Ken Dedes

Seorang perempuan berjalan melintasi saya. “Tak-tok-tak-tok”, begitu bunyi langkahnya. Tegas dan berirama. Dia tampak jangkung, anggun, dan percaya diri. Namun, ketika saya amati lebih saksama, betisnya yang putih susu dan penuh gurat-gurat biru seperti berteriak-teriak, “Tolooong ... toloooong ... sepatu berhak ini membuat aku selalu tegang ...” Saya terkesiap. Cuma sekilas. Sangat sebentar. Akan tetapi, teriakan si betis menggema di kepala saya.

Wajah si perempuan jenjang segera hilang dari ingatan saya, tetapi betisnya tidak. Dalam bayangan saya, gurat-gurat biru itu malah tampak semakin kontras dengan putih kulitya. Sepertinya betis si perempuan menanggung beban yang terlalu berat. Bayangkan. Dengan hanya bertumpu pada hak yang hampir setipis sebatang pinsil, dia harus menopang seluruh tubuh si perempuan.

Perempuan lainnya berdiri di sebelah saya. Dia tidak menarik perhatian. Langkahnya “slak-slek-slak-slek” nyaris tak terdengar. Meski tanpa kata-kata, betisnya yang tidak tegang seperti memabahasakan kenyamanan. 



Ia mengenakan sandal teplek. Solnya tipis seperti penghapus murah yang dijual di warung. “Ini pasti alas kaki berkewajiban,” gumam saya sambil senyum-senyum sendiri. Mungkin perempuan yang pertama tadi harus mengenakan sepatu berkewajiban juga sekali-sekali. Hak memang membuatnya lebih keren dan terlihat. Tapi diam-diam, hak pun menuntut lebih banyak. Jadi sepertinya …

“Lihat apa, Mbak?!” tiba-tiba perempuan lain lagi membuyarkan lamunan saya.
“Enggak … anu … sebetulnya … itu …maaf, maaf …”
“Ada yang aneh dengan betis ibu saya ?”
“Bukan, saya, cuma …”
“Jangan kurang ajar, ya, sama orang tua!” kecam perempuan tadi sambil menggamit tangan si ibu, membawanya menjauh dari saya.

Perempuan terakhir ini mengenakan sepatu berhak sedikit. Lalu bagaimana betisnya ? 

Saya tidak tahu. Celana jeans semata kaki membuat betisnya bungkam …

Copy of IMG_0948

Sundea

0 comments: