Rahasia Kontroller Bis Jerman

Bis 92 dari Leonberg menuju Stuttgart, Jerman, memperlambat lajunya. Seorang laki-laki berjaket hitam bangkit dari tempat duduknya kemudian berdiri di sebelah supir. Ketika laki-laki itu bercakap-cakap dengan Pak Supir, Martin Richter, kakak ipar saya yang tadinya duduk berhadapan dengan lelaki tersebut, pindah ke dekat saya.


“Saya barusan melakukan percakapan yang menarik dengan dia,” kata Martin.
“Oh, ya? Memangnya kalian ngobrol apa?” tanya saya.
“Ternyata dia kontroller bis ini.”
“Kontroller itu apa?”



Kontroller bertugas memeriksa apakah penumpang naik bis dengan tiket atau tidak. Menariknya, mereka tak berseragam dan justru menyamar sebagai penumpang biasa. Cara kerja mereka pun mirip detektif; mengamati secara diam-diam atau memancing dengan obrolan yang tampaknya casual.

“Terus kenapa dia bilang-bilang ke kamu kalau dia kontroller?” tanya saya kepada Martin.
Martin angkat bahu.

Siang itu, keluarga besar saya berjalan-jalan dengan bis. Ketika gerombolan keluarga saya memasuki bis, kontroller langsung melancarkan aksinya. Ia duduk di dekat Martin dan mulai mengajaknya mengobrol. Mungkin ketika tahu kami mengikuti prosedur secara tertib dan Martin tampak cukup bersahabat untuk dicurhati, si kontroller membuka rahasianya. Setelah itu Martin dan kontroller tampak seperti teman lama.

“Profesi kontroller umum di bis-bis begini, ya, Martin?” tanya saya.
“Iya. Tapi kita biasanya nggak tahu yang mana kontroller di antara penumpang. Lucunya lagi, biasanya badan mereka besar-besar. Mungkin supaya fisik mereka cukup kuat kalau sampai ada apa-apa,” papar Martin sambil tersenyum.
“Hehehehe. Iya juga, ya. Kamu tanya nggak siapa nama kontroller tadi?”
Martin menggeleng.
“Boleh nggak, ya, saya wawancara dia?”
“Sebaiknya jangan. Tadi pun dia sudah cukup terbuka sama saya. Nggak semua orang di sini suka ditanya-tanya seperti itu.”
“Oh, begitu, ya? Hehehe. Baiklah …”

Saya mengamati dan memotret sang kontroller diam-diam. Dari belakang. Supaya wajahnya tetap menjadi rahasia. Selang beberapa waktu kemudian, seorang perempuan bertubuh besar naik ke dalam bis. Si kontroller tampak bercakap-cakap dengan perempuan itu.


“Martin, kontroller itu ada yang perempuan, nggak?” tanya saya.
“Bisa saja,” sahut Martin.

Perempuan itu mengenakan baju hitam. Ketika Sang Man in Black turun dari bis, apakah Mbak ini agen rahasia selanjutnya …?

Martin dan anaknya, Tiara, keponakan saya

Sundea

2 comments:

Rie mengatakan...

Abis dr Jerman, De? Atau msh di sana?

Sundea mengatakan...

Udah di Indonesia, Rie, makanya udah bisa ngaplot dengan tenang dan lancar lagi ... hehehe ...