, maksimal mereka dapat berjalan dua track saja. 
ijengunung
penambang

Jalan menuju kawah curam dan berbatu. Asap belerang adalah kabut yang menyesakkan dan menghalangi pandangan. Jurang di kiri dan kanan mengancam nyawa. Beban di bahu para penambang pun bukannya ringan. Tetapi kacamata yang mereka pilih seperti nama calon legislatif di wilayah mereka: Indah Realita. Realita tidak berubah, tetapi “indah” adalah kata sifat yang dapat ditentukan sendiri.

Di antara obrolan dengan para penduduk Ijen, berikut ini adalah tiga obrolan yang paling saya ingat dengan tiga penduduk Ijen yang berbeda.

Ibu Penjaja Kopi 
Karena api biru di kawah Ijen baru muncul setelah gelap, kami harus menunggu sampai malam sebelum turun ke kawah. Sambil menunggu, kami duduk minum minuman panas di kedai kopi setempat. Iseng-iseng saya bertanya pada Ibu Penjaja Kopi.

“Bu, denger-denger jalan ke kawah itu curam. Terus kalau abis ujan jadi licin, ya? Berat nggak, sih, medannya?”
Si Ibu menyeduh susu jahe saya sambil tersenyum tenang. Jawabannya lembut, namun penuh kepastian, “Bisa, kok, dijalani …”

Ibu Penjual Kopi tidak menjawab “berat” atau “ringan”. Ia pun tidak mengemas realita dalam sesuatu yang mengada-ada. Tetapi kata-katanya adalah optimisme yang membekali saya.


Sebelum mereguk susu jahe yang saya pesanan, saya sudah lebih dulu merasa hangat …

dikopi

Pak Slamet
Pak Slamet adalah pemandu lokal yang membimbing kami turun ke kawah. Sejak awal, ia sudah banyak bercanda. Ia muncul di samping mobil kami seperti hantu, bermain-main dengan senter yang dibawanya, dan kerap mencetuskan hal-hal yang membuat kami terbahak.

 Ketika berjalan memintas jurang, Mas Toto, salah seorang teman kami, mendadak terlihat cemas.
 “Pak, ini di samping-samping jurang, ya?” tanyanya sambil melangkah hati-hati.
“Iya,” sahut Pak Slamet.
“Kalau saya jatuh gimana?”
“Ya tabur bunga …”

Kami tergelak mendengar tanggapan Pak Slamet yang tak terduga. Istilah yang ia pilih membuat tragedi menjadi sesuatu yang tidak terlalu menyeramkan. “Bunga” adalah sesuatu yang cantik, meski kita tahu perannya dalam ucapan Pak Slamet.

 Kata Pak Slamet, setahu dia, tak pernah ada penambang Ijen yang jatuh ke jurang. Mungkin pikiran mereka yang ringanlah yang menyelamatkan mereka dari “tabur bunga”.
pakslamet

Penambang Ijen
Pagi berikutnya, kami berjalan-jalan ke tempat peristirahatan para penambang. Saya memperhatikan setiap mereka. Meski terlihat lelah, wajah mereka tetap sumringah. Mereka terus bercanda-canda. Ada yang langsung minta saya potret ketika datang, ada pula yang muncul sambil menyanyi-nyanyi. Keceriaan mereka memancar seperti sinar matahari pagi itu. Cerah dan hangat.

Saya berjongkok di depan salah seorang penambang yang sedang duduk sambil kipas-kipas, kemudian mengajaknya mengobrol.
“Pak, di sini orang-orang pada ceria-ceria banget. Idupnya kayak nggak pernah susah, deh,” ujar saya.
“Bukannya gitu. Idup kita udah susah, kalau nggak dibawa enteng, nggak dibawa bercanda, lebih susah lagi dijalaninnya …”

penambangijen

Saya tersenyum. Ada kearifan yang dalam jawabannya. Rahasia hidup. Rahasia yang membuat realita jadi indah tanpa harus disangkal dengan sugesti dan mimpi-mimpi.

belerang

Saya melirik berkeranjang-keranjang belerang yang berjajar di hadapan saya. Warnanya kuning ceria. Diam-diam matahari terbit dari sana, mengemudikan hidup di jalan yang bercahaya …
hiddensun
Sundea

0 comments: