Senja Tak Makan Tuan

Karena senja lapang seperti kebaikan hati, ini adalah kesekian kalinya saya menulis tentang senja. Semoga kamu tidak bosan ;)


Senja adalah sesuatu yang klasik dan bersahaja. Ia adalah pagi yang dimatangkan perjalanan, kemudian membuat simpulan yang tidak bertele-tele. Ia adalah moment. Tidak panjang. Tetapi mendengarkan ceritanya akan membawamu pada keteduhan yang panjang sekali. 

“Hai, Dea,” sapa senja pada suatu hari.
“Hai senja, sini, sini, duduk dekat Dea,” kata saya sambil bergeser, berbagi tempat duduk dengan senja. 



Senja duduk di sebelah saya. Lalu kami menjadi teman sebangku.

“Menari, yuk,” ajaknya tiba-tiba.
“Hah? Euhhh … kan kita baru duduk,” sahut saya.
“Nggak apa-apa. Sebetulnya menari itu soal bagaimana kamu merespon kehidupan, kok,” ujar senja. Arif dan teduh.
“Jadinya bagaimana?”
“Begini, ya …,” lalu senja mulai menari.

Tarian pertamanya adalah sore yang cerah dan hangat. Judulnya Menari. Seperti yang sudah saya bilang tadi, senja adalah pagi yang dimatangkan perjalanan. Karenanya, pada tarian itu saya mendapati fajar yang sudah menemukan makna pada apa yang disebutnya harapan. Hati saya jadi ikut menari-nari. Ditiup angin dan diwarnai oleh pelangi yang disentuhkan tarian Menari ke telapak tangan saya.

“Kan? Kamu bisa tetap menari sambil duduk-duduk,” kata senja.
Saya tersenyum sambil mengangguk.

Waktu bergerak hati-hati dan senja perlahan memerah. Kali itu ia menarikan sesuatu yang lebih sendu, judulnya Sing About You. Senja bercerita tentang kehilangan, sama seperti hari yang akan kehilangan matahari sebentar lagi. Hati saya sedih, tapi entah mengapa saya masih bisa menari.

“Kenapa Dea malah menari, ya?” tanya saya.
“Menari adalah bagaimana kamu merespon kehidupan, Dea, apapun peristiwanya,” ungkap senja. Melalui nada suaranya, saya tahu ia tak menyangkal kesedihannya. Dan menari adalah pilihan tanggapan yang membuat kesedihan itu menjelma menjadi sesuatu yang manis. Untuk dirinya sendiri. Untuk saya. Untuk kita semua.

Sesudah merah senja luruh, menjelmalah warna-warna yang lebih teduh. Merah masih menggaris di kaki cakrawala, tetapi sebagian besar angkasa merah muda-ungu dan biru. Pada tarian berikutnya, senja menari sendiri. Sunyi dan kontemplatif. Judulnya Do.

Dalam Bahasa Inggris, “do” artinya melakukan. Pada tarian tersebut senja mereview apa yang dilakukan sepanjang perjalanan hari dengan perasaan yang telah tertata. Di dalam tangga nada standar, “do” adalah nada terrendah sekaligus nada tertinggi. Sama seperti pagi dan senja. Saya tersenyum.

“Kenapa kamu senyum-senyum?” tanya senja.
“Memangnya kenapa? Boleh kan?” saya balik bertanya.
“Kamu mau ikut menari lagi, ya? Yuk …”

Saya tahu kami sudah tiba di penghujung waktu senja. Langit sudah gelap. Warnanya sudah tua sekali. Angin pergantian bertiup. Bulan dan bintang mulai terbit. Dan senja yang singkat mohon diri dalam Berhenti Sejenak.

… ada suatu pemberhentian
dari pencarian yang menjebak
duduklah barang sejenak
mari berhenti … endapkan mimpi …

“Menjebak?” tanya saya.
“Sekedar supaya kamu lebih teliti ketika mengejar mimpi,” sahut senja.

Saya mencerna kalimat senja. Dan sebelum saya sempat menyimpulkan apa-apa, senja sudah pergi. Malam membentang di atas kepala saya. Saya tidak punya teman sebangku lagi, karena malam kelihatannya tidak tertarik duduk di sebelah saya.

“Jaga dirimu baik-baik, ya, senja, sampai bertemu lain kali,” bisik saya. Kemudian saya berjalan pulang.
Senja tak punya banyak waktu. Tetapi ia menitipkan kearifan pada sepanjang waktu, termasuk pada waktu yang akan saya tempuh sampai saya mencapai usia senja suatu saat nanti. Senja tenang dan teduh. Ia tidak melahap apa-apa lagi, justru mengolah dengan cermat apa yang sudah dilahap pagi dan siang.

Senja tak makan tuan.

Ia tidak mengabdi pada siapa-siapa, karenanya ia tak perlu berontak terhadap apa-apa …
Sundea

Teman Sebangku adalah duo yang terdiri dari Doly Harahap (gitar nylon) dan Sarita (vokal). Menari Bersama yang direview di artikel ini adalah EP pertama mereka. Terdiri dari empat buah lagu yang menyamankan hati. Kunjungi mereka di www.myspace.com/temansebangku. FYI, Doly dan Sarita bukan kakek dan nenek yang fotonya terpampang di cover EP ini, lho … hehehehe …

4 comments:

blueismycolour mengatakan...

hangat,manis dan penuh kesan walau sesaat. Persis seperti senja. Sukaa ^^

Sundea mengatakan...

Cari, deh, albumnya, Neng, lagu2nya manis2 =)

MALU mengatakan...

suka banget sama yang ini:

Senja tak makan tuan..

haha. tapi sayang, Pagar makan tanaman, rumah makan padang, bahkan taman makam pahlawan..

Dea.. dea.. kamu memangterlalu. :D

Sundea mengatakan...

MAKANya kalo di lagu Iwan Fals idup itu siklus rantai makanan =p

Senja tak makan tuan, tapi senja makan asam garam dunia, Rizki Ramadhan ... hehehe ...