Apa Guna Bulan Sabit di Langit?

Pada suatu malam, Anak Beruang duduk-duduk di atas atap rumahnya sambil minum teh madu hangat. Bintang-bintang tampak sibuk berkerlap-kerlip sendiri-sendiri. Hanya Bulan Sabit yang tampak termenung sambil menyinari rumput-rumput dengan cahayanya yang sendu.

resized

“Halo, Bulan Sabit,” sapa Anak Beruang.
“Halo, Anak Beruang,” sahut Bulan Sabit tanpa mengalihkan cahayanya dari rerumputan.
“Iya, rumputnya memang sudah tinggi. Besok Ayah dan aku akan menyabitnya,” kata Anak Beruang.
“Seharusnya aku membantu kalian.”
“Tidak usah repot-repot. Kami sudah punya sabit, kok, kamu tenang-tenang saja di langit sana,” ujar Anak Beruang sambil tersenyum.
“Aku merasa tidak berguna, Anak Beruang. Sebagai sabit seharusnya aku menyabit rumput, tapi rumput tidak tumbuh di langit.”



“Kamu kan bulan, jadi di atas sana kamu bisa bersinar.”
“Sinarku tidak terang-terang amat.”
“Hmmm,” Anak Beruang berpikir, mencoba mencari-cari guna Bulan Sabit. Tapi ternyata ia tak berhasil menemukannya.
“Aku tidak tahu apa fungsimu. Tapi aku tetap menyukai kamu,” kata Anak Beruang akhirnya.
Bulan Sabit menanggapi pernyataan Anak Beruang dengan senyum.

Malam itu Anak Beruang dan Bulan Sabit duduk-duduk saja sambil mengobrol. Anak Beruang bercerita tentang hari-harinya, Bulan Sabit juga. Anak Beruang bercerita tentang enaknya teh madu yang ia minum, dan Bulan Sabit bercerita tentang jus pelangi.

“Seperti apa rasa jus pelangi?” tanya Anak Beruang penasaran.
“Seperti permen. Enak sekali. Apa lagi kalau pelangi berhasil menyentuh tebu dan menyerap gulanya.”
“Wooow …”
“Kadang-kadang pelangi berhasil menyentuh rumput dan membuatnya jadi terlihat berwarna-warni. Lucu, apalagi … kalau rumput itu sudah tinggi … dan harus disabit.” Tiba-tiba cahaya Bulan Sabit meredup lagi.

Anak Beruang jadi ikut sedih. Sebagai teman, ia memahami perasaan Bulan Sabit dan ingin sekali membantunya. Tetapi bagaimana caranya? Ia tak mungkin membawa bulan sabit turun ke bumi untuk memangkas rumput. Ia pun tak mungkin menanam rumput di langit karena tidak ada tanah di sana.

Bintang-bintang masih tampak sibuk sendiri. Sepertinya mereka sama sekali tak tahu Bulan Sabit sedang sedih.

“Halo, Bintang-bintang,” sapa Anak Beruang.
“Oh, Halo Anak Beruang,” sahut sebuah bintang kuning sambil masih repot mengurus sinarnya yang memercik ke segala arah.
“Kalian tahu, tidak, kalau Bulan Sabit sedang sedih?” tanya Anak Beruang.
“Kalau tidak repot seperti kami, kenapa dia harus sedih?” bintang berwarna merah balik bertanya.
“Sebetulnya apa, sih, yang membuat kalian repot sekali?” tanya Anak Beruang.
“Begini, Anak Beruang, sinar kami tumbuh terus dan terus dan terus. Kami harus menggulung-gulungnya agar tidak terlalu panjang atau mencari cara untuk membagi-bagikannya secara efektif,” jelas sebuah bintang bewarna biru.
“HEI! Kenapa kalian tidak menyabitnya saja, Bintang-bintang?” tanya Anak Beruang seraya melirik Bulan Sabit.
Bulan Sabit langsung mengerti, “Iya, Bintang-bintang. Aku akan membantu kalian menyabit cahaya.”

Sebentar kemudian, Bulan Sabit sudah sibuk menyabiti sinar bintang yang panjang-panjang. Anak Beruang menangkapi sinar yang jatuh ke atap, kemudian menyimpannya di dalam gelas teh madunya yang sudah kosong. Bintang-bintang merasa senang dan ringan. Bulan Sabit pun jadi bahagia karena tahu apa yang harus disabitnya.

“Terima kasih, Anak Beruang,” sahut Bulan Sabit dan bintang-bintang hampir bersamaan.
“Sama-sama,” sahut Anak Beruang senang.

Anak Beruang turun dari atap dan masuk kembali ke dalam rumah. Ayah Beruang yang sedang duduk-duduk melihat gelas Anak Beruang yang bersinar-sinar.

“Itu apa, Anak Beruang?”
“Ini cahaya bintang yang sudah panjang, Ayah, baru disabit oleh bulan sabit” jawab Anak Beruang riang.
“Sekarang cahaya itu mau kamu bawa ke mana?” tanya Ayah Beruang.
“Aku simpan di dalam kotak kesayanganku di kamar,” sahut Anak Beruang.
“Ayah punya usul yang lebih bagus,” kata Ayah Beruang seraya menggiring Anak Beruang keluar rumah, ke dekat rumput-rumput tinggi yang akan mereka pangkas keesokan harinya.

“Lepaskan cahaya itu di sini, Anak Beruang,” suruh Ayah Beruang.
“Tapi cahaya ini tidak mungkin kembali ke bintang kan, Ayah?”
“Memang tidak. Hanya saja, apapun yang berasal dari kebebasan harus kembali menemukan kebebasannya.”

Anak Beruang memandangi cahaya bintang yang bersinar-sinar di dalam gelasnya. Cahaya seharusnya bercahaya, seperti bulan sabit yang seharusnya menyabit. Segala sesuatu harus kembali kepada hakikat dan fungsinya di tempat yang tepat. Maka, Anak Beruang memutuskan untuk menuruti kata-kata ayahnya.

Cahaya bintang yang berwarna-warni terbang-terbang, tapi tak jauh dari langkah kaki. Mereka memantik ujung-ujung rumput dan berpendar di antara kegelapan. Di antara lebat tetumbuhan, mereka menjadi kelebat sinar yang menghidupkan.

“Lihat, mereka menjadi kunang-kunang,” kata Ayah Beruang.
Anak Beruang terpesona. Ternyata melihat cahaya bintang yang menjadi kunang-kunang jauh lebih menyenangkan daripada menjadi pemilik cahaya bintang.

Di langit, Bulan Sabit masih sibuk menyabiti cahaya bintang yang selalu tumbuh semakin panjang. Jika kebetulan kamu membaca cerita ini pada malam hari ketika bulan sedang sabit,

… berlarilah keluar rumah untuk menyapa kunang-kunang.

Sundea

Artwork : masih ingat Rhoma Irama ? Di tengah kesibukannya ia masih sempat menggambar buat Salamatahari. Terimakasih, ya =D

1 comments:

Aldriana A. Amir mengatakan...

sukaaa cerita ini! ada malam, bintang, bulan, dan anak beruang.. :D