Rahasia Jemuran Keluarga Beruang

Anak Beruang mengintip dari balik jendela. Jemuran-jemuran keluarga Beruang berayun-ayun ditiup angin. Samar, ia seperti mendengar mereka menyanyikan sesuatu.

“Bu, kira-kira jemuran Ibu sedang menyanyi lagu apa, ya?”
“Tak ada jemuran yang menyanyi,” tanggap Ibu Beruang yang sedang sibuk membuat kue madu.
“Mereka menyanyi, Bu. Coba dengar, deh …”

Ibu Beruang tidak menanggapi. Ia merasa kesibukannya lebih penting daripada apa pun yang ada di pikiran Anak Beruang. Anak Beruang tahu itu. Maka ia memutuskan untuk pergi mendengar sendiri tanpa menganggu ibunya lagi.

Ternyata, Teman-teman, jemuran keluarga Beruang memang sedang menyanyi-nyanyi. Suaranya tidak lantang, namun merdu dan menyenangkan. Anak Beruang mendengarkan sambil bergoyang-goyang kecil seperti tangkai bunga tertiup angin. 


sunbearesized




“Hei, Anak Beruang. Kamu suka lagu kami?” tiba-tiba Singlet Ayah Beruang berhenti menyanyi.
Anak Beruang mengangguk-angguk.
“Kenapa tidak ikut menyanyi juga?” tambah Rok Ibu Beruang dengan suara serak-serak basah.
“Aku … aku tidak bisa menyanyi,” sahut Anak Beruang agak malu.
“Kamu kan bisa melantun, Anak Beruang. Siapapun bisa melantun,” sambung Blus Anak Beruang.
“Betulkah begitu?” tanya Anak Beruang.
“Oh, ya, ya, ya. Melantun adalah menyampaikan sesuatu dengan nada. Sebetulnya ada nada dalam bicaramu. Namanya intonasi kan, kan, kan,” lantun Singlet.
Mata Anak Beruang berbinar. Maka ia pun melantun bersama Singlet, Rok, dan Blus.

Teman-teman, tahukah kamu rahasia jemuran keluarga Beruang? Singlet terdiri dari kata “sing” dan “let”. Ia ditakdirkan untuk selalu dibiarkan menyanyi-nyanyi. Rok yang bersuara serak-serak basah sering menyanyikan lagu-lagu rock dengan suara ala Tantri Kotak, dan Blus yang bersuara serak-serak berkharisma seringkali menyanyikan lagu-lagu blues ala BB King. 

Sambil membantu matahari mengeringkan mereka, angin membuat jemuran-jemuran itu berayun. Jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris, “ayun” adalah “swing”. Maka, ketika angin datang, tak jarang mereka menyanyikan lagu berirama swing bersama-sama. Daun-daun yang juga ditiup angin mengiringi dengan suara lembut, “cesss cekecess cekecess cekecesss …” 

Anak Beruang membiarkan dirinya terbawa-bawa oleh musik jemuran. Ibu sungguh rugi. Ia yang mencuci, menjemur, dan menyeterika, tak pernah tahu bagian paling menyenangkan dari jemuran-jemuran itu.

“Menyanyi-nyanyi membuat kami lebih cepat kering,” ungkap Singlet.
“Ya. Meski hanya bisa satu lagu, aku dapat membawakan laguku dengan gaya apa saja. Bisa rock, blues, jazz, atau apapun,” timpal Sapu Tangan yang hanya dapat menyanyikan lagu Saputangan Bakuncuk Ampat.
“Aku tidak bisa menyanyi, tapi aku senang bisa melantun bersama kalian,” ujar Anak Beruang sambil tersenyum.
“Aku pun hanya bisa melantun. Mereka juga,” sahut Seprai sambil melirik Celana dan Selimut.

Setelah kue madunya selesai, Ibu Beruang keluar membawa keranjang besar.

“Anak Beruang, ayo bantu Ibu mengangkat jemuran,” suruhnya sambil menyambar Celana.
Sambil melompat-lompat kecil, Anak Beruang menyambar Singlet, Rok, dan Blus sekaligus.
“Satu-satu ambilnya. Nanti jemurannya jatuh ke tanah dan kotor lagi,” Ibu Beruang memperingatkan.
Anak Beruang tidak menanggapi. Ia tahu apa yang ia lakukan dan ia yakin ibunya tak mau tahu.

Singlet, Rok, dan Blus bertumpuk di lengan Anak Beruang. Dengan suara satu, dua, dan tiga, mereka menyanyi-nyanyi. Sesekali angin mengiringi, mengayun ujung-ujung mereka yang menjuntai dari lengan Anak Beruang. Sesekali pula Anak Beruang melantun bersama mereka.

“Kenapa rok, blus, dan singlet itu tak kau masukkan ke keranjang Ibu?” tanya Ibu Beruang.
“Karena, Bu, kaareeenaaa, kakakakakakarerererenanananana ….”
Ibu Beruang geleng-geleng kepala. “Taruh di meja setrika nanti, ya. Jangan dibuat main-main.”
“Oke. O-o-o-o-o ke-ke-ke-ke-ke …”

Setelah semua jemuran selesai diangkat, Anak Beruang membawa Singlet, Rok, dan Blus ke meja setrika. Ibu sudah mulai menyetrika. Pertama-tama ia menyetrika yang paling luas dan sulit – Seprai. Sepertinya kain-kain itu sudah berhenti menyanyi. Mungkin karena setrika Ibu Beruang yang berbunyi “Sssst sssst ssst …” menyuruh mereka diam.

“Ibu sudah menyiapkan sepotong kue madu dan susu untuk makan siangmu. Ayo makan dulu,” suruh Ibu Beruang.
“O-o-o-o-o ke-ke-ke-ke,” sahut Anak Beruang seraya melompat-lompat menuju meja makan.

Anak Beruang makan kue sambil duduk menghadap jendela. Kayu jemuran sudah kosong. Tak ada lagi yang menyanyi, meski angin masih bertiup dan samar daun-daun masih berbunyi “cekecess cekecess cekecesss …”

Meski di luar sudah sepi, Anak Beruang merasa senang dan ingin terus menari-nari. Ia menghabiskan kue madunya sambil mengayun-ayun kakinya di bawah meja.

Hei. Pernahkah kamu menengok jemuranmu sendiri? Jika mereka menyanyi setiap hari, sadarkah kamu bahwa kamu mengenakan nada-nada dekat kulitmu …?

Sundea

artwork by Ario Anindito. Di sela-sela kesibukannya, komikus, ilustrator, designer, dan konseptor iklan televisi yang baik hati ini masih mau menggambar untuk cerita Anak Beruang. Beberapa karyanya antara lain ilustrasi dan cover novel 9 Dari Nadira-nya Leila S Chudori, iklan L.A Lights edisi “Goat” yang memenangkan Citra Pariwara 2011 kategori animasi, dan komik Nadya and the Painkillers.

Tepat di hari keseimbangan ketika www.salamatahari.com terbit, Ario akan berangkat untuk sebuah project di Singapura. Mari bersama-sama kita lantunkan doa untuk mengtantarkannya. Semoga sukses =)

0 comments: