#Editorstory Windy Ariestanty

fotoyangbakaldiaplot Di dunia perbukuan, nama Windy Ariestanty sudah tidak asing lagi. Selain editor senior Gagasmedia, ia juga menulis banyak buku dan aktif di berbagai kegiatan literasi. Ketika deadline menjadi sesuatu yang menakutkan, ia justru mencandunya. Kok bisa?

Simak obrolan kami … ;)





Mbak Windy, cerita, dong, mulai nulis dari kapan?
Dari SD saya sudah aktif mengisi majalah dinding dan majalah sekolah. Itu terus berlangsung sampai kuliah. Saya belajar jurnalistik dan menulis dari ekskul jurnalistik di sekolah dan kampus. Hobi dan ketertarikan saya dari dulu menulis, menggambar, membaca, dan teater. Tapi yang benar-benar didalami, menulis dan membaca.

Kuliahnya jurnalistik?
Dulu kuliahnya Administrasi Negara, jurusan kebijakan publik.

Nah. Kalau jadi editor dari kapan? Mulainya gimana?
Sejak tahun 2005. Awalnya karena melihat ada lowongan di milis pasar buku, lalu saya berkirim lamaran, itu tepat setelah lulus. Jadi ada tiga lamaran yang saya layangkan ke tiga media berbeda: koran, majalah, dan penerbitan. Ketiganya memanggil saya, tapi tampaknya dadu yang dilempar membuka sisi pada Gagasmedia, jadilah saya di sini, sebagai editor. Sebenarnya saya nggak pede jadi editor.

Kenapa?
Jadi editor itu menurut saya membutuhkan jam menulis yang tinggi dulu karena pekerjaannya membongkar, menjahit, dan bahkan menemukan sesuatu yang awalnya tidak dilihat penulis untuk dimunculkan. Konsep ideal saya sewaktu kuliah adalah bila mau menjadi editor andal maka harus tahu dulu cara menulis yang baik. Makanya selama sekolah saya belajar menulis yang baik. Saya tidak pernah sekolah menulis atau ikut pelajaran jurnalistik formal, semuanya saya pelajari secara otodidak karena sedari awal saya ingin jadi penulis. Lalu, kalau ingin menjadi penulis yang baik maka saya pun harus paham editorial yang baik. Jadi, bayangan saya adalah karier saya akan dimulai dengan menjadi jurnalis, lalu editor, lalu redaktur pelaksana, lalu pemred, dan nantinya, saya hanya ingin jadi penulis saja tanpa embel-embel lain. Yes, I have been keeping that plan since I was in the college. Well, itu konsep ideal saya dan tentu saja tidak berlaku untuk orang lain.

Terus begitu langsung jadi editor gimana Mbak Windy ngejalaninnya?
Semasa kuliah untungnya saya sudah bekerja sebagai jurnalis di sebuah portal berita online berskala nasional. Bekerja sebagai wartawan yang setiap hari harus mengirimkan minimal dua berita, lalu disambi kuliah, tentunya mengajarkan saya untuk sangat pandai bermain-main dengan deadline. Deadline is my bestfriend. Saya mencandunya.

Wuooow. Orang takut sama deadline, dia malah nyandu. Dari taun 2005 sampe sekarang, gimana Mbak Windy ngeliat karier Mbak Windy sendiri?
Saya pikir, dari rencana karier yang saya buat, semua telah tercapai. Bahkan lebih cepat dari dugaan saya.      

Terus mimpi terbesar Mbak Windy apa?
Jadi penulis 100% dan keliling dunia. Benar-benar hanya jadi penulis tanpa embel-embel lain, sambil berjalan, sambil menulis. :p

Gimana biasanya proses pengolahan naskah kalo udah dioper dari penulis ke editor?
Tergantung editornya. Kalau di Gagas-Bukune, ya naskah dibaca dan dipelajari. Dilihat tema dan penulisannya. Apakah diperlukan revisi atau tidak. Mana bagian yang bekerja-mana yang belum bekerja. Yang sudah benar dipertahankan, yang kurang maksimal dibicarakan dan didiskusikan dengan penulisnya. Apa yang harus kita lakukan agar bagian tersebut bisa maksimal. Bila editan sudah final, tetap penting meminta penulis memeriksa ulang dan menyetujui hasil akhir editan tersebut. Yang utama, pertahankan yang sudah benar, perbaiki yang kurang tepat, dan jangan sampai membuat yang sudah benar menjadi salah karena malas.

Apa pengalaman yang paling seru selama jadi editor?
Hahahaha. Banyak! Saking banyaknya saya sampai bikin #editorstory di twitter. Mulai dari 'penulis' yang menelepon menceritakan kisahnya dan berpikir saya yang akan menuliskan ceritanya, sampai calon penulis yang mengancam bunuh diri kalau saya tidak melayani emailnya. Tapi pada dasarnya, saya selalu melihat sebuah naskah itu sebagai mata pelajaran baru. Setiap naskah memiliki tantangannya. Ada yang bikin senewen, ada yang saking bagusnya bikin kita larut dan pengin nangis. Ada yang bikin kita merasa bangga waktu lihat penulis yang kita kenal kemampuan menulisnya meningkat.

Kalau yang paling pilu apa pengalamannya?
Nggak ada yang lebih menyedihkan sekaligus menyebalkan daripada file editan hilang!!! Udah capek-capek ngedit dan ternyata karena satu dan lain hal, misal masalah komputer, naskah hasil editan itu lenyap sehingga harus mulai mengedit dari awal. Uuuugh! Kesalnya amit-amit ini! Dan yang paling menyakitkan adalah ketika penulis menyalahkan editor bila pembaca memberikan feedback ke tulisan mereka. Berkilah kepada pembaca itu adalah kesalahan editor karena tidak jeli.

Gimana perasaan Mbak Windy pas liat naskah hasil editan Mbak Windy terbit?
Senang dan deg-degan :) Senang karena dia akan bertemu pembaca. Deg-degan karena menunggu reaksi dari pembaca. Apakah mereka menyukainya? Apakah mereka menangkap apa yang ingin disampaikan?

Selain ngedit Mbak Windy kan nulis buku juga. Kalo ada di posisi penulis yang ngoper naskah ke editor rasanya gimana? Sepercaya apa sama editornya?
Menyerahkan naskah ke editor itu membutuhkan kepercayaan sedari awal karena ini proses dimana kepercayaan ditanam dan dibangun. Jadi, tentu saja saya percaya bahwa kami bisa menjadi tim yang baik. Percaya bukan berarti take it granted. Bukan. Tapi, saling menjaga. Masing-masing dari kami bisa saja melakukan kelalaian agar bisa dihindari atau dikurangi, maka kerja sama yang baik perlu. Menjadi mata untuk satu sama lain penting.

Btw, Mbak, kan minggu ini Salamatahari temanya estafet. Setuju nggak kalau naskah dibilang “tongkat estafet” yang dioper dari penulis ke editor dan penerbitan?
Hm... menurut saya ini bukan tongkat estafet. Kalau tongkat estafet kan setelah diberikan ke pelari berikutnya, pelari yang lama tak lagi terlibat. Hanya menunggu.

Kalau disuruh bikin analoginya, menurut Mbak Windy naskah itu seperti apa?
Naskah buat saya seperti bayi yang dikandung penulis. Dia memilih rumah sakit/rumah bersalinnya (penerbit), lalu penerbit menunjuk editor sebagai bidannya. Dalam proses melahirkan yang alami, seorang bidan bertugas meyakinkan ibu bahwa ia pasti bisa melahirkan bayi yang sehat dan cantik. Proses melahirkan yang alami meminta kesabaran ekstra. Bisa berjam-jam. Sama seperti naskah yang diberikan ke penerbit. Agar naskah ini lahir dengan baik, maka penulis dan editor bekerja sama dalam proses pengeditan. Saat melahirkannya tiba, kita tahu ini hasil kerja keras bersama dimana kepercayaan terhadap satu sama lain ditanamkan. Ini kerja sama yang panjang. Bukan sekadar mengoper tongkat. Tapi membangun dan menanamkan kepercayaan.
I see. Terus finishnya di mana kalo menurut Mbak Windy?
Secara kasat mata orang akan melihat finish adalah ketika naskah itu terbit. Hadir ke tangan pembaca dalam bentuk buku. Tapi buat saya, ini proses tanpa akhir. Bukankah tak ada kata usai untuk menjadi 'orang tua'? Hanya saja fungsi dan perannya berbeda. Penulis-editor harus merelakan 'anak' mereka tumbuh besar di tangan pembaca. Tugas mereka berikutnya, belajar menerima feedback dari pembaca. :) 

Terakhir. Kalau ada yang mau “melahirkan” naskahnya dan pengen milih Gagasmedia sebagai rumah bersalin, caranya gimana?
Ada di website gagas. Bisa dilihat di http://www.gagasmedia.net/
Nah, Teman-teman, sedang “mengandung” naskah dan ingin “melahirkan”? Silakan hubungi “rumah bersalin” Gagasmedia. Siapa tahu bayimu dapat dilahirkan di sana. Jangan biarkan si bayi terlalu lama tinggal dalam kandungan lalu gugur …

Sukses, ya, Mbak Windy, semoga tercapai cita-citanya dan semoga semangatnya menular kepada teman-teman yang membaca artikel ini ;)


Sundea

2 comments:

ketty mengatakan...

Link gagasmedianya kurang satu huruf. :)

Sundea mengatakan...

Udah diperbaiki. Ayo, ayo, klik lagi. Makasih koreksinya, ya ... =)