Perjalanan Pak Ikan

“Lihat, Ayah, lihat, sungainya sudah kelihatan!” seru Anak Beruang ketika melihat sesuatu yang berkilau-kilau terkena pantulan cahaya matahari di ujung pandangannya. Sebelum Ayah Beruang sempat menjawab apa-apa, Anak Beruang sudah berlari menyongsong sungai. Ayah Beruang hanya tersenyum maklum. Dibiarkannya Anak Beruang melesat menentang arus angin yang berhembus ke arah berlawanan.

Ayah Beruang meminta Anak Beruang mendengarkan lalu menceritakan kembali perjalanan sahabat lamanya, Pak Ikan. Karena Pak Ikan tinggal di sungai, Ayah Beruang mengantar Anak Beruang ke sana.
Pak Ikan telah mempersiapkan sebuah perahu kecil untuk Anak Beruang. Ketika Pak Ikan berenang, Anak Beruang akan menyusuri sungai dengan perahu. Anak Beruang merasa senang karena ia diizinkan mendayung sendiri perahunya.

@ern_pratama

“Ini akan jadi perjalanan yang cukup panjang,” kata Pak Ikan.
“Tapi kita akan bersenang-senang,” sambung Anak Beruang riang.



Pak Ikan dan Anak Beruang mengalun menysurui alur sungai yang pernah dilalui Pak Ikan. Segalanya terlihat menakjubkan bagi Anak Beruang. Pertama-tama, mereka melalui sebuah hutan dengan pohon-pohon yang rindang. Sebagian ranting pohon menjuntai ke atas permukaan sungai, daunnya memayungi Anak Beruang dan Pak Ikan yang lewat di sana.

“Tadi panas sekali. Sekarang mataharinya tidak langsung kena ke sini,” kata Anak Beruang sambil mengusap-usap kepalanya.
“Iya. Dulu aku sempat berhenti agak lama di sini. Kamu tahu kenapa?” tanya Pak Ikan.
Anak Beruang menggeleng sambil masih terus mengusap-usap kepalanya.
“Perhatikan pohon ini baik-baik,” suruh Pak Ikan.

Anak Beruang mendongak mengamati pohon tersebut. Ternyata di pohon itu bergelantungan banyak sekali potongan roti yang kecil-kecil. Iya! Itu pohon roti! Ketika angin bertiup kencang menggoyang dahan pohon, roti-roti yang menggantung mulai berguguran. Sebagai jatuh ke air, sebagian lagi jatuh ke perahu Anak Beruang.

“WOW! Pohon roti!” seru Anak Beruang takjub.
“Ini boleh dimakan,” kata Pak Ikan.
Maka, Anak Beruang mencicipi beberapa potong. Ternyata rasanya memang enak sekali.

Setelah kenyang makan roti, Pak Ikan dan Anak Beruang melanjutkan perjalanan. Mereka melewati sebuah padang penuh bunga warna-warni, daerah berrumput hijau dan kuning, serta sungai yang dangkal maupun dalam.

Tetapi mereka juga melalui sungai yang berliku dan deras arusnya. Di sana Anak Beruang agak kesulitan mendayung.

“Kenapa waktu itu Pak Ikan memilih jalan ini?” tanya Anak Beruang.
“Aku tidak tahu. Aku hanya terus berenang mengikuti aliran sungai.”
“Tidak takut tersesat?”
“Aku tidak takut tersesat. Satu-satunya yang kutakuti hanyalah berhenti berenang …”

Setelah berhasil melewati sungai berliku dan arus yang deras, Anak Beruang terkantuk-kantuk kelelahan. Angin yang bertiup membuatnya semakin mengantuk dan akhirnya tertidur lelap. Pak Ikan yang mungil namun kuat sekali mendorongkan perahu Anak Beruang, membawanya ke muara sungai yang tenang dan benderang.

Saat ujung perahu menyentuh tepian, Anak Beruang terbangun. “Kita di mana?”
“Ini adalah titik berangkatku …”

Anak Beruang menggosok-gosok matanya sambil memperhatikan sekitar. Tempat itu tentram sekali. Di langitnya yang biru muda, melengkung pelangi. Sebuah rumah bambu berdiri beberapa langkah dari tepi sungai. Ia tampak kukuh, meskipun tetap sahaja. Angin mendesau membawa suara burung dan daun mendekat dan menjauh. Anak Beruang merasa menemukan Tuhan di tempat itu.

“Dulu, di rumah bambu itu, ada anak laki-laki kecil yang suka melukis dengan cat air. Ia sering melukis di tepi sungai, airnya dia ambil dari sungai ini,” cerita Pak Ikan.
Anak Beruang mengangguk-angguk, masih terpesona oleh ketentraman yang memeluknya kasih.
“Warna-warna lukisan anak itu selalu jatuh di sungai ini. Ingat, ya, warnanya, bukan sisa catnya,” lanjut Pak Ikan.
“Apa hubungannya warna lukisan anak itu dengan Pak Ikan?”
“Aku beri tahu sebuah, rahasia, ya,” kata Pak Ikan.
Anak Beruang mengangguk-angguk sambil pasang telinga baik-baik.
“Warna-warna itu adalah aku. Pada warna-warna itulah ada seluruh hati dan sayang Si Pelukis.”

Mata Anak Beruang berbinar takjub. Menurutnya rahasia itu menarik sekali. Ia sampai tak tahu harus berkomentar apa. Diperhatikannya Pak Ikan yang berwarna-warni. Seperti pelangi. Ia seperti dapat merasakan kasih sayang Si Pelukis juga.

Ada satu hal yang Anak Beruang sadari kemudian. Selalu ada kata “peluk” dalam “pelukis”. Dan peluk tak pernah gagal melampaui seribu kata dan peristiwa.

“Di mana anak itu sekarang?” tanya Anak Beruang.
“Aku tidak pernah tahu. Tapi tidak masalah karena ia sedekat kulitku sendiri…”

Anak Beruang tidak pernah bersekolah. Namun ada sebuah lagu anak-anak sekolah yang pernah ia dengar dan kemudian terngiang lagi,

Pelangi-pelangi, alangkah indahmu
Merah kuning hijau di langit yang biru
Pelukismu agung, siapa gerangan
Pelangi, pelangi ciptaan Tuhan …

… kemudian semesta memeluk Anak Beruang.
Luruhlah keagungan Tuhan mewarnai hati Anak Beruang yang sederhana.

Sundea

Denpasar Barat-20121107-00157_1352251695756_sUntuk keluarga “Pak Ikan” alias keluarga Setiadikara: Oom Chusin, Tante Fong-Fong, Yelita, Adhitia, Mas Agus Cahaya, Pak Mis, Moshi dan Moro. Makasih, ya, buat seminggu kemaren =)






Artwork by Ern Pratama. Ketika cerita Pak Ikan ini sedang ditulis versi tweet-nya, tiba-tiba Mas ini menyumbang gambar secara spontan. Dia mengaku sebagai pria berkekuatan super. Kunjungi akun twitternya @ern_pratama.

0 comments: