The Moonster

Tanggal 10 Desember 2011 lalu, terjadi gerhana bulan total. Bumi melintas tepat di antara bulan dan matahari sehingga bulan tertutup oleh bayangan. Lapisan berdebu yang mengelilingi bumi menyebabkan terpantulnya sinar matahari, memenuhi kegelapan di balik bumi dengan warna. Dari beberapa wilayah di dunia, selama 51 menit kita dapat melihat perubahan warna bulan dari oranye sampai merah darah. Bulan pun tampak lebih besar karena ilusi bulan.

Paragraf di atas merupakan penjelasan ilmiah mengenai fenomena alam yang langka tersebut. Tetapi ada versi lain cerita ini lalu yang mungkin tak akan dipercaya ilmuwan mana pun … ;)

semesta



“Hai, Sun, malam ini aku akan berubah menjadi Moonster,” kata Moon.
“Aaaah … jangan … nanti kamu jadi menakutkan,” protes Sun.
“Aku akan bengkak, memar, lalu berdarah-darah,” sambung Moon tanpa menghiraukan kata-kata Sun.
“Aku akan menjaga kamu. Tak boleh ada yang melukai kamu sampai bengkak dan berdarah-darah.”
“Tenang saja. Menjadi Moonster bukan sesuatu yang buruk, kok. Aku justru ingin cepat-cepat menjadi Moonster,” kata Moon riang.
“Kamu sudah gila, ya? Moonster itu mengerikan, tahu. Bisa-bisa orang-orang Earth ketakutan melihat kamu!”
Moon tidak menjawab.

Sekitar pukul 19-an WIB, Earth menggelinding perlahan-lahan ke antara Moon dan Sun.

“Aku sebentar lagi menjadi Moonster!”
“Aku tak akan membiarkannya!” cegah Sun.

Earth terus menggelinding lalu membenteng di antara Moon dan Sun. Diam saja di sana seperti angkot ngetem.

earth

“Permisi, Earth, aku tidak bisa melihat Moon! Aku harus menjaga dia!” Sun berusaha mengusir Earth dari hadapannya.
“Memangnya kenapa? Moon kan sudah tua, dia bisa menjaga dirinya sendiri,” kata Earth.
“Kalau tidak aku jaga, dia bisa berubah menjadi Moonster. Dia akan berdarah-darah, menjadi bengkak …”
“Ini sudah. Aku sedang menontonnya berdarah-darah dan menjadi bengkak,” kata Earth tenang-tenang saja.
“Apa?! Awas, Earth, aku harus menolongnya!” Sun menjadi panik.
“Sebentar dulu kenapa, sih? Sedang seru, nih. Sepertinya orang-orang di permukaanku juga suka melihat Moon menjadi Moonster …”
“Moonster tidak membuat mereka takut? Ia tidak menerkam siapa-siapa?” tanya Sun.
“Tidak, tuh. Ia justru kelihatan cantik sekali. Moon memesona banyak orang ketika berubah menjadi Moonster.”

themoonster

“Apakah Moon kelihatan kesakitan?” tanya Sun.
“Apakah kamu kesakitan ketika dari permukaanku kamu terlihat sebagai sunset?” Earth balik bertanya.
“Tidak,” sahut Sun.
“Yah, begitulah kira-kira. Moonster baik-baik saja, kok. Jangan khawatir.”

Setelah 51 menit berlalu, Earth menggelinding lagi. Moon kembali terlihat seperti sediakala. Sun meneliti seluruh tubuh Moon. Tidak ada sisa luka, memar, atau darah-darah di tubuhnya. Moon pun kelihatan ceria-ceria saja.

“Sudah aku bilang kan? Menjadi Moonster bukan sesuatu yang buruk,” kata Moon.
“Kok bisa?” tanya Sun.
“Karena kemoonsteran-ku hanya ilusi. Aku terlihat seperti Moonster karena bayang-bayang Earth dan cahayamu. Sebetulnya aku tidak sungguh-sungguh memar dan terluka. Lagi pula, Moonster tidak selalu mengerikan. Hari ini aku malah terlihat lebih cantik daripada biasanya.”
“Kenapa kamu tidak menjelaskan dari awal? Bikin cemas saja!”
“Selamat memasuki edisi ke-100. Ini hadiah kejutan.”
“Hah?”
“Zine-zine-an online Salamatahari memasuki edisi ke-100 Kamis ini. Karena agak susah memberi hadiah pada sebuah zine-zine-an, kuputuskan memberi hadiah kejutan untuk kamunya saja – The Sun. Kamu adalah sumber inspirasi zine-zine-an itu. Dan sekarang tanggal sepuluh. Sepuluh dikali sepuluh sama dengan seratus.”
“Membuat teman cemas itu bukan hadiah!”
Cheer up, dong, Sayang …”

Keesokan harinya, berbagai media mencatat fenomena alam tersebut. Tetapi Sun datang sendiri kepada Dea dan menceritakan keisengan Moon sambil marah-marah. Dea tertawa terpingkal-pingkal.

thesun

“Menurut kamu itu lucu, ya?” tanya Sun masih dengan sinarnya yang garang.
“Iyalah. Moon kreatif juga. Dan Earth ternyata cuek sekali. Aku yakin mereka sudah kong kali kong. Kalau sepuluh kali sepuluh sama dengan seratus, kong kali kong sama dengan berapa hayo?”
Sun terlihat sebal. Ia berlalu tanpa menjawab. Selanjutnya, hari itu hujan turun deras hingga malam.

Dea menuliskan cerita ini untuk www.salamatahari.com edisi ke-100. Sesungguhnya hadiah kejutan Moon untuk Sun adalah hadiah kejutan untuk zine-zine-an online ini.

Sun, maafkan kami, ya. Semoga kamu jangan marah lama-lama. Terima kasih karena telah menjadi sumber kasih, perlindungan, dan energi untuk kami semua. Sesungguhnya kamu sendiri adalah hadiah sepanjang masa bagi kami. Semoga lain kali kami dapat memberi hadiah yang membuatmu senang.

Cerita ini bukan metafor. Segalanya terjadi begini adanya dengan tokoh-tokoh yang memang dirinya sendiri.

Sundea


cropsunbuburbayi

gambar bubur Sun dirampok dari sini

0 comments: