Tragedi … di … di … di …

-Galeri Soemardja, ITB, 11-17 September 2011-

Pameran Foto 25 Tahun Setelah Chernobyl

Seperempat abad yang lalu, tepatnya 26 April 1986, meledaklah berita mengenai ledakan nuklir di Chernobyl, Ukraina. Kontaminasinya meluas hingga ke Belarus dan Rusia. Uni Soviet butuh dua hari untuk memaparkan informasi mengenai ledakan tersebut kepada publik. Kendati begitu, tak ada penjelasan yang betul-betul terperinci mengenai ledakan itu kecuali klaim adanya sebuah eksperimen.

Lama kelamaan berita tersebut membasi, lengser dari halaman-halaman koran dan berganti dengan berita lain yang lebih baru. Tetapi peristiwa itu sendiri tak pernah beku pun tak pernah basi. Ia bergerak sebagai tragedi yang konsisten. Dampaknya menggerogoti lingkungan dan masyarakat setempat dengan keganasan yang tak kunjung sudah.






Jurnalis foto Robert Knoth dan penulis Antoinette de Jong menangkap jejak panjang yang ditinggalkan peristiwa Chernobyl. Dikurasi Malcolm Smith, Knoth dan Jong menghasilkan lebih dari dua puluh seri foto yang bercerita. Suram dan duka. 

Di dua sisi dinding yang membentuk sudut, berjajar foto-foto Annya Pesenko. Sejak dilahirkan, gadis berusia 21 tahun itu telah menderita tumor otak. Pada salah satu sisi dinding, digambarkan bagaimana ia tetap bergembira ria di tengah sakit yang dideritanya. Foto-foto kronologi hidupnya dipampang di dinding, berlawanan dengan arah jarum jam. Pada foto selanjutnya, tampak Annya setelah tumornya diangkat. Alih-alih membaik, sebelah tubuhnya malah mati rasa. Beberapa tahun kemudian tumornya justru muncul kembali. Foto masa ceria Annya yang dibuat berwarna sangat kontras dengan foto kesakitan Annya yang dibuat hitam putih. Tragedi menusuk dengan tajam seperti belati preman Tanah Abang. 


“Yang tragi s itu selalu terlihat artistik,” ujar Heru Hikayat, salah seorang kurator seni rupa. Dea menangguk-angguk saja sambil mengerlingi foto-foto lain di ruang galeri dengan ngeri. Seri foto Annya hanya satu dari antara sekian tragedi yang disisakan peristiwa Chernobyl. Ada bioskop yang ditutup 900 tahun karena sedemikian tercemarnya, bayi dengan perut terburai dan organ rusak, sungai yang merenggut keceriaan anak-anak karena kontaminasinya …


Bioskop Pripyat

“Menurut Mas Heru, foto-fotonya bagus, nggak?” tanya Dea.
“Yah … ya … bagus, sih ...”


Mas Heru dan foto penderita kanker prostat

Gema membuat kita tahu bahwa ada seruan di tempat tertentu. Melalui gema, kita merayap mengenali suara sumber, lalu menelaah apa yang menyebabkan si sumber suara berseru-seru. Barangkali pameran ini pun demikian. Knoth dan Jong menangkap gema, menelusuri sumbernya, kemudian menceritakan perjalanan panjang sebuah tragedi kepada kita semua. Sadarkah kamu bahwa sesungguhnya gema itu sendiri sepi dan dramatis?

Berbagai suara memantul-mantul di dalam kepala Dea. Tetapi di pintu Galeri Soemardja, Si Popo yang tengil membuat simpulan yang mematikan gema:

Tulisannya: Beberes Goblok !

Dea tersenyum.

Sore itu, tong sampah galeri nyaris kosong. Mungkin orang-orang lupa membuang. Atau mungkin memang memutuskan untuk tidak membuang sampah di sana. Atau membuang sampah tak pada tempatnya?

Dea menepuk permukaan tong sampah. Gema yang halus menceritakan kesepiannya …

Sundea

0 comments: