Memasak Tomat yang Melawan Kita di Satu Cerita

“Sedang apa, Bang Aan?”
“mengiris-iris tomat …”

tomatnya

Dea berdiri di sebelah Bang Aan Mansyur yang sedang sibuk mengiris-iris buah merah nan menarik itu. Suara pisau yang tajam bertumbuk renyah dengan talenan kayu terdengar menyenangkan. Tomat yang berair setelah diiris pun melahirkan aroma segar. Dea tidak bisa memasak, juga tak ikut mengiris. Tetapi Dea tidak keberatan berdiri lama-lama mengamati Bang Aan. 



“ini adalah tokoh-tokoh yang melawan kita dalam satu cerita,” kata Bang Aan sambil meraih sepotong tomat untuk diiris lagi.
“Hehehe … kenapa tomat-tomat itu harus melawan kita?”
Bang Aan hanya tersenyum sambil mulai mengiris. Kali itu tidak lingkaran-lingkaran seperti sebelumnya, melainkan kotak-kotak.

Sementara Bang Aan mengiris, Dea memperhatikan potongan-potongan tomat yang telah dipilah-pilah di atas piring lebar. Ternyata dipotong-potong secara manual membuat setiap iris punya bentuk yang berbeda-beda. Ada yang masih agak besar seperti ikan kunang-kunang (halaman 60) atau sengaja diiris kecil-keciiiiil sekali seperti hujan dan payung hadiah ulang tahun (halaman 93). Tetapi apa pun bentuknya, tomat tetaplah tomat. Ada gizi seperti pada tomat 5. misalnya:

“setia adalah pekerjaan yang baik, nak!
berangkatlah …”

Juga ada manis dan kecut seperti dalam kepada hawa

hawa, aku masih ular yang setia
mencintaimu sepanjang tahun

Bang Aan mengiris tomat-tomat itu ke dalam enam jenis bentuk potongan. Ada yang lingkaran, dadu kecil-kecil, dibagi menjadi empat bagian, dan lain sebagainya.

“satu cerita adalah meja makan kita nanti, dea,” kata Bang Aan sambil mencemplungkan potongan tomat berbentuk seperempat bulat ke dalam kuali sup. Ketika ia mengaduk-aduk isi kuali itu, asap membumbung dan aroma yang lezat melayang-layang sampai ke langit-langit dapur.
“Bang, tomatnya pasrah aja dimasak, nggak ada yang ngelawan,” komentar Dea.
“siapa bilang? kalau mereka tidak melawan, tidak akan ada rasa tomat dan aroma yang keluar di sup ini,” sahut Bang Aan.
“Hah? Oh, iya, ya!” Dea tertawa kecil.
“nih, coba,” kata Bang Aan sambil menyendok kuah sup untuk Dea.
Dea mencicipinya. Ternyata tomatnya memang terasa. Ia memberi asam manis segar di antara rasa bumbu-bumbu lainnya. Enak sekali. “Bang Aan pinter masak!”

Siang itu Bang Aan menyelesaikan enam jenis masakan tomat: puisi-puisi yang lahir dari foto jamie baldridge, sejumlah teka-teki, tokoh-tokoh yang melawan kita dalam satu cerita, mengalimatkan dan mengalamatkan, hukum kekekalan tawa, mencatat ibu buat ayah. Semuanya dihidangkan di meja makan sebagai sehimpun tokoh-tokoh yang melawan kita dalam satu cerita. Ini dia:

bukunya

Kamu mau? ;)

M. Aan Mansyur adalah sastrawan Makassar yang produktif dan terampil bermain kata. Permainan katanya yang menarik dapat kita nikmat bersama melalui akun twitternya, @hurufkecil. Sehimpun puisi tokoh-tokoh yang melawan kita dalam satu cerita adalah salah satu bukunya. Buku ini diterbitkan oleh Motion Publishing (@katabergerak). Kunjungi hurufkecil di http://hurufkecil.wordpress.com/

2 comments:

dentaq mengatakan...

seringkali saya terheran-heran, dari mana ya kata-kata itu bisa mengalir deras dari tarian jari-jarinya Aan di twitter
Aan jg dah pny rumah baru, hurufkecil.net

Sundea mengatakan...

Iya, aku juga ngefans banget sama Bang Aan. Nemu aja dia permainan kata yang aneh =)