Keping-keping Kerang Pancasila

Sila ke empat: Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.

Setelah bermusyawarah, keempat posting Salamatahari yang awalnya kebingungan menguntai diri dalam sebuah tema akhirnya bersepakat: “Kita adalah keping-keping kerang mutiara Pancasila!”

Mengapa keping-keping kerang mutiara Pancasila? Karena jika mengandung butir-butir mutiara, berarti setiap sila Pancasila adalah kepingan kerang. Kepingan kerang itu mendasari posting-posting yang hadir di Salamatahari edisi ini. 

Minggu ini hadir karya Handi Wirman: “Tak Berakar, Tak Berpucuk” sebagai penafsiran sila pertama, curhat “senior” seputar mabim sebagai penafsiran sila ke dua, Aan Mansyur dan gerakan #15harimenulisdiblog yang digalangnya sebagai penafsiran sila ke tiga, inti matahari sebagai penafsiran sila ke empat, dan acara Dheg Dheg Plat di Rumah Buku sebagai penafsiran sila ke lima.

Meski masih banyak yang belum terungkap seputar sejarah Hari Kesaktian Pancasila (1 Oktober), raya ya raya saja. Mari kita pesta tiram, Teman-teman =D

Semoga Pancasila akan sakti dan menjaga bumi pertiwi dari sakit. Tidak ada salahnya berdoa dengan tulus dan harap.

Semoga keping-keping kerang ini menghasilkan mutiara-mutiara hikmatmu sendiri.

Salamatahari, semogaselaluhangat dan cerah,

Sundea

 

Turut berduka cita atas berpulangnya Steve Jobs co-founder Apple menjelang Hari Keseimbangan

0 comments: