Cerita Abah Aly

fotoabahbytulus Namanya Sudianto Aly, tetapi ia lebih dikenal sebagai “Abah Aly”. Bagi murid-murid arsitektur Universitas Parahyangan, dosen senior yang telah mengajar sejak tahun 1976 ini pasti sudah tidak asing lagi.
Pada suatu siang menjelang sore, ditemani Tulus, mantan mahasiswa Abah, Dea menemui Abah Aly di kampus Unpar. Sungguh menyenangkan mendengarkan cerita perjalanan hidup dan kebijaksanaan yang dipungutnya dari berbagai pengalaman. Ketenangannya seperti air sungai. Tidak heran jika Tulus mengaku belajar banyak sekali dari dosen yang juga terampil melukis dan taichi ini. 


Teman-teman, mungkin kita pun dapat memungut sesuatu, setidaknya melalui wawancara ini ;)




Abah, Dea udah sering denger tentang Abah, lho, tapi baru sekarang ketemunya … hehehe … Abah itu kegiatannya apa aja, sih?
Utamanya ya mengajar di sini (arsitektur Unpar). Sampingannya ya ngajar taichi juga, melukis dan ngajar melukis kecil-kecilan …

Abah emang seneng ngajar, ya?
Sebetulnya, setelah kita menguasai sesuatu yang untuk mencapainya butuh waktu yang sangat panjang, kita jadi ingin orang lain menguasainya juga dalam waktu yang lebih cepat. Keinginan itulah yang nggak habis-habis. Lagian nggak ada gunanya ilmu disimpan-simpan. Walaupun sedikit, ya diberikan saja supaya bisa digunakan lebih lanjut. Ada pemisahan situasi antara jaman Abah waktu kecil dulu sama anak jaman sekarang. Jadi, cara belajar anak jaman sekarang juga nggak bisa disamakan dengan cara Abah belajar jaman dulu. Sisa waktu yang Abah masih punya sekarang ini akan Abah selesaikan dengan mencari cara melakukan inovasi belajar, agar apa yang sudah kita capai bertahun-tahun dapat kita kembalikan kepada yang berhak, generasi muda.

Kelas Abah memang dikenal penuh kejutan. Abah pernah mengajar dengan menggunakan musik India, memakai jam bersuara ayam untuk tanda waktu, menyuruh mahasiswanya menggambar garis yang rapi lalu meremas-remas kertasnya. “Itu supaya mahasiswa belajar melihat garis ilusif dan kedalaman,” jelas Abah. Seru, ya?

Selama Abah ngajar, apa yang paling berkesan?
Kalau di kampus ada dua hal. Satu, jika anak yang dahulu kelihatannya bermasalah kembali setelah sukses. Dua, ada yang dulunya semua lancar tapi nggak kembali dan denger-denger kurang berhasil. Biasanya yang kembali memang yang sudah berhasil. 

Kalau dari ngajar taichi yang berkesan apa, Bah?
Abah ngajar orang tua, dari rumah ke rumah. Biasanya setelah sekian lama belajar, pasti Abah tanya pengaruhnya. Ada yang tadinya suka jatuh, setelah belajar taichi jadi jarang jatuh. Ada yang dulunya suka pusing, setelah taichi jarang pusing. Ada yang dulunya kurang dari dua bulan pasti kena pilek, setelah taichi jadi jarang pilek …

Katanya Abah ngajar taichi di Rumah Buku (sebuah perpustakaan dan toko buku di Hegarmanah 52, Bandung) juga, ya?
Iya, setiap hari Senin sama Kamis jam lima sore. Kalau sama yang di sana, Abah belum sempat tanya manfaatnya. Tapi pernah waktu Abah nggak datang mereka latihan sendiri. Berarti mereka pasti melihat ada manfaatnya.

Wehehehe … iya, ya. Btw, apa, sih, yang bikin Abah tertarik belajar taichi?
Abah memang suka olahraga. Tapi dulu waktu awal-awal belajar taichi, Abah heran kenapa badan malah sakit semua? Pasti ada yang salah. Jadi Abah cari-carilah. Terus dapet di Amazon.com buku. Ada seorang professor, orang Amerika, dosen perguruan tinggi yang ahli pengobatan Cina, ahli melukis lukisan Cina, ahli menulis kaligrafi, ahli sastra, dan ahli taichi. Dialah yang bilang kalau taichi itu mendekatkan banyak hal sekaligus. Taichi itu begitu halusnya dan bukan sekedar olahraga. Dalam taichi prinsipnya tidak ada anggota tubuh yang bergerak sendiri-sendiri. Satu bergerak, semua bergerak. Kalau satu diam, semua harus diam. Dengan taichi orang bersenyawa dengan alam.

Wow. Harus komvak, ya. Terus Abah belajar dari professor itu?
Belum selesai ceritanya. Jadi akhirnya Abah belajar dari guru taichi di Cina, daftar di internet. Dan ternyata, yang ngajar Abah juga orang Amerika juga, muridnya professor itu. Pelajarannya, tiga hari selama tiga jam Abah disuruh berdiri saja. Setelah belajar berdiri, belajar bernafas yang benar. Baru sesudah itu belajar berdiri disertai bernafas yang benar. Yang terakhir cuma sejam. Tapi sesudahnya disuruh dilakukan sesering mungkin.

Gyahahaha … kayak di film-film kungfu.
Iya. Setelah itu baru Abah belajar taichi dari mana-mana. Tapi dua hal itu sangat esensial. Pada dasarnya, belajar apapun harus belajar dari guru yang tepat yang dapat memberikan intisarinya tanpa ada yang disembunyikan. Guru yang baik sesungguhnya mencari murid yang sungguh-sungguh ingin belajar. Sebaliknya, murid yang ingin belajar juga pontang-panting mencari guru yang sesungguhnya ingin mengajar. Dan ternyata kesempatan untuk mempertemukan keduanya itu langka. Tapi itu harus dicari, kalau diam saja nggak akan ketemu. Dan Abah nggak percaya luck. Jika keduanya dipertemukan, ada sebuah grand design yang Abah percaya.

Nah. Sekarang tentang arsitektur. Abah tertarik belajar arsitektur karena apa?
Semula sih Abah sama sekali nggak ada bayangan. Awalnya ingin jadi pelukis, mau belajar seni. Tapi sama orangtua nggak dikasih. Semua orangtua ingin anaknya jadi dokter toh? Jadi akhirnya ya udah, Abah masuk arsitektur saja sambil melukis diam-diam. Abah pikir Abah mau cepat-cepat selesai saja supaya bisa melukis. Dulu kuliah paling cepat sembilan tahun, ceritanya Abah mau bikin perubahan. Dalam waktu 5,5 tahun Abah sudah selesai. Tapi ternyata sumbatnya terlalu tebal, Abah masih harus menunggu yang lain yang masih mengantri lulus.

Jadinya gimana, dong?
Nah, Abah lulus enam tahun. Dalam setengah tahun itu , sambil menunggu ujian, Abah cari pengalaman. Abah melamar pekerjaan di biro. Diterima. Tau-tau, baru juga dua minggu, biro itu mau buka cabang di Jakarta. Abah langsung disuruh jadi Kepala Cabang di Jakarta.

Wow … yo’i banget …
Abah kaget. Tapi atasan Abah bilang, “Saya sudah berpikir mau buka cabang selama setahun. Dan dalam dua minggu ini kelihatan kalau kamu cocok. Kamu jangan ragu.” Jadi berangkatlah Abah. Proyek mula-mula Abah itu salah satu gedung Rumah Sakit Ibnu Sina di Padang. Abah bikin itu sama-sama Insinyur A.M Luthfi. Waktu itu dia sudah arsitek terkenal dan dosen Abah, lagi. Jadi setengah tahun itu sangat berharga buat Abah. Dan sesudah itu, Abah ngelamar kerja nggak pernah pakai ijazah. Ijazahnya cuma buat dikirim ke orangtua.

Hahahaha ….
… dan sesudah kirim ijazah itu, Abah bilang ke orangtua Abah kalau Abah mau menetap di Bandung, sebetulnya supaya kegiatan melukisnya nggak ketahuan orangtua. Ya sudah, habis itu Abah di sini, berkeluarga, ngajar, melukis, bikin pameran, sudah lima kali, yang terakhir tahun 1999.

Karya-karya Abah modelnya begimana, sih?
Oret-oret begitulah …

Hmmm… tapi oret-oretnya Abah mah pasti lainlah … hehehe …
Mungkin … lukisan Abah agak aneh karena bahan-bahannya bukan bahan-bahan yang bisa ditemukan di art shop. Dulu waktu SMA Abah melukis kan nggak dimodali. Jadi Abah bikin bahan-bahan sendiri. Dulu Abah bikin kanvas dari karung terigu dicat tebal-tebal. Abah juga pakai lem kayu lapis, gypsum untuk membuat gigi palsu, soalnya itu bisa jadi semacam akrilik juga.

Hahaha … terus keliatan banget, nggak, perbedaan bahan itu di lukisannya?
Kelihatan. Orang kalau lihat, terutama yang belajar pakem-pakem melukis, pasti bertanya-tanya. Ini pakai cat apa? Kok bisa begini? Pernah juga ada kritikus dari Perancis melihat dan bilang belum pernah lihat lukisan seperti itu. Di lukisan yang dilihat kritikus itu, kanvasnya juga berlubang.

Hah? Sengaja berlubang apa nggak sengaja?
Sengaja. Waktu kritikus itu tanya, Abah bilang, lukisan yang sesungguhnya ada di balik lubang itu. Ini hanya untuk menuntun pengamat untuk melihat karya yang sesungguhnya, di balik lubang itu.

lukisanabah
Space in Circular Movement (1995)


Wahahaha … keren. Sekarang tentang Ramadhan, nih, Bah. Apa, sih, arti bulan Ramadhan buat Abah?
Di bulan Ramadhan kan kita melakukan semacam penyucian. Artinya dari segi biologis sebenarnya setiap orang perlu membersihkan kembali organ-organ tubuhnya. Puasa ini merupakan cara yang paling efektif karena dilakukan dengan cara yang tepat. Berhenti makan memberi waktu istirahat lambung. Ada hadiznya, jangan makan sampai perut sekeras kening. Lambung itu kecil. Tapi punya kemampuan melar. Makanya kita makan secukupnya saja, biar lambung kita tidak terlalu berat kerjanya. Terbukti orang yang melakukan itu secara umum jauh lebih sehat daripada orang yang makan terus menerus. Ketika berpuasa, pembakaran energi juga hanya dari nafas. Itu terasa sekali. Sudah pernah mensyukuri nikmat Tuhan karena nafas itu gratis? 

Sekarang bersyukurnyaaa … hehehehe … 

Hari sudah petang. Waktu berbuka puasa sudah dekat. Obrolan seru itu pun kami akhiri dengan cerita jalan-jalan Abah antara lain ke Bangka, Makassar, Trenggalek, dan lain sebagainya. Hidup sepertinya begitu menyenangkan buat Abah Aly. Mengalir dan sejuk seperti air. Jika berbicara mengenai usinda atau usia indah, Dea rasa Abahlah surat terbukanya.

“Jadi betul, nggak, Bah, Cia Ling itu artinya usia indah?” tanya Dea. “Cia itu … bisa macam-macam, bergantung bagaimana menuliskannya. Tapi Ling … mungkin semacam mencapai kearifan yang sempurna, ya, sudah hampir sempurna meskipun tidak ada manusia yang sempurna,” ungkapnya.
Dea tersenyum. Tanpa dia sadari, melalui kalimat itu ia bercermin tanpa menjadi Narsisius …

Abah dan Tulus

Sundea

Kunjungi Abah Aly di sini

Gambar lukisan Abah Aly “Space In Circular Movement” diambil dari sini

Terima kasih banyak buat Tulus yang udah ngenalin dan nemenin Dea ke Abah plus motretin Abah Aly =D

2 comments:

BeluBelloBelle mengatakan...

Seindah kalian yang berbincang satu sama lain(siapa pun itu yang meliputnya)...kebayang suasananya diselesaikan ma komen.

Tulisan ini indah Dea :)

Sundea mengatakan...

Kalo kamu kenal Abah Aly-nya, Belle, pasti lebih berasa lagi. Orangnya neduhin banget =)