“Halo, Cuaca Hari Ini Cerah, ya …”

Di perjalanan dari Borma ke rumah Dea, Teh Pucuk Harum ketemu sama Ale-ale. Pucuk Harum nggak pernah kenal sama Ale-ale. Tapi karena mereka sama-sama minuman dan warna kemasannya mirip, Pucuk Harum yakin kalo Ale-ale itu sodaranya. 


Pucuk Harum pengen nyapa Ale-ale, tapi keliatannya Ale-ale nggak begitu ramah. Jadi Pucuk Harum mikir, nyari-nyari topik pembicaraan yang cukup enak buat intro.

“Halo, cuaca hari ini cerah, ya,” sapa Pucuk Harum. Dia suka baca di buku-buku, kalo ‘cuaca cerah’ itu bahan yang bagus untuk ngebuka pembicaraan.
Ale-ale diem aja. Nggak tau nggak denger atau emang nggak mau nyautin Pucuk Harum.
Susu Bayi di sebelah Pucuk Harum tampak kasian ngeliat Pucuk Harum dicuekin. Jadi dia yang nyautin, “Lumayan cerah. Tapi liat, di sisi sana mendung, lho …”
“Oh, iya, ya …” tanggep Pucuk Harum sambil meratiin sisi yang dibilang Susu Bayi. Sebetulnya dari tadi Pucuk Harum nggak terlalu meratiin cuaca. Kata-katanya sekadar basa-basi buat ngebuka percakapan.
“Siapa nama kamu?” tanya Susu Bayi.
“Pucuk Harum. Kamu?”
“Susu Bayi.”



Setelah itu, Pucuk Harum jadi ngobrol sama Susu Bayi. Mereka nggak lagi meratiin langit dan cuaca hari itu. Nggak penting lagi hari itu cerah atau mendung. Yang mereka tau, ternyata mereka bisa jadi akrab dengan gampangnya.

“Aku kira kita nggak akan nyambung. Kita kan beda banget,” kata Pucuk Harum.
“Nggak juga, kali. Kita sama-sama dikemas di dalem botol,” kata Susu.
“Oh, iya, ya …”
“Selain itu, kamu sadar nggak kalau teh dicampur susu rasanya enak?”
“Hahaha … oh, iya.”

Karena Teh Pucuk Harum punyanya Dea dan Susu punya bayi di sebelah Dea, kedua minuman itu nggak bisa eksperimen saling mencampur. Tapi mereka berdua percaya kalo mereka cocok. Ngobrol-ngobrol dan yakin sama itu udah cukup untuk mereka berdua.

“Kayaknya Si Dea sebentar lagi turun. Kamu turun di mana?” tanya Teh Pucuk Harum ke Susu pas liat Dea udah ngerogoh-rogoh saku buat ngambil ongkos.
“Aku masih jauh.”
“Ooo … berarti kita nggak bisa barengan, ya,” kata Teh Pucuk Harum.
“Kita udah barengan. Di angkot ini.”
“Ah, iya. Hahaha ...”

Teh Pucuk Harum ngeliat Si Ale-ale yang masih acuh tak acuh. Dia belum tau sebenernya Ale-ale sodaranya ato bukan. Tapi udah nggak penting juga. Sama nggak pentingnya sama kondisi cuaca yang sekadar jadi pembuka pembicaraan.

“Kiri, Pak …” Dea nyetop angkot.
“Aku duluan, ya,” pamit Teh Pucuk Harum ke Susu.
“Iya. Ati-ati,” saut Si Susu.
Teh Pucuk Harum tadinya mau pamit ke Ale-ale juga, cuma nggak jadi.

Waktu Dea turun dari angkot, ujan mulai turun rintik-rintik. Buat Dea, kali itu cuaca jadi penting meskipun nggak jadi topik pembicaraan Dea sama siapa-siapa. Dea ngegenggam botol Teh Pucuk Harum, masang capuchon jaket, terus lari-lari pulang. Untung rumah Dea udah deket.

Kadang kita bicara hal-hal yang nggak penting. Kadang yang penting justru nggak perlu dibicarain …

Sundea

2 comments:

tadob mengatakan...

hahaha... gue suka banget crita ini de.

teh pucuk harum kesukaan lo kalo ketemu sama teh botol kesukaan gue mungkin berantem kali ya? soalnya kan mereka saingan. lol.

Sundea mengatakan...

Belum tentu. Siapa tau malah akrab. Yang saingan kan pengusahanya, bukan tehnya =D