Tragedi Buah Apel

Pada suatu siang, ketika lewat di depan rumah tujuh kurcaci, Anak Beruang melihat gadis manis yang sedang membersihkan rumah. Gadis manis itu sendirian dan tentunya bukan anggota keluarga kurcaci. Anak Beruang mengamatinya dari balik jendela.
Sadar diperhatikan, gadis manis itu berhenti bersih-bersih. Ia membalas tatapan Anak Beruang dengan sedikit curiga. 

“Halo, aku Anak Beruang, aku teman ketujuh kurcaci,” sapa Anak Beruang.
“Kamu bukan nenek penjual apel?” tanya gadis manis itu, masih dengan mimik curiga.
“Ya bukanlah,” sahut Anak Beruang.
“Oh … baiklah. Mau masuk dan minum teh?” gadis manis itu berubah ramah.
Tentu saja Anak Beruang mau.

beruang1

Ternyata gadis manis itu bernama Puteri Salju. Ia bersembunyi di hutan, tinggal di rumah tujuh kurcaci, karena sang ibu tiri ingin membunuhnya. 



“Tapi suatu saat nanti, aku akan dijemput pangeran tampan dan hidup bahagia sampai selama-lamanya, Anak Beruang,” Puteri Salju menutup kisahnya dengan mata berbinar.
“Lalu siapa nenek penjual apel yang kamu takutkan itu? Kenapa tadi kamu sangka aku ini nenek penjual apel?” tanya Anak Beruang.
“Oh, iya. Aku lupa cerita. Sebagai tokoh dongeng yang sudah diceritakan berkali-kali, sebetulnya aku tahu alurku. Ibu tiri akan mengejarku sampai ke hutan. Ia menyamar menjadi nenek-nenek, membawa apel beracun. Aku akan memakannya lalu mati.”
Anak Beruang terlonjak kaget.
“Tapi jangan khawatir. Pangeran akan lewat di hutan ini, menciumku, lalu aku hidup lagi,” lanjut Puteri Salju sambil tersenyum.

Puteri Salju senang Anak Beruang datang berkunjung. Biasanya, ketika ketujuh kurcaci pergi bekerja, ia kesepian.

“Seharusnya aku tidak ada di alur ceritamu kan. Apakah ceritamu tidak akan jadi kacau karena aku?” tanya Anak Beruang.
“Hmmm. Iya juga, ya,” gumam Puteri Salju sambil manggut-manggut.
“Atau kamu mau membuat alur cerita yang baru?” tanya Anak Beruang lagi.
“Alur cerita yang baru? Ide bagus,” mata indah Puteri Salju kembali berbinar.
“Kan kamu sudah tahu apel nenek itu beracun. Kalau mau, kamu tidak usah memakannya. Toh pangeranmu tetap akan lewat di hutan ini meskipun kamu tidak mati.”
“Betul juga. Kalau nenek penjual apel itu datang, kita tidak usah membuka pintu,” tanggap Puteri Salju.

Puteri Salju dan Anak Beruang cekikikan bersama. Mereka menyukai skenario yang baru saja mereka buat.
Beberapa saat kemudian pintu rumah ketujuh kurcaci diketuk.

“Siapa?” tanya Anak Beruang dan Puteri Salju bersamaan.
“Aku. Penjual buah yang tua renta.”

Puteri Salju dan Anak Beruang saling berpandangan. Keduanya berpegangan tangan, sepakat untuk tidak membukakan pintu. Mereka membiarkan pintu terus diketuk dan diketuk dan diketuk hingga …

“Anak Beruang, aku agak pusing,” kata Puteri Salju sambil memegang kepalanya.
“Puteri Salju? Kenapa, kenapa?” tanya Anak Beruang sambil menggenggam tangan Puteri Salju lebih erat.
“Aku tidak tahu, Anak Beruang, aku … aku …”

Pandangan Puteri Salju mengabur. Cahaya di sekitarnya meredup. Kepala Puteri Salju semakin berat dan tak lama kemudian ia kehilangan kesadarannya.

Anak Beruang melepaskan genggamannya lalu tertawa. Ia memandangi telapak tangannya yang beracun sambil terkikik sendiri. Lama-lama tawanya semakin jadi. Ia menelan suaranya agar tak sampai membahana dan terdengar oleh seluruh hutan.

Tunggu. TUNGGU! Alur cerita macam apa ini??? Kenapa Puteri Salju dibunuh Anak Beruang? Kenapa Anak Beruang tiba-tiba jadi kejam begini?

Di luar rumah ketujuh kurcaci, penjual buah yang tua renta belum pergi. Ternyata ia bukan nenek-nenek, tidak pula menjual apel. Ia bukan ibu tiri Puteri Salju, mengenal Puteri Salju pun tidak. Ia hanyalah penjual rujak gerobakan yang tersesat. Dari penghuni rumah ketujuh kurcacilah ia mengharap rejeki dan sekadar petunjuk jalan keluar dari hutan.

Meski si penghuni rumah tidak membukakan pintu, ia memutuskan untuk duduk-duduk saja di halamannya sambil menembang lagu Jawa diiringin angin yang bertiup sepoi-sepoi.

Seekor beruang kecil melompat-lompat, lewat di depan rumah ketujuh kurcaci. Ketika melihat penjual buah-buahan ia berseru girang, “Wow, ada buah-buahan dingin! Asyik sekali!”
“Mau beli, Dik? Silakan …” Si Penjual Rujak berdiri, siap melayani Anak Beruang.

Anak Beruang melompat-lompat menuju gerobak. Tetapi sebelum sempat memilih-milih buah, ia menyadari pemandangan aneh yang dilihatnya di dalam rumah tujuh kurcaci.

“Pak, kenapa ada anak beruang mirip aku dan gadis cantik pingsan … atau … mati …?” tanya Anak Beruang sambil mematung di depan jendela.
Si Penjual Rujak yang sejak awal tak ingin mengintip karena takut tidak sopan, melongok isi rumah. Jantungnya hampir berhenti melihat gadis manis terkapar di lantai dan seekor beruang yang sedang tertawa-tawa mengerikan.

Ke mana nenek penjual apel? Kenapa ceritanya jadi kacau? Akankah pangeran tetap datang menghidupkan Puteri Salju jika ceritanya sudah berantakan begini?

Saya yakin. Penjual rujak bukan satu-satunya yang tersesat …

beruang2
Sundea

artwork by Riezky Andhika Pradana (Kiki). Mas-mas ini mengaku sebagai lelaki kontemporer, rocker paruh waktu, jurnalis flamboyan, dan detektif partikelir. Kini ia bermukim di Yogyakarta. Sesekali Kiki dapat berubah menjadi kambing, nyamuk, bahkan macan. Aneh bukan? Untuk mengenal makhluk ajaib ini, kunjungi http://tribunrockers.blogspot.com/ atau follow akun twitternya @kikiepea.

4 comments:

Neni mengatakan...

unexpected dan rekonstruksi cerita dongeng yang baguss... :)

Sundea mengatakan...

Terimakasuuuuy ... =D

letsdietogether mengatakan...

mengingatkan saya akan cerita ghost bumps,. alur cerita kita sendiri lah yg menentukan,. "jika ingin masuk pintu sebelah kanan buka halaman 67, jika ingin masuk ke pintu sebelah kiri buka halaman 92"..
Terdengar seperti takdir memang, jalan kita yg menentukan tapi cerita sudah ada yang menuliskan Nya..

aeluroblog mengatakan...

ha3...., lucu pisan ini teh ceritanya :)