Cos(undea)mology Fantasy

Sebentuk cahaya warna-warni terbit di langit hitam yang luas. Geraknya cepat. Semakin lama semakin terang. Sebelum saya sempat menghindar atau mengenalinya, silaunya yang masif sudah menelan saya. Ia membunuh kenyataan di sekitar saya, kemudian menciptakan visualisasi dan suara-suara yang sureal seperti mimpi. Saya berusaha menangkapnya, sampai saya sadar bahwa saya tak akan pernah bisa menangkap cahaya dan suara seperti saya menangkap nyamuk. 

Tapi kesan lebih arif. Ia mengerti caranya.

resized

“Sweaty Downstream” adalah cerita pertama yang menyentil kesan di memori saya. Saya merasa dilempar ke sebuah siang yang cerah sekali di masa lalu; menyusuri jalan tanpa rumput, bersisian dengan sungai yang mengalir tenang. Gemericiknya menyejukkan dan membuat saya tidak merasa sendiri. Sungai dan saya bercakap-cakap dengan bahasa alam. Kami tertawa dan berbagi kenyamanan hingga tiba-tiba jalan tanpa rumput bergerak seperti treadmill.

“Sungai, ritme aku berubah,” kata saya, kali itu dengan bahasa manusia. Bahasa alam hilang entah ke mana sehingga saya tak lagi bisa berkomunikasi dengan sungai. 



“Sungai, lihat, ini, ini, bagaimana caranya berjalan bersama?” tanya saya sambil menunjuk kaki saya. Jalanan tak berhenti bergerak seperti treadmill. Semakin lama semakin cepat. Saya berusaha menjelaskan dengan segala cara, tapi sungai tetap tidak mengerti. Saya berseru, namun sungai masih tetap tidak mengerti. Akhirnya saya putuskan untuk melompat saja ke sungai. Tetapi tepat ketika saya melompat, sungai tahu-tahu menjadi kering. Seluruh lanskap hilang seperti taplak yang dicabut dengan kasar dari atas meja. Saya terlempar, lalu jatuh membentur keentahan yang dingin.

Langit mendadak suram. Saya tidak bisa bergerak ke mana-mana karena kaki saya menjadi lumpuh. Cerita-cerita berikutnya adalah kekacauan yang berputar-putar seperti burung bangkai. Saya menutup mata, tapi visualisasi dan suara-suara yang seakan menggerogoti saya itu tidak hilang. Saya takut. Takut sekali. Satu-satunya yang bisa saya lakukan hanya menangis seperti anak-anak. Tersesat dan sendirian.

“We’ll Always Know” adalah sinar bulan yang jatuh seperti selendang. Seperti malaikat pelindung ia melantun,

And since the clock’s ticking and world keeps turning
I’ll draw you from the sun until the moon

cosmobiru

Sinar bulan menyelimuti saya hingga saya merasa aman. Warna dan suara yang kacau itu memudar seperti kabut yang disapu waktu, sebagian lagi berjatuhan seperti laron mati. Kaki saya belum dapat digerakkan, tapi sudah tak terasa sakit lagi. Kembali sinar bulan melantun,

We’ll always know that all things are true
We’ll always know
That all things are
True

Entah apa yang ia maksud, tapi ada bagian yang saya pahami secara intuitif dari nyanyiannya. Ketegangan saya mengendur. Ketakutan saya menyurut. Bulan terus menyanyi dan saya begitu lelah hingga akhirnya jatuh tertidur.

“Descent, Echoing, Wandering (D.E.W)” adalah fajar dan embun pagi yang membangunkan saya. Sinar bulan sudah pergi entah sejak kapan. Kaki saya sudah dapat digerakkan, artinya, saya sudah harus berjalan lagi. Telinga saya menangkap suara mesin ketik entah dari mana. Semakin lama semakin cepat hingga terdengar seperti gelinding roda trolley. Saya tahu saya harus menulis. Teks adalah jantung dan roda saya. Selama saya terus menulis, tak ada yang betul-betul bisa melumpuhkan saya.

Sekejap kemudian sinar masif “Cosmology Fantasy” kembali terbit. Perlahan ia menggulung saya. Saya menutup mata tanpa perlawanan, membiarkan warna dan suaranya membawa saya ke manapun ia mau. Segala perasaan yang saya kenal dekat sekali menyedot saya seperti lubang wastafel menyedot air. Saya menutup mata saya semakin rapat dan berpasrah pada pusaran. Pusaran berputar memijak sebuah poros. Begitu cepat. Sampai akhirnya menggelincirkan saya kembali ke tengah kenyataan yang saya kenal.

Copy of IMG-20130623-00822

Saya menghela apa yang bisa saya hela dan menghembus apa yang bisa saya hembus. Menulis surat yang tak akan pernah saya kirimkan kepada anak matahari di sebuah tata surya lain. Meminta maaf untuk hal-hal yang luput terpahami. Berterima kasih untuk sungainya. Untuk jalan tanpa rumputnya. Untuk pagi. Untuk siang. Untuk tawa. Untuk tangis. Untuk luka. Untuk pasang. Untuk surut. Untuk elegi yang ditulisnya. Untuk pergi. Karena kepergiannyalah yang membuat saya menemukan banyak hal dan belajar untuk hati-hati melangkah.

Nature teaches us that one drowning sun will always rise again. No worry, you don’t have to follow and I don’t blame you. For sure, the sun grows a day older and maybe wiser each time it rises again =)

Kisah ini sudah terlampau usang. Sisa-sisa emosi hanya residu. Pada akhirnya saya bersyukur karena kilas balik bukanlah perjalanan yang harus saya tempuh lagi.

Sundea

cosmology
album Rayhan Sudradjat ini adalah “Si Komo” bagi pendengarnya. Si Dea tidak akan bercerita lebih banyak. Langsug saja berkunjung ke http://rayhansudrajat.com/  untuk informasi lebih lengkap

1 comments:

BeluBelloBelle mengatakan...

wah euy ... wah euy ... waaaaaaaahhh :D