Anak Singa Tak Berbulu Domba

Anak Singa tidur di bawah pohon rindang, dekat kumpulan domba. Ia tampak lelah dan marah. Tapi Anak Beruang tak pernah takut pada singa marah, apa lagi jika singa itu masih anak-anak. Maka ia menggganggunya.

“Hei, Anak Singa, Anak Singa, Anak Singa … bangun …,” Anak Beruang mengguncang-guncang Si Anak Singa.
Anak Singa mengerjap. Tampak kesal karena diganggu Anak Beruang.

01



“Selamat tahun baruuuu,” sapa Anak Beruang sambil duduk di hadapan Si Anak Singa.
“Ada apa?!” tanya Anak Singa galak.
“Nggak ada apa-apa. Cuma mau bilang ‘selamat tahun baru’ saja,” sahut Anak Beruang.
“Kamu ini kurang kerjaan, ya, membangunkan singa tidur cuma untuk bilang begitu?!” tanya Si Anak Singa kesal.
“Kamu yang kurang kerjaan di siang yang cerah begini sempat-sempatnya tidur,” balas Anak Beruang.

Setelah dibangunkan Anak Beruang, Anak Singa tak dapat tidur lagi. Ia menatap lurus ke arah kawanan domba yang sedang merumput. Anak Beruang menduga, sebentar lagi Anak Singa akan menerkam mereka. Ternyata tidak.

“Anak Beruang, pernah tahu Anak Singa yang selalu bermain bersama anak-anak domba, tidak?” tanya Anak Singa tiba-tiba.
Anak Beruang menggeleng.
“Kamu tahu kalau aku separuh domba, separuh singa?” tanya Anak Singa lagi.
“Hah? Mana bagian dombanya?” tanya Anak Beruang sambil meneliti seluruh tubuh Anak Singa.
“Justru itu …,” lalu Anak Singa mulai bercerita.

Ketika masih lebih kecil lagi, Anak Singa sering bermain sendiri. Ia belum tahu cara mencari mangsa, dan belum tahu apa makanannya. Ibu dan Ayahnya selalu pulang membawa bangkai. Anak Singa tak tahu bangkai-bangkai itu sebelumnya pernah hidup.

Pada suatu hari, ia bermain-main ke padang rumput dan bertemu anak-anak domba. Anak-anak domba pun belum tahu binatang apa yang mungkin memangsanya. Maka, ketika bertemu singa yang masih anak-anak juga mereka bermain bersama.

“Kata ibu kami, beberapa binatang di hutan ini berbahaya,” kata salah satu Anak Domba ketika itu.
“Iya. Tapi pasti binatang itu tidak seperti kamu,” tambah Anak Domba lainnya.
“Iya. Pasti tidak seperti aku. Aku tidak berbahaya sama sekali,” ujar Anak Singa.

Kebiasaan bermain bersama terus berlanjut. Persahabatan yang erat terjalin antara Anak Singa dan anak-anak domba. Mereka sama-sama suka minum air sungai dan makan buah-buahan di pinggir sungai. Mereka suka berguling-guling di rumput, bermain kejar-kejaran hingga pada suatu ketika orangtua mereka datang …

“ANAK-ANAK! Cepat ke sini! Berbahaya!” seru Ibu Domba panik.
“Bahaya apanya, Bu?” tanya anak-anak domba heran.

Ibu Domba cepat-cepat menggiring anak-anaknya menjauh, meninggalkan Anak Singa yang kebingungan. Dari kejauhan, Anak Singa melihat Ibu Domba menasehati anak-anaknya. Anak Singa juga melihat teman-temannya berusaha membantah dan memberikan penjelasan, tapi Ibu Domba tak mau mendengar. Anak Singa merasa sedih. Dalam hati ia bertanya-tanya. Apa dia dianggap sebagai binatang yang berbahaya? Tapi kenapa?

Dengan lunglai Anak Singa berbalik arah. Ternyata tepat di belakangnya telah berdiri Ibu dan Bapak Singa.
“Kamu sudah mulai belajar mencari mangsa sendiri, ya? Pintar sekali, Nak,” puji Bapak Singa.
Anak Singa tidak mengerti.

“Ada berapa domba yang berhasil kau tangkap?” tanya Ibu Singa.
“Tangkap? Mereka teman-temanku,” sahut Anak Singa.
“Teman-teman? Mereka makanan kita. Kamu harus belajar menerkamnya!” tegas Bapak Singa.
“Aku tidak mau,” Anak Singa ingin menangis.
“Kamu harus. Sini kuajari,” tiba-tiba Ibu Singa berlari ke arah kerumunan domba.
Anak Singa mengejarnya, “Jangan Ibu, jangan …”

Kedua singa itu lalu berkejar-kejaran. Ibu Singa mengejar kumpulan domba yang kocar kacir ketakutan, sementara Anak Singa mengejar ibunya. Ketika Ibu Singa hampir mendapatkan seekor domba, dengan cepat Anak Singa menyerang ibunya. Menggigit kakinya agar tak bisa berlari. Menerjangnya agar menjauh dari kawanan domba.

“Aku akan menerkam siapapun yang melukai teman-temanku!” aum Anak Singa dengan ganas.
“Apa-apaan kamu ini?! Sok pahlawan! Kamu tahu biasanya kamu makan binatang-binatang seperti ini juga?!” hardik Ibu Singa.
Anak Singa terkesiap.
“Ketahuilah. Naturmu adalah binatang buas. Pemangsa daging! Kamu harus belajar menerkam mereka!” tegas Ibu Singa. Setelah itu ia dan Bapak Singa berlalu.

Sepeninggal orangtuanya, Anak Singa menjadi bingung. Biar bagaimanapun ia tak mungkin memangsa domba. Jika naturnya memakan teman, ia memilih tak usah menjadi singa saja. Ia akan belajar makan buah-buahan.

“Kamu bisa makan madu. Aku juga makan madu,” kata Anak Beruang setelah Anak Singa menyudahi ceritanya.
“Terima kasih. Nanti aku coba,” sahut Anak Singa.
“Apakah kamu lelah dan marah gara-gara kejadian yang kamu ceritakan barusan?” tanya Anak Beruang.
“Aku selalu lelah dan marah melihat singa yang akan menerkam domba. Semua singa menganggapku pahlawan kesiangan. Padahal bukan itu masalahnya. Ketika mereka akan menerkam domba, aku merasa akan diterkam juga. Bermain dengan domba membuat sebagian diriku adalah domba,” tutur Anak Singa.
“Mungkin itu naturmu,” komentar Anak Beruang.
“Mungkin juga,” sahut Anak Singa.

Anak Singa kembali meletakkan kepalanya di atas tanah. Anak Beruang jadi menyesal mengganggunya. Seharusnya dalam kelelahan dan kemarahan yang seperti itu, Anak Beruang membiarkannya tidur beristirahat.

“Apakah kamu punya teman yang menyalahi naturmu yang seharusnya, Anak Beruang?” tanya Anak Singa.
Anak Beruang mencoba mengingat-ingat. Tapi ia malah jadi bertanya, teman seperti apa yang menyalahi naturnya?
Anak Singa tak menunggu jawaban Anak Beruang. Ia kembali memejamkan mata dan segera tertidur kembali. Dalam beristirahat pun kelelahannya seperti tak akan reda. Merasa simpati, Anak Beruang membelai-belai Anak Singa dengan sayang.

“Hei, lihat, ada anak-anak lagi!” seru seekor Anak Domba ketika melihat Anak Beruang.
“Ssst … hati-hati, siapa tahu dia binatang yang berbahaya. Ingat kata Ibu,” pesan Anak Domba yang lainnya.

02

Anak Beruang tak pernah tahu ia termasuk binatang berbahaya atau tidak.

Sementara anak-anak domba berbisik-bisik, Anak Beruang beranjak pulang. Ia meninggalkan sebotol madunya untuk Anak Singa, semoga ia suka.

Hukum mempunyai aturan yang berlaku umum, tapi ada saja satu-dua makhluk yang harus diadili dengan aturan yang lain.

Anak Beruang pulang dengan langkah yang terasa berat. Apakah berpikir mana yang adil dan mana yang tidak membuatnya harus dihukum oleh kesadaran bahwa ia tidak sungguh berpijak?

Sundea
Artwork Fransis. Koko-koko serba bisa yang eksentrik dan penuh kejutan ini mengejutkan Dea juga dengan artwork yang dia bikin untuk Anak Beruang edisi ini. Bukan gambar biasa melainkan… apa menurutmu ? Hehe …
Dea nggak akan banyak menjelaskan. Liat gimana ajaibnya dia di http://digitalpisang.blogspot.com/ ;)

Coba tanya kenapa dia ngefans sekali sama pisang …

0 comments: