Stickman

review lagu Minimal sind3ntosca

Ketika saya sedang menyiram bunga, dari kejauhan tampak sebentuk stickman melompat-lompat menuju kebun saya. Kakinya panjang. Langkahnya lebar-lebar. Seluruh garis yang membentuk tubuhnya sama kurusnya dengan tangkai bunga-bunga di kebun saya. Secara menakjubkan ia melompati pagar dan tiba-tiba sudah berdiri persis di hadapan saya.

ilustrasinyah


 

“Hai, namaku Minimal,” stickman itu memperkenalkan diri tanpa diminta.
“Aku Dea. Iya, kamu memang sangat minimalis,” sahut saya lagi.
Minimal – stickman itu – tertawa-tawa menanggapi saya. Saya mengamatinya. Makhluk ini tidak punya wajah. Tidak punya rongga pernafasan. Bagaimana mungkin ia bisa tertawa begitu lepas?
“Akhir-akhir ini cuacanya tidak terlalu bagus, ya,” kata Minimal. Apa yang ia katakan berbanding terbalik dengan nada suaranya yang ringan dan riang.
“Hmmm … ya,” tanggap saya sambil mengamati bunga-bunga yang mengering di kebun saya.
“Ayo kita rayakan.”
“Hah? Dirayakan? Gila apa kamu?”
“Iya. Kita rayakan. Aku ini kan minimalis. Jadi banyak sekali yang bisa aku rayakan.”
“…”

“Perayaan versi aku berbanding terbalik dengan logika ekonomi. Semakin sedikit yang kumiliki, semakin mudah aku merayakan sesuatu. Yuk, yuk,” Minimal mengulurkan tangan kurusnya yang tidak berjari. Ajakannya begitu menarik. Seperti tersihir saya menggenggam tangannya dan ikut melompat-lompat sambil menikmati nyanyiannya.

Melayu tanaman, hujan tak kunjung datang
Banyak pohon yang tumbang, desaku jadi gersang
sembunyi mentari, kapan muncul kembali
kasihan oh hidupku, kedinginan selalu

Kutahu kutak bisa jago matematika
minimal aku tahu berhitung dari satu
tak mengerti kimia, jauh dari fisika
kini malah kutahu kutak suka mereka

Minimal menyanyi dengan nada yang diulang-ulang seperti permainan anak-anak. Saya rasa itulah yang membuat lagu tersebut jadi riang, apapun cerita yang disampaikannya. Saya jadi ingat kata-kata dalam beberapa permainan anak-anak yang seharusnya cukup sedih, bahkan bisa dikatakan tragis. Misalnya dalam permainan “Aminah” : “Aminah, Megasari, Megabeti, is death …” atau dalam “Ular Naga”: “Umpan yang lezat, itulah yang dicari, ini dianya yang terbelakang …”

Namun permainan adalah permaianan. Apa yang diucapkan sebagai bagian permainan tak membunuh kegembiraan yang menjadi esensi bermain itu sendiri. Intuisi anak-anak selalu menyadarinya. Saya lalu melirik Minimal. Makhluk itu mirip gambar anak-anak. Anggota tubuhnya serba tidak lengkap.
Sepertinya Minimal tahu apa yang ada di pikiran saya. Jadi ia melanjutkan nyanyiannya.

Tak mungkin semua kan sempurna
minimal kutahu itu biasa
Tak mungkin semua kan terbuka
rahasia alam terkunci juga

Tak mungkin semua berkacamata
minimal aku bisa membaca
Tak mungkin semua pintar bicara
minimal aku tahu rasanya

… nadanya jadi berbeda sedikit, bergeser menjadi refrain. Atau bagian awal itu tadi yang sebetulnya justru refrain?

“Kamu kok berpikir terus, sih? Senang-senang sajalah, Dea, minimal sekarang. Jadilah minimal supaya kamu kaya raya,” kata Minimal.
“Aneh rasanya nggak berpikir kalau ada di sebelah makhluk seperti kamu,” tanggap saya.
Minimal tertawa lagi. Lagi-lagi saya berpikir. Bagaimana makhluk tanpa syaraf-syaraf ini bisa tertawa begitu lepas?

Minimal aku belajar sesuatu, minimal aku selalu mencoba
Minimal aku selalu tersenyum

Mungkin saya harus belajar lebih rendah hati untuk menjadi seminimal dirinya. Dia makhluk yang tak berwajah. Tapi karena itulah setiap kurva yang dibentuknya dengan mudah menjadi senyuman. Ia kaya raya karena setiap berkat kecil yang diterimanya disyukurinya seperti sebongkah berlian. Sekarang saya mengerti mengapa prinsip hidup Minimal berbanding terbalik dengan logika ekonomi. Tanpa saya sadari, saya jadi tersenyum.

“Nah, begitu, dong. Aku pergi lagi, ya, Dea.”
“Mau ke mana?” tanya saya.
Minimal aku bisa nonton Sinchan di hari Minggu, dendang Minimal riang.
Saya tertawa.

Selanjutnya Minimal melompat-lompat lagi. Meninggalkan saya berikut sisa-sisa dirinya yang mengendap menjadi kesan dan pertanyaan mengenai inti dari “memiliki segalanya”.

Teman saya yang ajaib itu kurus seperti tongkat. Saya ingat persis rasanya menggenggam lengannya yang minimalis.

Tunggu dulu. Tongkat. Beberapa penyihir menggenggam dan mengayunkan tongkat mereka untuk mengabulkan aneka permintaan.

Saya jadi tersadar. Bukankah itu berarti tongkat yang kurus minimalis adalah penghantar menuju berbagai keajaiban?

Sundea

sintos Minimal adalah salah satu lagu sind3ntosca yang dapat didengarkan di sini. Belum ada versi lengkap yang dapat diunduh kecuali sebagai RBT. Hanya beranggotakan Jalu seorang dan didukung oleh teman-temannya, sind3ntosca masih terus berkarya hingga saat ini. Doakan saja musisi yang populer dengan Kepompong-nya segera merilis album lagi. Kunjungi karya-karyanya di http://www.reverbnation.com/sind3ntosca

0 comments: